Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 24 Februari 2026, Bergerak di Rentang Rp16.750–Rp16.900
digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak pada kisaran Rp16.750–Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan Selasa (24/2/2026). Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sentimen domestik dan global, termasuk defisit fiskal, kebijakan suku bunga, serta dinamika pasar internasional.
Baca Juga:
Rupiah Berpotensi Terkoreksi Usai Penguatan Tajam
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS setelah rilis data pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah ekspektasi serta keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif Presiden Donald Trump.
Baca Juga:Namun, ia menilai penguatan rupiah yang cukup signifikan pada perdagangan kemarin berisiko memicu aksi ambil untung atau profit taking pada hari ini.
"Rupiah pada Selasa (24/2/2026) diperkirakan bergerak pada rentang Rp16.750–Rp16.900 per dolar AS," ujarnya.
Dengan minimnya rilis data ekonomi baru, baik dari dalam maupun luar negeri, pelaku pasar diperkirakan kembali mencermati sentimen domestik yang sebelumnya membayangi pasar.
Ke depan, investor akan fokus pada isu defisit anggaran, prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), serta sentimen pasar ekuitas terkait Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Dari faktor eksternal, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan tarif Trump dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga:Tim analis BMI, unit dari Fitch Solutions, menyatakan kekhawatiran investor terhadap kebijakan pemerintah berpotensi terus menekan nilai tukar rupiah, terutama terkait defisit fiskal dan independensi bank sentral.
Selain itu, rupiah berada dalam tekanan setelah MSCI memperingatkan potensi penurunan peringkat Indonesia dan Moody's menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
"Risiko kebijakan pemerintah domestik menghadirkan ancaman terbesar bagi mata uang dengan membuat investor merasa tidak nyaman," tulis BMI dalam risetnya.
BMI juga menilai pertumbuhan ekspor yang lebih lemah dan sentimen risk-off global dapat menambah tekanan depresiasi pada rupiah sepanjang 2026. Pergerakan nilai tukar dinilai menjadi faktor utama dalam menentukan kecepatan dan besaran pelonggaran suku bunga BI.
"Meningkatnya risiko defisit fiskal dan potensi ketegangan perdagangan yang kembali muncul dapat mengakibatkan mata uang melemah di bawah Rp17.500 per dolar AS. Hal itu memaksa BI mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," tulisnya.
Baca Juga:Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diperkirakan tetap fluktuatif, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan domestik dan global secara ketat.
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Defisit Fiskal Jadi Tekanan Utama
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Investor Waspadai Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Level Terburuk dalam 6 Tahun
Rupiah Diprediksi Bergerak Volatil di Kisaran Rp17.600–Rp17.700 per Dolar AS