Mata Uang Garuda Jadi Korban Perang Dagang
Digtara.com | JAKARTA – Awal pekan ini. Semakin panas, Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China bisa kembali menyeret pergerakan rupiah.
Baca Juga:
Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail menilai, tren bearish rupiah bisa berlanjut karena sentimen negatif dari eksternal masih menyelimuti.
“Market belum priced in retaliasi apa yang akan dilakukan China untuk merespons kenaikan tarif impor oleh AS,” jelas dia seperti dilansir kontan.
Seperti diketahui, akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tarif impor atas produk asal China senilai US$ 200 miliar, dari 10% menjadi 25%.
Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan memperkirakan, mata uang Garuda akan kembali melemah lantaran pelaku pasar memburu dollar AS sebagai safe haven. Ia memprediksi, rupiah hari ini bergerak dalam rentang Rp 14.250–Rp 14.460 per dollar AS.
Senada, Mikail juga meramal hari ini rupiah akan kembali koreksi. Rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 14.300–Rp 14.350 per dollar AS.
Akhir pekan lalu (10/5), kurs spot rupiah menguat 0,23% menjadi Rp 14.327 per dollar Amerika Serikat (AS). Namun, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia turun 0,06% ke Rp 14.347 per dollar AS.
Yudi mengatakan,penguatan rupiah di akhir pekan lalu terjadi karena aksi profit taking setelah the greenback menguat dalam sepekan terakhir.
IHSG Hari Ini 16 Maret 2026 Berpotensi Koreksi, Simak Rekomendasi Saham ADMR, PTRO, TAPG
IHSG Diproyeksi Melemah 12 Maret 2026, Analis Rekomendasikan Saham BMRI, UNVR hingga BSDE
IHSG Hari Ini 11 Maret 2026 Menguat ke 7.440, Ini Rekomendasi Saham LSIP, BBCA hingga ASII
IHSG Hari Ini 10 Maret 2026 Berpotensi Koreksi, Ini Rekomendasi Saham ADRO, BBRI, BKSL, dan ENRG
Rekomendasi Saham Hari Ini 6 Maret 2026: IHSG Berpotensi Koreksi, Cermati ARCI, INCO, hingga NICL