Amblasnya Jembatan Desa Hajoran Diduga Akibat Maraknya Aktivitas Galian C

Selasa, 15 November 2022 18:06
ist
Jembatan Penghubung Desa Hajoran Amblas, 9 Desa di Paluta Terisolir

digtara.com – Terkait peristiwa amblasnya jembatan penghubung jalan lintas Desa Hajoran Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang mengakibatkan terisolirnya sembilan desa diduga bukan hanya diakibatkan tingginya curah hujan. Namun ada juga dugaan disebabkan oleh banyaknya aktivitas galian C di sepanjang jalur sungai yang diduga banyak yang beroperasi tanpa izin.

Informasi yang dihimpun dari salah seorang warga desa Hajoran bermarga Siregar, amblasnya jembatan tersebut disinyalir juga merupakan efek dari aktivitas galian C yang begitu marak di sepanjang jalur sungai maupun di sekitar bantaran sungai.

“Bukan hanya akibat curah hujan itu, kerusakan itu juga pasti merupakan efek dari banyaknya aktivitas galian C yang bebas beroperasi di sepanjang sungai,” kata pria berusia 53 tahun ini kepada awak media, Senin (14/11/2022).

Menurutnya, aktivitas galian C yang begitu marak dan bebas beroperasi tersebut sudah berlangsung cukup lama yakni diketahui sejak tahun 2014 lalu. Dirinya tidak tahu apakah ada yang punya izin atau tambang galian C yang beroperasi tersebut ilegal karena sebagai masyarakat awam dirinya kurang faham terkait administrasi perizinan.

“Tradisional maupun modern mulai dari hulu dan di hilir jembatan di sepanjang sungai banyak yang beroperasi dan banyak yang menggunakan alat berat dan mesin penyedot,” terangnya yang diaminkan oleh warga lainnya.

Sebagai warga, dirinya sangat menyesalkan banyaknya aktivitas galian C yang marak tersebut sehingga banyak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar terutama lahan pertanian.

Sebab menurutnya, ada sekitar 100 hektar lahan persawahan yang rusak dan tidak berproduksi lagi akibat aktivitas galian C tersebut.

“Banyak sawah masyarakat yang longsor dan ada juga saluran airnya rusak sehingga dalam 3 tahun terakhir tidak berfungsi lagi. Kalau kerusakan jembatan ini sudah kami prediksi dari dulu,” jelasnya.

Untuk itu, ia berharap agar pemerintah dan pihak berwajib dapat memperhatikan aktivitas galian C yang marak beroperasi atau mengkaji ulang terkait penerbitan izin galian C tersebut.

Dijelaskannya, dulu ketika adanya permintaan persetujuan berupa tanda tangan masyarakat, sebagian besar masyarakat tidak tahu bahwa persetujuan itu untuk aktivitas tambang galian C.

“Dulu ada diminta persetujuan tanda tangan, tapi setahu kami itu untuk perbaikan dan pelebaran jalur sungai untuk mengantisipasi banjir dan luapan air sungai,” terangnya.

Terpisah, Ketua LPP Tipikor RI kabupaten Paluta Akhirruddin Siregar mengatakan bahwa ambruknya jembatan di Desa Hajoran merupakan kelalain pemerintah Kabupaten Paluta atas banyaknya menerbitkan izin galian C di Desa Hajoran.

Tak hanya itu, Pemkab Paluta juga tidak membatasi kualitas jalan tonase bagi kendaraan yang hilir mudik di sekitar Desa Hajoran. Dia menuding Pemkab Paluta juga tidak pernah melakukan perawatan terhadap jembatan-jembatan yang ada di daerah aliran sungai di Kabupaten Paluta.

“Menurut analisa kami penyebab utama ambruknya jembatan di Desa Hajoran ini dikarenakan banyaknya aktivitas galian C baik di hulu maupun di hilir yang menggunakan alat berat maupun secara manual yang memudahkan terkikisnya dasar dari pondasi jembatan,” ungkapnya, Senin (14/11).

Dirinya mengaku heran atas maraknya aktivitas galian C yang terkesan bebas beroperasi tanpa adanya teguran baik dari dinas terkait maupun pihak kepolisian.

Seolah-olah ada pembiaran dari kedua lembaga tersebut atas maraknya aktivitas galian C yang diduga tak berizin tanpa memikirkan akibatnya sehingga menyebabkan ambruknya jembatan di Desa Hajoran.

Sebagaimana diketahui, amblasnya badan jembatan di Desa Hajoran terjadi pada, Minggu (13/11) dini hari, sekitar pukul 01.30 WIB sehingga mengakibatkan 9 desa terisolir.

Jembatan amblas diduga karena tergerus arus sungai yang meluap akibat tingginya curah hujan yang mendera selama beberapa hari belakangan.

 

Berita Terkait