Minggu, 11 Januari 2026

Dokter dan Pendeta di Kupang Membedah Bunuh Diri Antara Trauma, Mental Breakdown dan Jejak Forensik

Imanuel Lodja - Selasa, 01 April 2025 10:12 WIB
Dokter dan Pendeta di Kupang Membedah Bunuh Diri Antara Trauma, Mental Breakdown dan Jejak Forensik
ist
Dokter dan Pendeta di Kupang Membedah Bunuh Diri Antara Trauma, Mental Breakdown dan Jejak Forensik

Selain itu, keterbatasan alat, akses ke daerah terpencil, serta perbedaan bahasa dan budaya juga menjadi kendala dalam proses identifikasi dan pemeriksaan.

Baca Juga:

Dr. Edwin menjelaskan bahwa forensik fokus pada temuan pemeriksaan pada korban bunuh diri, melengkapi perspektif teologi dan psikiatri.

Pdt John Manongga pada sesi ketiga lebih lugas membidik soal teologi trauma saat membawakan materi "menjembatani luka dan harapan : teologi trauma dalam krisis bunuh diri".

Teologi trauma adalah jembatan agar belajar melalui iman Kristen bisa sampai pada pengharapan itu. "Dalam keadaan trauma masih ada harapan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan keadaan yang kompleks, apakah dosa atau tidak. "Bunuh diri kebanyakan karena trauma eksistensial karena hilangnya makna, harapan dan koneksi," ujarnya.

Teologi trauma, tambahnya memahami penderitaan bukan untuk dijustifikasi tetapi untuk dihadapi (respon) bersama.

Untuk itu, jika jiwa cemas dan depresi maka perlu bertemu dengan orang yang tepat. "Jika ada kasus bunuh diri maka stop mencari alasannya tetapi harus hadir bersama mendengarkan apa yang dikatakan dan menjadi jembatan menuju harapan," tandasnya.

Teologi trauma juga mengajak melihat dari titik berbeda yakni kita ikut merasakan. "Trauma adalah luka mendalam fisik, psikis dan spiritual yang menghancurkan kemampuan seseorang untuk hidup secara utuh. Menciptakan ruang kosong dalam jiwa yang sulit diisi oleh kata dan doa. Bunuh diri terjadi karena luka dalam diri tidak tertangani dengan baik dan harapan tampaknya mustahil," urainya.

Ia menegaskan kalau orang bunuh diri karena tidak mengasihi dirinya sendiri dan keluarga. Efeknya, sering ada stigma dari masyarakat dan menjadi 'luka' bagi keluarga.

"Teologi trauma tidak menilai moralitas tapi ada bersama-sama untuk menjadi jembatan menuju harapan," tambahnya.

Dimana Allah dalam trauma manusia?. Hal ini menjadi pertanyaan reflektif bagi semua pihak. Pdt John Manongga menjelaskan kalau Allah hadir dalam (luka) penderitaan bukan menghakimi dari kejauhan.

Pdt. John Manongga, M.Th, dalam pemaparannya yang mendalam, membuka wawasan peserta dengan menyatakan bahwa seringkali, tindakan bunuh diri bukanlah keinginan untuk mati, melainkan luapan dari rasa sakit yang tak tertahankan dan keinginan untuk didengarkan.

"Orang bunuh diri pada dasarnya dia tidak ingin mati, dia ingin didengarkan, dia ingin berhenti dari rasa sakit, tetapi karena dia tidak menyadari dirinya dan tidak tau harus bicara kepada siapa," ungkapnya.

Pdt. John mengutip pandangan Serene Jones mengenai teologi trauma sebagai luka mendalam yang menghancurkan kemampuan seseorang untuk hidup utuh. Luka ini menciptakan kehampaan jiwa yang sulit diisi, bahkan oleh kata-kata atau doa.

Menurutnya, bunuh diri kerap menjadi jalan pintas ketika luka trauma tidak tertangani dan harapan seolah sirna.

Pdt John Manongga menekankan bahwa teologi trauma mengajak untuk melihat permasalahan ini dengan empati, dari sudut pandang yang berbeda.

"Cegah bunuh diri melalui relasi dan komunitas. Bangun relasi dalam komunitas keluarga karena keluarga adalah miniatur gereja. Anggota keluarga akan merasa aman dan tidak merasa sendiri. Gereja bukan sekedar penjaga moral tetapi komunitas pemulihan (ruang pemulihan)," ujarnya.

Teologi trauma tidak berupaya membela atau mencari alasan Tuhan, melainkan menekankan bahwa individu yang mengalami pergumulan ini tidaklah sendiri. Ada komunitas, dukungan, dan kehadiran Tuhan di tengah luka.

Proses pemulihan dapat dijalani melalui konsultasi, berbagi, dan menggali akar permasalahan dengan dukungan keluarga, gereja, dan komunitas, sehingga individu dapat mengingat dan memproses pengalaman traumatis dengan cara yang benar.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam dari berbagai perspektif, diharapkan upaya pencegahan dan penanganan bunuh diri dapat menjadi lebih efektif dan membawa harapan bagi banyak jiwa.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Terima 984 Laporan Polisi Selama Tahun 2025, Polres TTS Tuntaskan 55 Persen Kasus

Terima 984 Laporan Polisi Selama Tahun 2025, Polres TTS Tuntaskan 55 Persen Kasus

NTT Jadi Lumbung Jagung Nasional, Kapolda NTT Pimpin Panen Raya Jagung Kuartal IV 2025

NTT Jadi Lumbung Jagung Nasional, Kapolda NTT Pimpin Panen Raya Jagung Kuartal IV 2025

Didukung ICITAP, Polda NTT dan Lembaga Terkait Bahas masalah TPPO di NTT

Didukung ICITAP, Polda NTT dan Lembaga Terkait Bahas masalah TPPO di NTT

Dugaan Kekerasan Warga dan Anggota Polisi Diselesaikan Secara Damai

Dugaan Kekerasan Warga dan Anggota Polisi Diselesaikan Secara Damai

Pimpin Sertijab PJU dan Dua Kapolres, Kapolda NTT Juga Lantik Kombes Nova Irone Surentu Jadi Direktur PPA Dan PPO

Pimpin Sertijab PJU dan Dua Kapolres, Kapolda NTT Juga Lantik Kombes Nova Irone Surentu Jadi Direktur PPA Dan PPO

Dari Sumsel, Maluku, NTT Dan Maluku Utara, Brigjen Pol Murry Mirranda 'Jenderal Pegiat Sosial' Kini Menyandang Bintang Satu di Bangka Belitung

Dari Sumsel, Maluku, NTT Dan Maluku Utara, Brigjen Pol Murry Mirranda 'Jenderal Pegiat Sosial' Kini Menyandang Bintang Satu di Bangka Belitung

Komentar
Berita Terbaru