Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Harga Minyak dan Picu Risiko Resesi Global
digtara.com -Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global. Iran merupakan salah satu anggota penting OPEC dan produsen minyak utama di dunia, sehingga konflik berskala besar berpotensi mengguncang pasar energi internasional.
Baca Juga:
Peran Strategis Iran dan Ancaman ke Selat Hormuz
Sebagai anggota OPEC, Iran tercatat sebagai produsen minyak terbesar keempat dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari lalu.
Baca Juga:Namun ancaman terbesar bukan hanya pada produksi domestik Iran, melainkan pada posisinya yang strategis terhadap Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak mentah paling vital di dunia.
Data dari firma konsultan energi Kpler menunjukkan bahwa sepanjang 2025, lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz. Angka tersebut setara dengan sekitar sepertiga total ekspor minyak mentah global melalui jalur laut.
Bob McNally, pendiri Rapidan Energy dan mantan penasihat energi Gedung Putih, dalam wawancaranya dengan CNBC memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang hampir pasti memicu resesi global.
Harga Minyak Berpotensi Tembus 100 Dolar AS
Iran dilaporkan memiliki persediaan ranjau laut dan rudal jarak pendek yang cukup untuk membuat Selat Hormuz tidak aman bagi kapal tanker. Jika jalur ini terganggu, harga minyak mentah diperkirakan bisa melonjak melampaui 100 dolar AS per barel.
Baca Juga:Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent tercatat naik 2,45 persen ke level 72,48 dolar AS per barel. Sementara itu, WTI menguat 2,78 persen menjadi 67,02 dolar AS per barel.
Analis memperkirakan saat perdagangan dibuka kembali, harga berpotensi melonjak tambahan 5 hingga 7 dolar AS per barel sebagai respons terhadap risiko geopolitik yang meningkat.
Dampak Terbesar bagi Asia
China sebagai ekonomi terbesar kedua dunia bahkan mengandalkan sekitar separuh impor minyak mentahnya dari jalur tersebut. Jika akses terganggu, negara-negara Asia berpotensi melakukan penimbunan besar-besaran yang dapat memicu persaingan harga ekstrem di pasar energi global.
Opsi Penyelamatan yang Terbatas
Baca Juga:Beberapa opsi mitigasi memang tersedia, tetapi kapasitasnya terbatas.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jalur pipa alternatif yang dapat memintas Selat Hormuz. Namun kapasitasnya hanya mampu mengalihkan sebagian kecil dari total kebutuhan global.
Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump dapat mencairkan Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat yang saat ini diperkirakan sekitar 415 juta barel. Meski demikian, analis menilai langkah tersebut tidak akan cukup jika krisis berlangsung dalam waktu lama dan melibatkan gangguan besar terhadap pasokan anggota IEA.
Iran Bantah Klaim AS dan Israel soal Ali Khamenei Tewas, Teheran Tegaskan Masih Hidup
Iran Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Rudal Hantam Qatar hingga Bahrain
BWI Kota Semarang Gencarkan Pendataan dan Pemutakhiran Wakaf, Target 750 Titik Tahun Ini
Mati Mesin, Sembilan Penumpang Kapal Phinisi Dievakuasi Dalam Keadaan Selamat
Akhir Pekan di Kota Kupang Diwarnai Tawuran Pemuda, Pelaku Kabur Saat Polisi Datang