Awas! Ibadah Kurban Tak Sah Jika Hewan Terinfeksi PMK

Minggu, 10 Juli 2022 09:03
ist
PMK mewabah di Indonesia jelang Idul Adha

digtara.com – Penyakit mulut dan kuku (PMK) mewabah di Idul Adha 1443 Hijriah kali ini. Wabah ini menyebabkan hewan kurban seperti sapi, kerbau, kambing menjadi lesu, kuku luka, gigi dan mulut sariawan sehingga menyebabkan air liur berlebih. Kurban Tak Sah PMK

MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam fatwa terbaru menyebutkan ada potensi ibadah kurban tidak sah, jika hewan kurban terinfeksi PMK (penyakit mulut, dan kuku).

Dalam fatwa MUI Nomer 32 tahun 2022 disebutkan ada tiga kategori ibadah kurban jika hewan kurban teinfeksi PMK, yakni meliputi ibadah kurban sah, ibadah kurban tidak sah, dan hanya dianggap sebagai sedekah.

Baca: PMK dan Covid-19 Pengaruhi Kenaikan Penjualan Kambing di Medan Jelang Idul Adha 1443 H

Saat hewan kurban terinfeksi PMK, ibadah kurban tetap sah jika hewan hanya mengalami gejala ringan seperti kondisi lesu, tidak nafsu makan, mengeluarkan air liur yang berlebih, serta mengalami pelepuhan celah kuku ringan.

Tapi hewan kurban yang bergejala berat PMK, ibadah kurban tetap sah jika hewan kurban telah sembuh dari PMK dalam rentang waktu kurban, yakni pada 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Tapi hewan kurban yang bergejala berat PMK, ibadah kurban tetap sah jika hewan kurban telah sembuh dari PMK dalam rentang waktu kurban, yakni pada 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Lalu ibadah kurban dianggap tidak sah, jika hewan kurban yang digunakan masih mengalami gejala berat dalam rentang waktu kurban, atau saat proses sembelih dilakukan hewan masih dalam kondisi kuku melepuh hingga terlepas, kaki pincang, dan hewan jadi sangat kurus.

Sedangkan jika hewan bergejala berat, dan baru sembuh dari sakit setelah rentang waktu berkurban terlewat, tapi tetap ingin dikurbankan maka statusnya bukan ibadah kurban dan bukan hewan kurban, tapi hanya dipandang sedekah.

Laman: 1 2

Berita Terkait