Singgih Januratmoko Ungkap Hasil Pengawasan Haji 2026: Kesehatan dan Transportasi Jadi Perhatian
digtara.com - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI - Timwas Haji 2026Singgih Januratmoko mengungkap hasil pengawasan pelaksanaan ibadah haji 2026, baik di Tanah Air maupun Arab Saudi. Sejumlah layanan berjalan baik, namun aspek kesehatan jemaah dan transportasi pada fase puncak haji masih menjadi perhatian.
Baca Juga:
- Rela Tinggalkan Jabatan, Ribuan PNS Berebut Kesempatan Ingin Berkhidmat Melayani Tamu Allah di Kemenhaj
- Jawa Tengah Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXI, Sri Wulan: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Ruang Persaudaraan
- Kemenhaj Gandeng BKN Perkuat Transparansi, CAT PPIH 2027 Non Nakes Digelar Serentak 35 Titik Se-Indonesia
Hal itu disampaikan Singgih saat ditemui di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, Kamis (21/5/2026).
Singgih mengatakan Komisi VIII DPR RI telah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah embarkasi di Indonesia, di antaranya Embarkasi Solo dan Yogyakarta International Airport (YIA). Menurutnya, proses pemberangkatan jemaah sejauh ini berjalan baik. Ia juga menyoroti konsep YIA yang menggunakan fasilitas berbasis hotel.
"Alhamdulillah sejauh ini berjalan dengan baik. Saya kemarin banyak turun di embarkasi Solo dan di YIA. YIA itu embarkasi yang baru, yang berbasis hotel," kata Singgih.
Dari hasil pemantauan, kata dia, jemaah terlihat lebih nyaman dengan konsep embarkasi berbasis hotel dibandingkan sistem asrama.
Istithaah Kesehatan Diperketat
Baca Juga:
Aspek kesehatan menjadi salah satu perhatian utama Komisi VIII DPR RI. Singgih menyebut terdapat calon jemaah yang tidak dapat melanjutkan keberangkatan karena tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Menurutnya, pengetatan pemeriksaan kesehatan diperlukan agar jemaah yang berangkat berada dalam kondisi yang memungkinkan mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji.
"Yang memang benar-benar tidak bisa lolos, ya kita mohon maaf, kita kembalikan ke daerahnya masing-masing," ujarnya.
Langkah tersebut, lanjut Singgih, juga untuk mencegah jamaah dengan kondisi kesehatan berat mengalami persoalan setelah tiba di Arab Saudi.
"Kalau sampai di sini, dia tidak bawa pendamping atau pendampingnya memang sudah parah, nanti akan merepotkan teman-teman sesama jemaah maupun petugas haji," katanya.
Pelayanan di Arab Saudi
Dalam pengawasan di Arab Saudi, Singgih mengatakan secara umum pelayanan jemaah berjalan baik.
Ia mengakui terdapat hotel jemaah yang lokasinya cukup jauh, salah satunya di kawasan Al-Hidayah. Namun, menurutnya, persoalan tersebut telah ditangani dan sejauh pemantauannya tidak menimbulkan keluhan besar dari jamaah.
"Memang ada satu hotel yang jauh, di Al-Hidayah. Tapi sejauh ini dari jemaah tidak ada komplain, dan apa yang menjadi keluhan langsung ditindaklanjuti," ujarnya.
Ada Evaluasi Kamar di Madinah
Baca Juga:
Komisi VIII juga mencatat sejumlah hal yang masih perlu dievaluasi dalam pelayanan akomodasi jemaah di Madinah.
Singgih menyebut terdapat beberapa kamar yang dihuni lebih dari empat orang.
"Memang kemarin hasil pemantauan, satu kamar empat. Tapi ada beberapa kamar yang lebih dari empat orang. Nanti kita akan gali masalahnya bagaimana, dan ini ke depan supaya tidak terjadi lagi," katanya.
Konsumsi Jemaah Dinilai Membaik
Dari sisi konsumsi, Singgih menyampaikan hasil pemantauan yang positif.
Ia mengatakan biaya konsumsi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kualitas makanan berdasarkan hasil pemantauan justru dinilai lebih baik.
"Masalah konsumsi juga alhamdulillah lancar. Konsumsi lebih murah dari tahun lalu, dan ada inflasi. Di Arab Saudi ternyata malah hasilnya, makanannya lebih baik dari tahun kemarin," katanya.
Transportasi Arafah-Muzdalifah-Mina Jadi Perhatian
Memasuki fase puncak haji, Komisi VIII memberikan perhatian khusus terhadap transportasi jemaah.
Singgih menyebut pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah hingga Mina harus dipersiapkan secara matang.
Baca Juga:
"Hal-hal yang memang harus kita waspadai adalah di akhir musim. Masalah transport dari Makkah, dari Makkah, Arafah, Muzdalifah, Mina. Jangan sampai terulang seperti yang kemarin," katanya.
Menurutnya, kepadatan perlu diantisipasi karena kawasan Mina memiliki keterbatasan ruang.
Skema Pergerakan Jemaah di Mina Disiapkan
Singgih mengatakan koordinasi dengan pihak Arab Saudi terus dilakukan untuk mengatur pergerakan jemaah dan mengurangi potensi kepadatan.
"Karena space-nya sangat kecil sekali, terlalu banyak numpuk. Akhirnya ini kemarin sudah dikomunikasikan dan pihak Saudi juga setuju," ujarnya.
Ia menegaskan transportasi menjadi bagian penting dalam pengaturan tersebut, mengingat pergerakan jamaah tidak hanya berkaitan dengan perjalanan, tetapi juga pilihan jemaah untuk beristirahat di Mina atau kembali ke hotel.
"Yang paling penting kan transportasi itu, transportasi orang yang jalan nanti," katanya.
Komisi VIII berharap koordinasi pemerintah Indonesia dengan otoritas Arab Saudi terus diperkuat hingga seluruh rangkaian puncak haji 2026 selesai.
Pengawasan diarahkan pada sejumlah aspek penting, mulai dari kesehatan jamaah, transportasi, akomodasi, konsumsi hingga kepadatan jamaah di Mina. (San).
Baca Juga:
Rela Tinggalkan Jabatan, Ribuan PNS Berebut Kesempatan Ingin Berkhidmat Melayani Tamu Allah di Kemenhaj
Jawa Tengah Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXI, Sri Wulan: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Ruang Persaudaraan
Kemenhaj Gandeng BKN Perkuat Transparansi, CAT PPIH 2027 Non Nakes Digelar Serentak 35 Titik Se-Indonesia
Kemenhaj Himbau Peserta Seleksi PPIH 2027 Tetap Tenang, Verifikasi Terus Berjalan dan CAT Digelar Dua Gelombang
Seleksi PPIH Arab Saudi 2027 Resmi Dibuka, Tekankan Integritas dan Profesionalisme