Senin, 04 Mei 2026

Outflow Dana Asing Seret Kurs Rupiah

- Senin, 02 Desember 2019 01:49 WIB
Outflow Dana Asing Seret Kurs Rupiah

digtara.com | JAKARTA – Perdagangan Jumat (29/11) kemarin aksi jual asing yang masih berlanjut baik di pasar saham maupun pasar obligasi turut menekan kurs rupiah. rupiah spot melemah 0,12% ke Rp 14.108 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah juga melemah tipis 0,02% ke Rp 14.102 per dolar AS.

Baca Juga:

Penandatanganan UU HAM dan Demorasi Hong Kong oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu pro kontra. Selain bisa menahan kelanjutan kesepakatan dagang fase satu, masalah geopolitik ini juga berdampak pada keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim sebut investor cenderung kecewa dengan sikap Trump yang menandatangani RUU HAM dan Demokrasi Hong Kong. “Sampai akhir tahun ini di bulan Desember kemungkinan besar rupiah masih akan tertekan, disebabkan perang dagang dan Hong Kong. Hingga saat ini Hong Kong masih mengalami masalah politik. Demonstrasi belum berhenti sehingga perekonomian di Hong Kong jadi mati suri,” tutur Ibrahim.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi China yang diprediksikan akan berada di bawah 5% tahun depan akan memaksa China menandatangani kesepakatan dagang fase satu. Pasalnya ada kemungkinan AS akan kembali menerapkan kebijakan bea impor pada tanggal 15 Desember mendatang. Kisruh perang dagang inilah yang menjadi sebab arus permodalan asing dalam negeri keluar dalam bentuk profit taking investor.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menyebut, meski investor asing ramai-ramai melenggangkan kaki dari Indonesia, pasar obligasi masih menunjukkan performa yang positif. Data-data ekonomi yang akan keluar pekan depan diharapkan dapat menjadi sentimen positif yang dapat membangkitkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Reny menyebut hingga saat ini belum ada katalis positif dari domestik yang bisa mengangkat rupiah. Perang dagang diprediksikan belum akan rampung dalam waktu dekat.

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali tertekan di level Rp 14.200 per dolar AS di akhir tahun jika perang dagang terus memanas. Di sisi lain, katalis positif bisa muncul jika Boris Jhonson bisa merampungkan Brexit.

Reny juga melihat hingga akhir tahun rupiah akan berada di kisaran Rp 14.200. Reni menilai, level Rp 14.200 tidak mengindikasikan pelemahan tapi merupakan level kompetitif bagi rupiah.

Di sisi lain, Ibrahim menilai jika pemerintah kembali membuat kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri dapat sedikit menenangkan pasar. Ibrahim memperkirakan, rupiah masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 13.850 per dolar AS–Rp 14.300 per dolar AS di tahun depan. Ini dengan asumsi perang dagang masih akan berlanjut.

Sementara dengan harapan ekonomi dunia akan membaik tahun depan, Reny menilai ada potensi perbaikan ekonomi global tahun depan. Reny memproyeksikan rupiah menguat di level Rp 14.010 per dolar AS pada tahun depan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru