Senin, 12 Oktober 2026

76 Persen Transaksi Belanja Harian Masih di Warung Meski Gerai Ritel Modern Bertambah 41,3 Persen

Arie - Senin, 12 Oktober 2026 12:50 WIB
76 Persen Transaksi Belanja Harian Masih di Warung Meski Gerai Ritel Modern Bertambah 41,3 Persen
net
Ilustrasi.

digtara.com -Jumlah gerai ritel modern di Indonesia terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ekspansi minimarket belum menggeser dominasi warung dan toko tradisional sebagai tempat masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga:

Analisis Pradipta, perusahaan penyedia layanan outsourcing dan aktivasi merek untuk industri fast-moving consumer goods (FMCG), menunjukkan bahwa sekitar tiga dari empat transaksi kebutuhan sehari-hari di Indonesia masih berlangsung di warung dan toko tradisional.

Temuan yang mencakup periode 2019–2025 tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan jaringan ritel modern berjalan berdampingan dengan kuatnya peran toko tradisional dalam ekosistem FMCG nasional.

Gerai Ritel Modern Bertambah Hampir 14.000 dalam Enam Tahun

Berdasarkan analisis Pradipta, jumlah gerai lima jaringan ritel modern, yakni Indomaret, Alfamart, Circle K, Alfamidi, dan Lawson, meningkat dari 33.738 gerai pada 2019 menjadi 47.681 gerai pada 2025.

Jumlah tersebut bertambah 13.943 gerai atau sekitar 41,3 persen dalam enam tahun.

Ekspansi ini menunjukkan bahwa minimarket masih menjadi salah satu kanal distribusi yang terus berkembang. Meski demikian, pertambahan gerai tidak serta-merta mengubah kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada 2025, toko tradisional masih menyumbang sekitar 76 persen transaksi kebutuhan harian, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1.276 triliun.

Angka tersebut menegaskan bahwa warung dan toko kelontong tetap memegang peranan penting dalam distribusi produk kebutuhan sehari-hari di Indonesia.

Kontribusi Ritel Modern Naik Menjadi 24 Persen

Nilai transaksi ritel modern juga meningkat selama periode analisis. Pada 2019, kontribusi kanal ritel modern tercatat sekitar 18,6 persen, dengan nilai transaksi sekitar Rp319,14 triliun.

Pada 2025, kontribusinya meningkat menjadi sekitar 24 persen, dengan nilai transaksi mencapai Rp403,09 triliun.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa minimarket semakin berperan dalam aktivitas belanja masyarakat. Namun, pertumbuhan ritel modern tidak berarti konsumen sepenuhnya meninggalkan warung dan toko tradisional.

Masyarakat dapat menggunakan kedua kanal tersebut sesuai kebutuhan, mulai dari membeli produk dalam jumlah kecil di warung dekat rumah hingga berbelanja di minimarket yang menawarkan pilihan produk dan kenyamanan tertentu.

Dengan demikian, pasar FMCG Indonesia masih ditopang oleh kombinasi kanal distribusi modern dan tradisional.

Populasi Bertambah, Konsumen Makin Selektif Berbelanja

Jumlah penduduk Indonesia meningkat dari 268,1 juta jiwa pada 2019 menjadi 284,4 juta jiwa pada 2025. Artinya, populasi bertambah sekitar 16,3 juta jiwa selama periode tersebut.

Meski jumlah penduduk meningkat, nilai transaksi kebutuhan sehari-hari dalam periode analisis disebut lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2019, yang mencapai Rp1.716 triliun.

Kondisi ini berlangsung bersamaan dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin memperhatikan harga dan manfaat produk. Mengacu pada temuan NielsenIQ yang disebut dalam materi sumber, konsumen Indonesia semakin selektif dalam memilih barang, mencari produk dengan harga terjangkau, serta memanfaatkan promosi.

Perubahan perilaku tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan FMCG untuk menyesuaikan harga, penawaran promosi, dan strategi distribusi dengan daya beli serta kebutuhan konsumen.

Jawa Timur dan Jawa Tengah Punya Banyak Warung dan Toko Kelontong

Pulau Jawa masih menjadi wilayah penting bagi keberadaan warung dan toko kelontong. Data dalam analisis Pradipta menempatkan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sebagai tiga provinsi dengan jumlah warung dan toko kelontong yang besar.

Jawa Timur tercatat memiliki 8.432 warung. Sementara itu, Jawa Tengah memiliki 8.559 toko kelontong. Di Jawa Barat, jumlahnya mencapai 5.829 warung dan 5.950 toko kelontong.

Jika digabungkan, enam provinsi di Pulau Jawa memiliki 24.656 warung dan 25.244 toko kelontong. Menurut materi sumber, jumlah tersebut mewakili lebih dari sepertiga warung dan hampir sepertiga toko kelontong secara nasional.

Konsentrasi toko tradisional ini membuat Pulau Jawa menjadi wilayah strategis bagi perusahaan FMCG dalam menjaga ketersediaan produk dan menjalankan aktivitas pemasaran di tingkat toko.

Namun, jangkauan distribusi tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah, termasuk pola belanja masyarakat dan kondisi pasar setempat.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru