Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rentang Sempit Rp16.280–Rp16.330 Hari Ini
Baca Juga:
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, rupiah ditutup di level Rp16.292, melemah tipis 6 poin dibanding hari sebelumnya.
Pengamat Mata Uang & Komoditas Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyebut perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pidato sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed), di tengah perbedaan pandangan internal terkait rencana penurunan suku bunga acuan.
Isu pergantian ketua The Fed turut memengaruhi sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump disebut mencari kandidat yang pro-penurunan bunga, sementara masa jabatan Jerome Powell baru berakhir pertengahan 2026, meski ada kabar ia akan mundur lebih awal.
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%–6%. Strategi yang tepat dibutuhkan agar dua mesin utama penggerak ekonomi — sektor pemerintah dan swasta — dapat berjalan selaras.
"Selama ini, kedua mesin penggerak ekonomi ini sering timpang. Satu berhenti, yang lain berjalan. Itu tidak cukup," ujar Ibrahim.
"Sebagai contoh, di era Presiden SBY saat harga komoditas tinggi, ekonomi banyak ditopang sektor swasta dan utang pemerintah menurun. Sebaliknya, di era Presiden Jokowi, peran pemerintah sangat dominan, terutama saat pandemi."
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi dan investasi (PMTB) masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia, menyumbang sekitar 90% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada Juni 2025.
BI Perketat Aturan Pembelian Dolar AS, Rupiah Masih Tertekan
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik dan Tekanan Domestik
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Sentimen Defisit Fiskal Jadi Tekanan Utama
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Investor Waspadai Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Level Terburuk dalam 6 Tahun