Puncak Armuzna 2026 Agar Berjalan Efektif dan Maksimal, Petugas yang Sudah Berhaji Langsung Diberangkatkan ke Mina
digtara.com - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) menyiapkan dengan serius pelaksanaan haji 2026 utamanya saat pelaksanaan puncak haji, yang biasa disebut Armuzna; Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Salah satu pembeda dengan pelaksanaan haji-haji sebelumnya, Kemenhaj akan memberlakukan skema terbaru pada puncak haji 2026 mendatang dengan memerankan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang sudah berhaji akan langsung diberangkatkan ke Mina dan tidak mengikuti wukuf di Arafah.
Baca Juga:
- Pengelolaan Haji Harus Bersih dari Praktik Korupsi. Wamenhaj Dahnil: Tangkap Saja Siapa Pun yang Masih Berusaha Melakukan Praktik Rente dan Korupsi
- Buka TOT Fasilitator PPIH 2026. Menhaj: Petugas Haji Adalah Perpanjangan Tangan Negara dan Presiden Dalam Memberikan Pelayanan Kepada Jamaah
- Muncul Kekhawatiran Haji Khusus Tak Berangkat, Kemenhaj Pastikan Proses Pelunasan dan PK Haji Khusus Tuntas Sesuai Tenggat Saudi
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Laut sekaligus Kepala Satuan Operasi (Kasatops) Armuzna PPIH Arab Saudi 2025, Laksamana Pertama TNI Harun Arrasyid usai menjadi narasumber pada hari ke-11 Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH Arab Saudi yang digelar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (21/01/2026).
"Iya betul, rencana tahun ini agar pelayanan di Mina maksimal, oleh karena itu kita memiliki rencana bahwa petugas baik itu dari unsur linjam maupun juga dari lain-lainnya yang sudah berhaji kita akan langsung drop dari pemondokan atau hotel yang ada di Mekah menuju langsung ke Mina," ujar Harun kepada awak media.
Harun menjelaskan, pergerakan petugas yang sudah berhaji akan dilakukan bersamaan dengan pergerakan jemaah menuju Arafah. Namun, petugas tersebut langsung menuju Mina.
Baca Juga:
"Nanti berbarengan dengan jamaah-jamaah yang juga nanti bergerak menuju ke Arafah, jadi nanti petugas itu langsung bergerak ke Mina," kata dia.
Menurut Harun, skema ini diterapkan agar penyambutan dan pemantauan jemaah yang bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah hingga ke Mina dapat dilakukan secara lebih efektif.
"Tujuannya agar lebih efektif penyambutan dan pemantau jamaah yang bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan dari Muzdalifah itu menuju ke Mina sehingga diharapkan pos-pos yang nanti ditanggungjawabi oleh teman-teman kita PPIH ini bisa maksimal memberikan pemantauan, peninjauan, dan juga bantuan-bantuan yang dibutuhkan oleh jamaah kita," ujarnya.
Alumnus kampus Tebuireng, Jombang ini menekankan bahwa malam pertama di Mina, yakni malam 10 Zulhijah, merupakan fase krusial karena seluruh jemaah bergerak menuju lokasi tersebut secara bersamaan.
"Karena malam pertama itu 10 Zulhijah itu malam krusial, semua jamaah menuju ke situ sehingga berpotensi terjadi kepadatan, terjadi kelelahan, dan juga terjadi hal-hal yang bisa membuat jamaah kita membutuhkan pertolongan," tuturnya.
Oleh karena itu, menurut dia, keberadaan petugas yang sudah berhaji di pos-pos Mina dinilai lebih efektif untuk memberikan layanan dan bantuan kepada jemaah.
Baca Juga:
"Disitulah kita anggap lebih efektif nanti untuk ada pos-pos dari jamaah yang sudah berhaji atau petugas yang sudah berhaji," ujarnya.
Di hadapan ribuan petugas, Harun menegaskan bahkan ibadah haji merupakan ibadah yang istimewa. Ibadah haji membutuhkan kekuatan hati, maal (harta) dan jasad (fisik). "Kami meminta petugas bekerja serius, sungguh-sungguh, menjalankan tugas sepenuh hati. Jika kita menjalankan tugas dengan baik, melayani tamu-tamu Allah dengan kita niatkan ibadah, InsyaAllah akan mendapatkan keberkahan," tegasnya.
Sebagai informasi, Diklat PPIH Arab Saudi yang diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah berlangsung dari 10 Januari hingga 30 Januari 2026. Hingga Kamis (22/1/2026), kegiatan tersebut telah memasuki hari ke-12.
Diklat ini diikuti sekitar 1.600 petugas haji dari sembilan bidang layanan, mulai dari konsumsi, akomodasi, transportasi, kesehatan, hingga perlindungan jemaah.
Selain pembekalan teknis, para peserta juga menjalani latihan fisik bersama fasilitator TNI dan Polri serta pendidikan bahasa Arab sebagai bagian dari persiapan bertugas di Arab Saudi. (San).
Baca Juga:
Pengelolaan Haji Harus Bersih dari Praktik Korupsi. Wamenhaj Dahnil: Tangkap Saja Siapa Pun yang Masih Berusaha Melakukan Praktik Rente dan Korupsi
Buka TOT Fasilitator PPIH 2026. Menhaj: Petugas Haji Adalah Perpanjangan Tangan Negara dan Presiden Dalam Memberikan Pelayanan Kepada Jamaah
Muncul Kekhawatiran Haji Khusus Tak Berangkat, Kemenhaj Pastikan Proses Pelunasan dan PK Haji Khusus Tuntas Sesuai Tenggat Saudi
Ramai Soal Risiko Gagalnya Haji Khusus 2026, BPKH Buka Suara
Ada Alarm Serius Ribuan Jemaah Haji Khusus Gagal Berangkat, Kementeran Haji dan BPKH Harus Segera Berbenah
Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto: Investasi Danantara di Kampung Haji Makkah Diharapkan Beri Manfaat Besar Bagi Jemaah Indonesia
Pemuda di Sikka Tewas Tersengat Listrik Saat Isi Token
Dua Rumah Warga Tertimpa Pohon Tumbang Saat Hujan di Kabupaten Sikka
Kode Redeem FF Terbaru 23 Januari 2026, Klaim Bundle Asphalt, Groza Yuji, dan Sukuna
Rumah Warga Sikka Rusak Diterjang Angin Puting Beliung
Rumah Ambruk Diterpa Angin Kencang, Lansia di Manggarai Barat Terluka
Tidak Disiplin, Lima Anggota Polresta Kupang Kota Diberi Sanksi Dinas
Semua Korban Meninggal Pesawat ATR 42-500 Telah Ditemukan, Evakuasi Dipermudah Cuaca