Diduga Sakit Epilepsi, Seorang Wanita di Lembata Ditemukan Tewas Terapung di Laut
digtara.com -ALA alias Amina, warga Desa Kalikur Wl, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, NTT ditemukan meninggal terapung di perairan laut Waqlayar di Desa Kalikur WL, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata.
Baca Juga:
Korban pertama kali ditemukan oleh Wamasi Abdul Latif (34), ibu rumah tangga yang juga warga Desa Rumang, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata yang saat itu sedang mencari siput di pantai.
Pada Selasa pagi sekitar pukul 07.00 Wita, Wamasi ke pantai mencari siput di perairan laut yang biasa disebut warga lokal bernama Waqlayar, di Desa Kalikur WL, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata karena saat itu air laut dalam keadaan surut.
Ketika sedang mencari siput, ia melihat ada sebuah ember kosong warna putih bertuliskan jotun dalam posisi terapung namun ia tidak mengambil ember tersebut.
Setelah itu ia lanjut mencari siput. Pada saat itu ia melihat ada orang yang terapung di laut dengan posisi telungkup sehingga i langsung berteriak minta tolong dan warga yang berada sekitar pinggir pantai langsung berdatangan untuk mengevakuasi korban.
Baca Juga:Pada saat dilakukan evakuasi, Wamasi melihat orang yang tenggelam tersebut adalah Amina sehingga korban langsung dievakuasi ke rumah duka untuk disemayamkan.
Wamasi menerangkan bahwa korban selama ini memiliki riwayat sakit epilepsy (dalam bahasa daerah setempat disebut ayan).
Ibu kandung korban, Rukmi Lukma (74) mengaku kalau selama ini korban tinggal dengannya bersama dua cucu. Dalam satu pekan terakhir, korban sering mengalami sakit epilepsidan tak sadarkan diri hampir setiap hari sekitar 10 sampai 15 menit.
Rukmi mengaku kalau pada Selasa pagi ia melihat banyak warga Desa Kalikur WL ke laut mencari siput.
Kuatir korban ikut maka Rukmi minta agar korban jangan tergiur dan ikut pergi mencari siput karena akhir-akhir ini korban sering terserang penyakit ayan (epilepsi).
Usai menenun sarung, Rukmi sudah tidak melihat korban di rumah. Bersamaan dengan itu salah satu anaknya, Bintang mengabarkan kalau korban ditemukan terapung di laut dan sudah meninggal dunia.
Rukmi mengakui kalau korban selama ini mempunyai riwayat sakit epilepsi sejak berusia 15 tahun dan satu minggu terakhir ini hampir setiap hari korban terserang epilepsi.
Sehari sebelumnya atau pada Senin, 28 September 2026, sebelum korban ditemukan meninggal dunia, korban terjatuh dan tidak sadarkan diri di halaman Langgundi karena penyakit epilepsi yang dideritanya kambuh.
Jenazah korban diperiksa dr. Moses Samson Lalang Robiwala dari Puskesmas Wairiang.
Baca Juga:Hasil pemeriksaan menerangkan bahwa kondisi jenazah pada saat dilakukan pemeriksaan luar ada sejumlah luka yang diakui pihak keluarga sebagai luka lama.
Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, dipastikan bahwa korban meninggal dunia sekitar 8-12 jam sebelum pemeriksaan medis.
Pihak Kepolisian Sektor Buyasuri mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Wairiang.
Berdasarkan komunikasi pihak Kepolisian Sektor Buyasuri dengan pihak keluarga korban, keluarga menerima peristiwa meninggalnya korban sebagai musibah dan menyampaikan penolakan terhadap pemeriksaan medis lanjutan/Visum et Repertum, otopsi, serta proses hukum.
Penolakan tersebut telah dituangkan dalam dokumen pernyataan sesuai penanganan administrasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Baca Juga:
Pasca Tawuran Pelajar di Kota Kupang, Polisi Berjaga-jaga di Sekolah
Kapolda dan Wakapolda NTT Tinjau Eco Wisata Tantya Sudhirajati Polres Kupang
Enam Bangunan Tempat Usaha Dan Rumah Tinggal di Kabupaten TTS Terbakar
Mahasiswi USU Ditemukan Meninggal di Kos, Kampus Pastikan Penyelidikan Berjalan
Bergandengan Tangan, Elemen Masyarakat di Manggarai Barat Bantu Ribuan Warga Terdampak Gempa Bumi