Berbekal Video-video Sederhana, Moh Kamil Jemaah Asal Madura Mantapkan Diri Pilih Berhaji Mandiri
digtara.com - Pagi itu, lorong sebuah hotel jemaah di wilayah Ar-Rawdah, Makkah, belum benar-benar ramai. Kebanyakan dari mereka masih beristirahat selepas ibadah subuh, sementara ada juga yang duduk bercengkerama di depan kamar.Di sela keramaian kecil tersebut, Moh Kamil berbagi cerita hangat pada tim Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026. Di usianya yang belum genap 30 tahun, ia memikul tanggung jawab besar sebagai ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri asal Sumenep, Jawa Timur, yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya Kelompok Terbang (Kloter) 77, atau SUB 77.
Baca Juga:
Pilihan berhaji mandiri itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum berangkat, ia memperkuat bekal manasik dengan kembali belajar pada guru-gurunya di pesantren. Meski tidak mondok penuh, ia sejak kecil tetap mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampungnya.
Bekal itulah yang kini ia gunakan untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji. Tantangan terbesar justru muncul dari perbedaan kemampuan para jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
"Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana," ujarnya.
Video itu dibuat dengan bahasa campuran Indonesia dan Madura. Isinya praktis: cara memakai lift hotel, mempersiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, serta penggunaan fasilitas selama di Arab Saudi.
Baca Juga:Cara sederhana tersebut terbukti membantu para lansia lebih cepat memahami situasi. Kamil mengatakan, sebagian jemaah bahkan masih kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat atau melakukan panggilan video.
"Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami," ucapnya.
Di rombongan yang sama, Suwaris Bahir juga merasa mantap memilih jalur mandiri sejak awal. Lelaki yang sehari-hari bekerja di bidang perikanan itu mengaku tidak pernah benar-benar khawatir menjalani haji tanpa KBIHU.
Baginya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup detail untuk menjadi bekal ibadah. "Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan," ujarnya di kesempatan yang sama.
Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari situ, ia merasa jemaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap. Bahkan, menurutnya, petugas kloter juga aktif mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.
Ia mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan. Selain lebih fleksibel, jalur mandiri juga dianggapnya lebih ringan secara biaya. "Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup," ucapnya.
Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad. Dosen asal Sumenep itu berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji keluarga yang awalnya bukan untuk dirinya dilimpahkan setelah sang ayah wafat.
Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke, Nurhayati tetap menyiapkan diri secara perlahan. Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk melatih stamina sebelum berangkat.
"Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja," katanya sambil tertawa kecil.
Baca Juga:Selain menjaga fisik, ia juga aktif belajar lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, informasi digital justru sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.
Namun yang paling ia ingat justru suasana kebersamaan di antara sesama jemaah. Pada malam hari, ia sering membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.
"Dari situ malah jadi dekat satu sama lain," ujarnya.
Kekompakan para jemaah mandiri SUB 77 memang tidak muncul begitu saja. Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengatakan bahwa pihaknya sejak awal sadar bahwa mendampingi jemaah tanpa KBIHU membutuhkan pola pendekatan berbeda. Apalagi, lebih dari separuh jemaah dalam kloter tersebut merupakan lansia.
"Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter," kata Asnawi.
Asnawi lalu menanamkan satu gagasan sederhana: setiap ketua rombongan adalah "kiai" bagi kelompoknya masing-masing. "Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah," ujarnya.
Pendekatan itu diperkuat dengan kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberi penjelasan tambahan, membantu simulasi manasik, serta membangun kedekatan emosional dengan jemaah.
Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah bergerak lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain. (San).
Baca Juga:
Bimbad PPIH Daker Bandara Ajak Semua Petugas Haji Beri Pendampingan Optimal bagi Jemaah Berkebutuhan Khusus
Kemenhaj Minta Jemaah Bayar Dam Lewat Saluran Resmi
Kemenhaj Pastikan Pendampingan Khusus Jemaah Lansia, Disabilitas dan Perempuan
Irjen Pimpin Apel Gabungan Petugas Haji di Sejumlah Sektor Makkah, Pastikan Kesiapan Layanan
Sambut Armuzna, Jemaah Diimbau Bijak Atur Aktivitas dan Jaga Kondisi Tubuh