Senin, 23 Februari 2026

50% Lebih Siswa dan Orangtua Sebut Belajar Jarak Jauh Membosankan

- Minggu, 19 April 2020 08:45 WIB
50% Lebih Siswa dan Orangtua Sebut Belajar Jarak Jauh Membosankan

digtara.com – Lebih dari 50% siswa dan orangtua sebut pembelajaran jarak jauh membosankan dan tidak efektif.

Baca Juga:

Menurut Koordinator KKSP Jakarta, Ismaini Sitompul M.Pd mengatakan sebanyak 61,5% siswa yang menjalankan pembelajaran jarak jauh selama penyebaran Covid-19 mengatakan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh membosankan dan 61,54% siswa mengaku tidak memahami materi yang diajarkan.

Selain tidak memahami materi yang diajarkan, siswa mengaku tidak fokus (30,77%), tidak memiliki fasilitas yang memadai (3,85%), dan kesulitan-kesulitan lainnya (3,85%).

Orangtua siswa dalam survey ini mengeluhkan ketidakfokusan anak seperti anak lebih banyak memilih menonton YouTube, bermain game, dan menonton kartun alih-alih belajar untuk tujuan pemahaman terhadap materi.

“Tidak hanya siswa, 76,92% orangtua siswa juga mengakui bahwa sistem Pembelajaran Jarak Jauh tidak efektif dan tidak sesuai dengan target pembelajaran meskipun 92,3% di antara mereka menyatakan turut mendampingi anaknya selama proses belajar,” katanya.

Bahkan, guru pun mengeluhkan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh tidak efektif (91%) dan tidak mencapai target pembelajaran (91%).

“Sebagai pendamping siswa selama belajar, orangtua menghadapi hambatan-hambatan dalam proses pendampingan seperti tidak fokus menampingi anak belajar karena pekerjaan rumah,” ungkapnya.

Tidak memahami mata pelajaran yang diajarkan, anak yang protes dengan sistam pembelajaran orangtua, jaringan internet yang kurang memadai.

Dia menjelaskan kesulitan dalam menjawab pertanyaan anak, dan orangtua yang tidak memahami penjelasan oleh guru atas arahan yang diberikan.

Di samping itu, guru juga mengalami hambatan-hambatan seperti tidak memiliki paket internet, tidak mempunya handphone android.

Sulit mengkondisikan anak karena tidak ada batasan ruang dan waktu, serta kewalahan dalam memeriksa hasil belajar karena harus standby terus menerus.

Fakta bahwa siswa dan orangtua mengakui ketidakefektifan sistem Pembelajaran Jarak Jauh tersebut kontradiktif dengan hasil survey ini yang menyatakan bahwa 92,31% siswa merasa kondisi rumah mendukung pembelajaran yang kondusif dan siswa menyukai fleksibilitas waktu (88,46%)

Yang ditawarkan oleh sistem Pembelajaran Jarak Jauh karena siswa tidak memiliki jam khusus untuk belajar (80,78%).

Nyatanya, kondisi rumah yang kondusif dan fleksibilitas waktu tersebut tidak berbanding lurus dengan pemahaman terhadap pelajaran dan juga antusiasme belajar siswa.

Selama Pembelajaran Jarak Jauh, internet mendominasi sumber belajar siswa (50%) dibandingkan dengan sumber belajar lainnya: guru (38,5%) dan lain-lain (11,54%).

Sebagai konsekuensi dari dominannya penggunaan internet sebagai sumber belajar, siswa harus mengeluarkan biaya pembelian paket internet.

Paket intenet tersebut 92,31% dibeli secara mandiri oleh siswa dan sisanya menggunakan pake intenet yang disediakan di rumah (3,85%).

Meskipun internet menjadi sumber informasi andalan untuk belajar, baik siswa maupun orangtua menyarankan untuk diadakannya pendampingan dan kontrol yang intensif dari guru selama Pembelajaran Jarak Jauh.

Beberapa saran spesifik dari orangtua jika Pembelajaran Jarak Jauh dijalankan lebih lama yaitu agar ada diskusi & koordinasi antara orangtua dan guru agar pembelajaran lebih efektif.

Dalam diskusi dan koordinasi tesebut, diharapkan ada muatan yang diberikan untuk orangtua sebagai pendamping siswa dalam belajar.

Inovasi-inovasi pembelajaran oleh guru yang mendorong pembelajaran dua arah juga diharapkan oleh orangtua.

Dia menambahkan inovasi tayangan TV nasional yang memuat konten-konten edukatif

bagi siswa juga diharapkan oleh orangtua. Dengan begitu, akan mengurangi biaya operasional untuk mengakses internet.

Pembelajaran Jarak Jauh mengambil konsekuensi pada berkurangnya biaya operasional oleh sekolah.

“Dalam proses belajar mengajar sehingga orangtua berharap ada pengurangan biaya,” tambahnya.(rel)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Dosen dan Mahasiswa Undana Dilarang Bertemu di Rumah

Dosen dan Mahasiswa Undana Dilarang Bertemu di Rumah

Unjukrasa di Kantor Gubernur dan Polda Sumut, BEM SI Desak Robohkan Diskotek Blue Night

Unjukrasa di Kantor Gubernur dan Polda Sumut, BEM SI Desak Robohkan Diskotek Blue Night

Pelajar Sekolah Terpencil di Kabupaten TTS Terima Bantuan Seragam dan Alat Tulis dari Polres TTS

Pelajar Sekolah Terpencil di Kabupaten TTS Terima Bantuan Seragam dan Alat Tulis dari Polres TTS

Siswa SD di Welai dan Fanating Dapat Bantuan Perlengkapan Sekolah dari Kapolres Alor

Siswa SD di Welai dan Fanating Dapat Bantuan Perlengkapan Sekolah dari Kapolres Alor

Ini sejumlah Temuan Atas Meninggalnya Siswa SD Korban Bunuh Diri di Kabupaten Ngada

Ini sejumlah Temuan Atas Meninggalnya Siswa SD Korban Bunuh Diri di Kabupaten Ngada

Demo Mahasiswa di Kupang Tolak KUHP Baru dan Pilkada Tak Langsung

Demo Mahasiswa di Kupang Tolak KUHP Baru dan Pilkada Tak Langsung

Komentar
Berita Terbaru