Kisah Al Qur’an Lima Abad dari Kulit Kayu di Kabupaten Alor, Masih Terawat Rapi hingga Saat Ini
digtara.com – Ada yang unik di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain kaya akan potensi sumber daya alam dan wisata bahari, di Kabupaten Alor ada sejarah keberadaan kitab suci Al Qur’an yang saat ini berusia lima abad.
Baca Juga:
Al Qur’an yang konon berasal dari Ternate, Maluku Utara ini dibuat dari bahan kulit kayu.
Walau kulit luar Al Qur’an ini sudah tidak utuh lagi tapi kitab suci yang berisikan ayat-ayat Al Qur’an lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus kotak dari kayu ini masih sangat rapi.
Lembaran demi lembar masih utuh bertuliskan huruf Arab. Gaya tulisan tangan yang rapi dan indah menggunakan tinta berbahan alami di atas lembaran kulit kayu yang belum diketahui jenis kayunya.
Belum diketahui secara pasti kapan waktu penulisan Al Qur’an tua ini.
Saat ini Al Qur’an ini disimpan rapi oleh keturunan ke-14, Nurdin Gogo di sebuah kamar dirumahnya di Uma Fanja, Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor.
Pada tahun 1982 lalu, rumah Salim Panggo Gogo (ayah Nurdin Gogo) yakni Uma Fanja terbakar. Rumah ini merupakan pondok tempat menyimpan Al Qur’an tua tersebut.
Kebakaran menghanguskan seluruh badan dan isi rumah termasuk semua benda-benda peninggalan Iang Gogo (leluhur Nurdin Gogo) yang dibawa dari Ternate, Maluku Utara.
Tapi anehnya Al Qur’an tua tersebut tidak terbakar dan utuh sampai saat ini dalam penjagaan Nurdin Gogo, pewaris generasi ke 14 turunan Iang Gogo.
Dibawa dari Ternate, Maluku Utara
Nurdin Gogo, penjaga rumah situs Al Qur’an kuno saat ditemui dikediamannya menceritakan kalau Al Qur’an kuno ini dibawa oleh Iang Gogo dengan perahu layar yang menurut sejarah bernama ‘Tuma’ninah’ yang berarti berhenti/singgah sebentar.
Iang Gogo merantau dengan 4 saudaranya Ilyas Gogo, Djou Gogo, Boi Gogo dan Kimales Gogo dengan misi penyebaran agama Islam hingga ke Kabupaten Alor, NTT.
Pada masa kesultanan Baabullah (1500-1522 masehi) di Ternate, 5 bersaudara ini berlayar dari Ternate, Maluku Utara menggunakan perahu layar Tuma’ninah.
Mereka menyinggahi Alor untuk pertama kalinya di Vetelei di Tanjung Bota, Desa Alila.
Karena haus, mereka mencari sumber air di sekitar pantai tapi tidak menemukan.

Iang Gogo kemudian menancapkan tongkat ke pasir dan memancarkan air tawar dan sampai sekarang mata air tersebut masih ada dinamakan Fei Fanja (mata air Banda) yang terletak di Bota, Desa Alila, Kecamatan Alor Barat Laut. Kini mata air ini diberi nama mata air Banda.
Selanjutnya ke 5 bersaudara ini meneruskan perjalanan dan singgah di Tang-Tang Sekang Aimoli yang kemudian bertemu dengan Raja Baololong I atau raja Bungabali.
Mereka pun bertukar cinderamata. Kelima Gogo bersaudara memberi sebuah nekara (saat ini tersimpan di museum daerah Alor) dan raja Baololong I memberikan pisau keris khitan kepada Gogo bersaudara.
Dari tang-tang mereka berpisah dan berjanji bertemu kembali di Uma Raja di Kampung Bang Mate (sekarang Uma Pusung Rebong atau pusat kerajaan Bunga Bali) Desa Alor Besar.
Raja Baololong meminta 5 bersaudara Gogo tinggal menetap di Uma Pusung Rebong di Kampung Bang Mate.
Namun Gogo bersaudara tidak nyaman tinggal bersama Raja Baololong di Uma Pusung Rebong karena binatang piaraan raja berupa anjing dan babi berkeliaran di sekitar rumah.
Mereka pun meminta sebidang tanah dari raja dan membangun Uma Fanja (rumah Banda) yang sampai saat ini menjadi tempat penyimpanan Al Qur’an tua dari kulit kayu tersebut.
Berbekal Al Qur’an ini, Gogo bersaudara menyebarkan agama Islam mulai dari mengaji, sholat, dzikir dan perilaku hidup damai.
Karena jumlah pengikut makin banyak maka Gogo bersaudara meminta sebidang tanah kepada raja Baololong untuk membangun tempat mengaji dan pusat kegiatan Islami di kampung Bang Mate.
Raja menyetujui dan dibangunlah Ropo (rumah panggung kecil khas Ternate) yang menjadi cikal bakal masjid Baabussholah Desa Alor Besar.
Gogo bersaudara kemudian merasa rakyat di kampung Bang Bate sudah memahami ajaran islam sehingga melanjutkan pelayaran. Namun rencana ini ditolak raja Baololong.
Raja pun menikahkan putri Bui Haki (putri bangsawan saudara raja) dengan Iang Gogo dan kemudian menetap di Alor.
Ilyas Gogo kemudian pergi ke Tuabang-Pandai, Jou Gogo ke Baranusa dan Bo8li Gogo ke Solor (Flores Timur). Sementara adik bungsu mereka, Kimales Gogo tinggal bersama Iang Gogo namun kemudian ke arah timur dan tinggal di Lerabaing, Alor Barat Daya.
Dari hasil pernikahan Iang Gogo dan Putri Bui Baki terlahirlah 14 generasi pewaris Al Qur’an tua kulit kayu yakni Tahionong Gogo, Boi Raja Tahi, Ramanehe Boi, Boi Kae Rama, Pati Raja Boi, Salama Kae Pati, Aboi Juga Salama, Taluti Aboi, Nae Rae Taluti, Gati Angin Nae, Ola Gati, Panggo Ola, Salim Panggo Gogo dan Nurdin Gogo.
Pewarisnya Seperti Pahlawan
Tahun 2011 lalu, digelar festival Legu Gam Moluko Kie Raha di Ternate, Maluku Utara.
Sultan Mudaffar Syah (sultan Ternate) mengirimkan delegasi ke Alor besar yakni wakil sultan, sekretaris sultan, wakil walikota Ternate dan imam mesjid Kedaton Ternate.
Mereka ingin ‘meminjam’ mushaf Al Qur’an kulit kayu untuk dipamerkan.
Nurdin Gogo dikawal Sulaiman Tulimau (imam mesjid Baabussolah Alor Besar) membawa mushaf Al Qur’an tua kulit kayu ke Ternate, Maluku Utara.
Di Ternate, mushaf Al Qur’an dan pewarisnya diperlakukan seperti pahlawan yang telah lama merantau dan baru pulang dari medan laga.
Mereka disambut tangis haru dan meriah dalam suasana megah dan sakral karena pusaka tanah Ternate terpisah 14 generasi dari Kesultanan Ternate.
Kini, Al Qur’an tua kulit kayu ini selalu dipamerkan saat hari besar Islam seperti Maulud nabi, nuzurul quran atau proses membangun mesjid.
Pemda Kabupaten Alor pun sudah menganggarkan dana untuk insentif bagi pewaris dan biaya pemeliharaan situs Al Qur’an tua kulit kayu ini.
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat
Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS
Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya
Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia
Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur