Relawan NU Peduli Se-Jateng Bersama Stakeholder Apel Kesiapsiagaan Bencana, Gus Rozin: Kita Tepiskan Perbedaan-perbedaan untuk Kemanusiaan
digtara.com - Sebagai langkah kongkrit dan antisipasi menghadapi bencana, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jawa Tengah menggelar jambore relawan NU Se-Jateng besama stakeholder selama dua hari, Jumat-Sabtu (24-25/07/2026) di Bumi Perkemahan Harda Walika, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Rozin menegaskan, urusan kemanusiaan menjadi nomor satu. Maka, ia ingin semua potensi di internal NU maupun eksternal bersinergi tanpa memandang agama, dan berbagai macam latar belakang korban maupun penolong.
Baca Juga:
Apel diikuti semua relawan dari berbagai unsur lembaga dan Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama seperti Banser Tanggap Bencana, dan Garda Fatayat NU, Pagar Nusa yang tergabung dalam relawan LPBINU untuk menyukseskan gerakan NU Peduli atau NU Care.
Sedangkan dari unsur kebencanaan eksternal, terdapat relawan Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Majelis Tafsir Al-Qur'an (MTA), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Rumah Zakat dan sebagainya.
"Jadi tidak hanya di antara kelompok-kelompok muslim saja, tetapi bahkan antar agama itu juga harus kita kerja sama dengan baik. Kita tepiskan perbedaan-perbedaan itu untuk kemanusiaan," tegas Gus Rozin.
Ia menilai, butuh koordinasi yang baik antar lembaga, antar institusi, terutama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan diutamakan pula di internal NU.
Baca Juga:Sebab, kata dia, NU memiliki banyak kader potensial yang harus dikelola dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) gerakan NU Peduli. Aksi-aksi individual lembaga maupun Banom NU tidak akan memberikan pelayanan yang maksimal.
"Ini kan butuh SOP yang jelas ya, SOP yang dipatuhi. Ini yang terus kita sosialisasikan," urainya.
Ia menegaskan, setiap ada kejadian bencana, NU bisa di depan, datang lebih dulu, penanganan lebih cepat, dan penanganan yang lebih tepat.
Terkait pelayanan bagi survivor atau korban bencana, ia menekankan pentingnya peningkatan kompetensi para relawan selaku penolong, salah satunya kompetensi di bidang Dapur Umum (DU) yang menjadi fokus simulasi kegiatan ini.
"Kalau tidak salah pada rangkaian kegiatan hari ini pelatihan untuk dapur umum, kita sudah mengusahakan juga dapur berjalan yang kapasitasnya cukup besar ya, di atas 300, di atas 500," jelasnya.
"Nah kalau ada dapur yang mobile itu kan bisa lebih cepat dan efisien di waktunya," katanya.
Di lain sisi, dirinya juga meminta semua pihak menyadari bahwa kegiatan Tanggap Darurat Bencana (TDB) tidak terbatas pada persoalan kebutuhan makan.
"Tapi pasca bencana itu kan tidak hanya makan saja kan, yang penting kan memulihkan suasana psikologi para penyintas," ungkapnya.
Maka dari itu, PWNU Jawa Tengah mendorong penanganan holistik yang juga menyentuh aspek psikologis korban (trauma healing). Untuk mewujudkan hal ini, NU Peduli siap menggandeng akademisi perguruan tinggi (khususnya Fakultas Psikologi), organisasi perempuan seperti Fatayat NU, hingga komunitas kemanusiaan lainnya.
Baca Juga:"Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan cuma memikirkan pemulihan fisik dan rumah yang rusak, tapi juga mengembalikan kehormatan dan kesehatan mental para korban," pungkas Gus Rozin. (San).
Memaknai Kembali Kemerdekaan ala Gus Rozin
Gandeng 19 Media Massa, Ma'arif Jateng Komitmen Bangun Ekosistem Pendidikan Karakter Berbasis Digital
Rois Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh; NU Harus Bisa Memberi Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Gus Rozin; Satu Abad NU Adalah Jejak Khidmah yang Terus Hidup di Tengah Umat
Peringati Se-abad NU, PWNU Jateng Gelar Apel Kemanusiaan Di Batang