Jumat, 29 Agustus 2025

Bibir Sumbing, Antara Mitos dan Faktor Keturunan

Imanuel Lodja - Selasa, 18 Juni 2019 05:25 WIB
Bibir Sumbing, Antara Mitos dan Faktor Keturunan

Digtara.com | KUPANG – Bibir sumbing atau celah bibir dan langit-langit yang tidak normal menjadi kelainan yang diderita sebagian masyarakat di NTT. Rata-rata penderita merupakan keluarga kurang mampu dan tinggal jauh dari fasilitas dan sarana kesehatan yang memadai.

Baca Juga:

Kelainan ini sering dianggap mitos dan juga faktor keturunan sehingga juga dialami banyak masyarakat sejak lahir.

Arista Fonstiana Noe (25), adalah salah seorang ibu yang awalnya tidak terima dengan kenyataan kalau anak sulungnya, Marcelino Del Piero Seto yang lahir pada 27 Juli 2018 lalu harus mengalami kelainan ini.

Warga Jalan WZ Yohanes Kelurahan Paupire Kecamatan Kota Ende Kabupaten Ende ini awalnya tidak ada kelainan saat kehamilan anak pertamanya ini. Pasca dinikahi Patrisius Sae Keo (26) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang gunting rambut akhir 2017 lalu, Arista langsung hamil.

Ia pun rutin memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas dan dokter kandungan.
Saat itu di daerahnya di Kabupaten Ende memang sangat kental dengan mitos dan berbagai larangan saat seorang perempuan hamil.

Saat seorang perempuan hamil, sang suami dilarang memegang gunting, memotong hewan atau benda apapun serta perempuan dilarang keluar rumah diatas pukul 18.00 wita.

Namun Patrisius ‘melanggar’ beberapa mitos itu. Karena berprofesi sebagai tukang cukur rambut, ia pun rutin menjalankan aktivitas nya setiap hari. Awalnya atas saran para orang tua, Patrisius menolak menggunting rambut pelanggan dan berniat untuk istrahat selama sang istri hamil. Namun ia tak kuasa menerima permintaan pelanggan yang datang ke lokasi kerjanya.

Patrisius pun hampir setiap bulan rutin memotong hewan peliharaan seperti babi karena ia pun menjual daging segar. Berbagai larangan ini harus dilakukan Patrisius demi menghidupi istinya. Ia pun tidak percaya dengan berbagai mitos tersebut walaupun sudah diingatkan oleh para orang tua dan kerabatnya.

27 Juli 2018, Arista pun melahirkan di kota kelahirannya di Bajawa Kabupaten Ngada (sekitar 100 kilometer dari Kabupaten Ende). Arista melahirkan secara normal di rumah sakit Bajawa dibantu tenaga medis. Pasca melahirkan, Arista mengaku belum melihat kondisi anaknya karena sang bayi langsung ditempatkan diruang kaca selama tiga hari.
Baru lah pada hari ketiga, Arista diperbolehkan berjumpa dengan anaknya. Ia kaget melihat kelainan pada bibir anak sulungnya.

Kelainan dengan bibir terbelah hingga salah satu lubang hidung benar-benar membuat Arista terpukul. Ia tidak sanggup melihat kondisi anaknya. Ia makin miris karena sang anak tidak bisa menyusui. Ia dan suami terpaksa membeli dot/botol susu khusus seharga Rp 600.000 sehingga memudahkan anak nya minum susu.

Arista pun hanya bisa memberikan ASI ekslusif selama tiga minggu. Selebihnya, ia membantu anaknya dengan susu formula.

Ia dan keluarga pun meyakini kalau kelainan pada anaknya ini terjadi karena sang suami melanggar sejumlah mitos larangan yang dilakukan sang suami selama kehamilan anak pertama.

Beruntung ia mendapat kabar dari temannya akan digelarnya operasi celah bibir dan langit-langit atau bibir sumbing. Sejumlah kerabat mengumpulkan bantuan untuk keberangkatannya ke Kupang menggunakan kapal laut KM Wilis.

Sang suami terpaksa tidak bisa ikut serta. Selain karena faktor biaya, juga karena sang suami harus mencari nafkah di Kota Ende.

Cerita lain diungkapkan pasangan suami istri Arkilaus Boymau dan Margaretha Tausef yang juga memiliki dua orang anak yang mengalami kelainan bibir sumbing. Anak pertama pasangan suami istri asal Se’i Desa Babuin Kecamatan Kolbano Kabupaten TTS ini mengalami bibir sumbing saat lahir.

Anak pertama mereka tertolong dengan operasi bibir sumbing gratis saat anak berusia satu tahun. Saat ini anak pertama mereka sudah duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar.
Namun ‘musibah’ bagi keluarga petani ini datang lagi, saat anak kelima mereka, Imelda Boymau yang saat ini berusia 10 bulan juga mengalami kelainan bibir sumbing.

Margareta sendiri heran karena ia rutin memeriksakan kesehatan selama hamil di Puskesmas terdekat. Bahkan saat melahirkan pun, ia melahirkan di Puskesmas dibantu tenaga medis. Di desa mereka sudah ada peraturan bahwa ibu hamil wajib melahirkan di Puskesmas dan ditolong tenaga medis.

Bagi ibu hamil yang melahirkan dirumah dan ditolong dukun maka dikenakan denda Rp 600.000. Namun pasangan keluarga yang tergolong keluarga miskin ini maklum kalau bibir sumbing ini karena faktor keturunan.

“Kakek istri saya, anak pertama saya dan ini anak kelima saya juga bibir sumbing. Ini mungkin keturunan jadi kami tidak kaget lagi tetapi pasrah,” ujar Arkilaus saat ditemui di rumah sakit Bhayangkara Kupang, Selasa (18/6) siang.

Keluarga ini mengaku mendapat kabar dari pihak Puskesmas kalau ada pengobatan gratis bibir sumbing di rumah sakit Bhayangkara Kupang oleh Bid Dokkes Polda NTT. Dengan modal uang Rp 300.000, mereka pun ke Kota Kupang membawa serta anak kelima mereka menjalani operasi bibir sumbing.

Beruntung Imelda merupakan satu dari 30 orang anak yang berkesempatan menjalani operasi bibir sumbing dalam rangka HUT Bhayangkara ke 73 tahun 2019. Baik Arkilaus, Margareta maupun Arista merasa bangga dan terharu akan kesempatan tersebut.

Kedua keluarga dari pulau berbeda ini mengaku kalau mereka awalnya pasrah dengan kondisi anak mereka karena ketiadan biaya. “Kami bersyukur dengan program ini anak kami terbantu. Terus terang kami harus terombang ambing dilaut diatas kapal hanya untuk operasi anak kami. Dan ini pun gratis. Selain itu kami juga mendapatkan bantuan dari Kapolda NTT,” tandas Arista yang tidak kuasa menahan tangisnya.

Margareta juga bersyukur karena kedua anaknya yang mengalami kelainan bisa terbantu dengan operasi bibir sumbing gratis ini.

Ia mengaku kalau sudah pernah berkonsultasi dengan dokter sebelum ada kegiatan tersebut. “Untuk sekali periksa saja kami harus bayar Rp. 300.000. Kami tidak punya uang yang cukup. Kalaupun ada uang, lebih baik pakai beli beras,” tandas Margaret yang mengaku kalau kelima anaknya semuanya dilahirkan secara normal di Puskesmas.[win]

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Imanuel Lodja
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru