Tangkal Radikalisme di NTT Dengan Budaya Kekeluargaan Umat Beragama
digtara.com -Prof Dr. Reinner Ishaq Lerrick menjadi salah satu narasumber daerah dalam kegiatan Tulisan Cinta Menyongsong Indonesia Emas (TINTA EMAS), bertema "Goresan Cinta untuk Memperkuat Ketahanan Nasional" yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTT, Rabu (8/10/2025). Kegiatan ini berlangsung secara daring dan luring.
Baca Juga:
Ia mengangkat ini sebagai hubungan kekeluargaan antar umat beragama yang mesti bertahan terus di NTT terutama di tangan generasi Z dan milenial.
Reiner yang juga guru besar Undana Kupang ini mencontohkan di Kabupaten Alor, NTT, yang mana saat pembangunan gereja maka dibantu oleh umat muslim, begitu pula kala pembangunan masjid akan dibantu umat Nasrani.
Baca Juga:"Aspek kultural dengan ragam budaya di setiap suku-suku di NTT telah mengingatkan kita tentang toleransi, keberagaman dan kekeluargaan," ujarnya.
Masyarakat NTT juga memiliki relasi kekeluargaan yang sangat tinggi misalnya dilihat dari marga, hubungan kawin mawin hingga hubungan saling menghormati antar umat beragama.
"Kalau orang lain kenal marga kita maka biasanya mereka cari keterkaitan dengan keluarga kita, asalnya mana saja, tanpa pandang agama apa, itu baik," lanjut dia.
Hal ini dapat menjadi keuntungan dan juga kerugian khususnya apabila Generasi Z dan Milenial terpapar paham radikalisme.
"Karena cukup besar generasi ini yang memiliki kecenderungan eksklusif terhadap agama mereka, artinya bisa tak mengenal saudara mereka yang beragama lain, atau tidak ingin mengetahui titik rekat antara satu dengan yang lain," lanjutnya.
Baca Juga:Untungnya, hampir 90 persen generasi Z dan milenial bangga dengan rasa nasionalisme dan toleransi.
Namun yang perlu diperhatikan adalah generasi Z sendiri belum memiliki pemahaman mengenai aksi terorisme karena kurangnya literasi dan sosial.
Ia juga menjelaskan pemicu awal radikalisme di Indonesia adalah intoleransi. Hal ini yang memicu sekelompok orang dengan paham ekstrem ini melakukan aksi kekerasan.
Media sosial saat ini memang punya daya agitasi yang kuat sehingga perlu dicegah muncul dari faktor-faktor terkait seperti ideologis, faktor politis hingga sosial - ekonomi. Kondisi ini ditambah dengan generasi muda yang memiliki beberapa gadget sehingga dapat berpengaruh pada informasi yang mereka terima sehari-hari.
Untuk itu, kata dia, budaya, sistem kekeluargaan, sosial dan lingkungan perlu diwarisi ke generasi saat ini sehari-hari.
Baca Juga:Kegiatan hingga siang hari sangat antusias diikuti peserta. Terbukti banyak peserta mengajukan pendapat dan pertanyaan dalam sesi diskusi.
Peduli Warga, Dansat Brimob Polda NTT Tegaskan Komitmennya Bangun Jembatan Penghubung di Desa Lipa
Polres Sikka Tetapkan Dua Tersangka Dalam Kasus TPPO 13 Pekerja Pub
Kasat Reskrim Polresta Kupang Kota dan Kapolsek Kota Lama Dimutasi
Tiga Warga TTU Disekap dan Dianiaya di Malaka
Hujan Deras Rendam Sejumlah Rumah di Belu dan Lahan Pertanian Tergenang Air