Senin, 02 Maret 2026

Harga Pupuk Melambung, Bupati Tapsel Dinilai Gagal Stabilkan Harga

Amir Hamzah Harahap - Selasa, 16 November 2021 04:45 WIB
Harga Pupuk Melambung, Bupati Tapsel Dinilai Gagal Stabilkan Harga

digtara.com – Melambungnya harga pupuk subsidi dan non subsidi saat musim tanam di Kabupaten Tapanuli Selatan masih menjadi keluhan petani. Bupati Dolly Putra Parlindungan Pasaribu dinilai gagal, meskipun sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan komisi pengawasan pupuk bersubsidi, Selasa (16/11/2021).

Baca Juga:

Sebagaimana diketahui harga pupuk bersubsidi naik di beberapa tempat termasuk di Kecamatan Angkola Muara Tais hingga Rp.200 Ribu/zak. Padahal lima bulan lalu, Bupati Tapsel sudah mengeluarkan keputusan Nomor. 188.45/389/KPTS/2021 tentang Pembentukan Komisi Pembinaan dan Pengawasan Penyaluran Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Tapanuli Selatan tertanggal 09 Juni 2021 yang diketuai Sekda, Drs. Parulian Nasution yang secara khusus mengawasi dari pemerintah daerah.

Sementara, keputusan pembentukan komisi pengawasan penyaluran tersebut seharusnya menjadi perangkat untuk melindungi kelompok tani (Poktan) dalam mendapatkan pupuk subsidi di Kabupaten Tapanuli Selatan yang berjumlah 531 poktan di 14 kecamatan.

Mirisnya, Sesuai amatan digtara.com pada Penjabaran APBD Tapsel TA.2021 terdapat anggaran pengendalian dan pendistribusian perekonomian sebesar Rp.584.411.200 di Bagian Setda.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Tapanuli Selatan, Mardan Eriansyah Siregar mengungkapkan Bupati dan Komisi pengawas yang dibentuk harus sudah mewanti-wanti masalah pupuk sebelum masa tanam.

“Sudah lima bulan itu dibentuk langsung bupati, tentu itu karena sifatnya urgent dan tugasnya harus berkesinambungan dan sudah faham bagaimana menjaga harga pupuk terlebih dimusim tanam, sehingga masa tanam tidak terganggu, ” kata Mardan Eryansyah.

Mardan menyayangkan lambannya Pemkab dalam menanggapi kenaikan harga dan kelangkaan, padahal kabupaten ini memiliki luas sawah hingga 35.618,4 hektar.

Biasanya per tiga bulan atau permusim tanam setiap anggota kelompok tani mendapat 1 zak atau 50 kg, namun saat ini hanya 20 sampai 25 kg atau setengah zak.

“Saran saya, bupati harus evaluasi bersama komisi yang dibentuknya, termasuk kadis pertanian, apa penyebab mahal dan langkanya pupuk serta membuat regulasi pengawasan penyaluran yang jelas dan sinkron dengan masa tanam agar kedepannya tidak seperti ini lagi. Silahkan gunakan perangkat seperti camat, lurah serta kades untuk mencek di lapangan selain bupati juga turun langsung tanpa harus protokoler menjumpai petani dan Poktan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua komisi pembinaan dan pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi Kabupaten Tapanuli Selatan, Drs. Parulian Nasution ketika dikonfirmasi terkait kenaikan harga pupuk tersebut tidak memberikan jawaban.

Keluhan Petani

Sejumlah petani di Kecamatan Angkola Muaratais Kabupaten Tapanuli Selatan, mengeluhkan tingginya kenaikan harga pupuk, baik subsidi pemerintah maupun non subsidi. Kenaikan harga pupuk di kalangan petani ini mencapai 60 hingga 100 persen dalam sebulan terakhir.

“Mahal pupuk sekarang, macam pupuk urea yang subsidi sekarang udah 200 ribu satu zak, Ampunlah” ujar M Harahap, petani padi sawah di Desa Sipangko Kecamatan Angkola Muaratais, Kabupaten Tapanuli.

Lebih jauh M. Harahap menyampaikan, untuk pupuk urea subsidi pemerintah, biasanya mereka membeli 140 ribu rupiah per zak ukuran 50 kg ke kelompok tani, namun saat ini naik menjadi 200 ribu rupiah.

Harga pupuk non subsidi juga melambung tinggi di kalangan pengecer. Seperti Pupuk NPK Komplit naik 3 ribu rupiah per kilogram dari 13 ribu menjadi 16 ribu rupiah. Pupuk NPK dari 10 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah perkilogram. NPK naik dari 10 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah perkilogram.

Kenakan harga tertinggi terjadi pada Pupuk KCL, naik 100 persen dari 7 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah perkilogram. Sementara Pupuk Hamaphos naik dari 8 ribu rupiah menjadi 13 ribu rupiah per kilogram.

“Kenaikan harga pupuk ini rasanya tidak sesuai dengan hasil panen kami. Pupuk makin mahal sementara hasil tani kami, seperti kacang dan sayur sayuran tidak naik.” ujar Pendi Lubis petani sayur sayuran.

Selain kenaikan harga pupuk, petani juga masih mengeluhkan harga obat obatan pertanian lainnya yang naik. Seperti racun rumput dengan merek Sapu Bersih dan Sidapos naik dari 65 ribu rupiah menjadi 90 ribu rupiah per botol.

Para petani di Kecamatan Angkola Muaratais Kabupaten Tapanuli Selatan ini berharap agar pemerintah bisa mengendalikan harga pupuk sehingga petani bisa diuntungkan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Amir Hamzah Harahap
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Pemilik Pesantren di Tapanuli Selatan Dilaporkan Polisi atas Dugaan Kekerasan Seksual

Pemilik Pesantren di Tapanuli Selatan Dilaporkan Polisi atas Dugaan Kekerasan Seksual

Hajab! Ada Kepsek di Tapsel Jarang Masuk

Hajab! Ada Kepsek di Tapsel Jarang Masuk

Gagal Bangun Desa! Warga Parsalakan Tapsel Pajang Baliho Rapor Merah Kepada Kadesnya

Gagal Bangun Desa! Warga Parsalakan Tapsel Pajang Baliho Rapor Merah Kepada Kadesnya

Korwil Sayur Matinggi Gelar Olimpiade Sains Nasional dan Calistung

Korwil Sayur Matinggi Gelar Olimpiade Sains Nasional dan Calistung

495 Rumah di Padangsidimpuan Rusak-223 Rumah di Tapsel Terendam Akibat Banjir

495 Rumah di Padangsidimpuan Rusak-223 Rumah di Tapsel Terendam Akibat Banjir

Gus Irawan - Jafar Syahbuddin: Ini Kemenangan Warga Tapsel

Gus Irawan - Jafar Syahbuddin: Ini Kemenangan Warga Tapsel

Komentar
Berita Terbaru