Starbucks Terus Merugi! Akibat Aksi Boikot? Ternyata Ini Penyebab Utamanya

digtara.com - Raksasa kedai kopi dunia, Starbucks, melaporkan kinerja keuangan yang mengecewakan pada kuartal kedua tahun fiskal 2025.
Baca Juga:
Merek yang belakangan kerap menjadi sasaran boikot terutama di negara mayoritas Islam ini mencatat laba yang lebih rendah dari perkiraan serta penurunan penjualan yang cukup signifikan.
Penurunan ini disebut sebagai dampak dari strategi baru yang diterapkan oleh CEO perusahaan, Brian Niccol.
"Hasil keuangan kami memang belum mencerminkan kemajuan yang telah kami capai, namun kami memiliki momentum kuat lewat rencana 'Back to Starbucks'. Kami terus melakukan uji coba dan belajar dengan cepat, dan sudah mulai terlihat perubahan di kedai-kedai kami," ujar Niccol dalam sebuah video di situs resmi perusahaan, dikutip dari CNBC International, Rabu (30/4/2025).
Strategi Baru dan Dampaknya pada Keuangan
Salah satu perubahan besar yang dilakukan adalah menurunkan skala rencana otomasi proses pembuatan kopi dan mengalihkan fokus pada peningkatan kualitas layanan melalui penambahan tenaga kerja.
Namun, langkah ini justru membebani laba dalam jangka pendek.
"Dalam tahap pemulihan ini, laba per saham bukan indikator utama keberhasilan kami," tambah Niccol.
Di sisi lain, tantangan eksternal juga ikut menekan performa perusahaan.
Kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump, berpotensi memengaruhi biaya impor biji kopi, yang merupakan komponen penting dalam operasional Starbucks.
Menurut CFO Cathy Smith, sekitar 10% hingga 15% dari total biaya produk dan distribusi Starbucks berasal dari kopi hijau atau biji kopi mentah.
Kenaikan tarif dan volatilitas harga kopi menjadi dua faktor utama yang akan membayangi sisa tahun fiskal ini.
Penurunan Laba dan Margin Operasi
Starbucks melaporkan laba bersih kuartal kedua sebesar 384,2 juta dolar AS atau 34 sen per saham, turun drastis dari 772,4 juta dolar AS atau 68 sen per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Margin operasional juga menyusut tajam, dari 12,8% menjadi 6,9%, disebabkan oleh lonjakan pengeluaran untuk mendukung perubahan strategis dan peningkatan jumlah barista di gerai-gerai AS.
Efisiensi di Sisi Peralatan
Meskipun belanja tenaga kerja meningkat, Starbucks justru mengurangi pengeluaran untuk peralatan.
Perusahaan menghentikan rencana peluncuran sistem Cold Pressed Cold Brew serta membatalkan distribusi peralatan pemanas makanan.
"Kami percaya bahwa pendekatan baru yang berfokus pada tenaga kerja ini lebih efektif dalam memperkuat koneksi dengan pelanggan dan meningkatkan hasil bisnis, sekaligus menekan belanja modal jangka panjang," ungkap Niccol.

Pekerja Starbucks Mogok Kerja karena Gaji Tak Naik

VIRAL! Owner Momoidea Bela Israel-Sebut Tragedi Gaza Hoax, Netizen Geruduk hingga Serukan Boikot

Boikot Makin Meluas: Begini Cara Memeriksa Produk yang Pro Israel

Sediakan Makanan Gratis untuk Tentara Israel, McDonald's Kena Boikot di Beberapa Negara

Dugaan Korupsi Barang Cukai, Bupati Bintan Apri Sujadi Rugikan Negara Capai Rp 250 Miliar
