Tani Optima Group Rubah Pola Kerja Petani, Hasil Jagung Tembus 6–7 Ton per Hektar
digtara.com -PT Tani Optima Group hadir di daratan Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan fokus pada pengelolaan tanaman jagung.
Baca Juga:
Mereka menilai wilayah NTT memiliki potensi jagung yang cukup besar karena merupakan lahan subur.
Kehadiran mereka bukan sekedar menanam dan panen namun mulai mengubah pola kerja petani di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui pendampingan berbasis teknologi dan data, hasil panen jagung yang sebelumnya rendah kini melonjak hingga 6–7 ton per hektar.
Perusahaan yang bergerak di bidang pertanian regeneratif dan berkelanjutan ini mulai beroperasi di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur. Program yang diusung bertajuk Ekosistem Jagung Gotong Royong Tani Optima Group dengan visi "Menuju NTT Lumbung Jagung Nasional".
Dampak program tersebut mulai dirasakan petani setempat. Hal itu ditandai dengan panen perdana yang dihadiri Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Rabu (1/4/2026) petang bersama Wakapolda NTT, Brigjen Baskoro Tri Prabowo.
Direktur Tani Optima Group, Ferdy Purnama, mengatakan peningkatan hasil panen tidak terlepas dari perubahan pola kerja petani di lapangan.
"Sebenarnya masalahnya bukan di tanah atau iklim, tetapi di manusianya. Selama ini masih menggunakan pola lama. Kalau dulu jam 10 baru ke lahan, sekarang jam 7 sudah harus di lahan dan terkontrol," ujarnya usai panen perdana diatas lahan seluas 0,5 hektar di RT 050, Kelurahan Naibonat.
Menurut Ferdy, sebelum pendampingan dilakukan, rata-rata hasil panen jagung di NTT hanya berkisar 1 hingga 2,6 ton per hektar. Namun setelah penerapan metode baru, produktivitas melonjak signifikan.
"Dari hasil project yang sudah berjalan, panen riil petani bisa mencapai 6,3 hingga 6,4 ton per hektar. Ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan di Jawa bisa diterapkan di NTT," jelasnya.
Selain perubahan pola kerja, Tani Optima juga menerapkan sistem kontrol berbasis teknologi untuk memantau aktivitas petani secara real time. Sistem ini memastikan setiap tahapan budidaya berjalan sesuai standar.
Tak hanya itu, perusahaan juga membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Hasil panen petani telah dijamin melalui kerja sama dengan Perum Bulog untuk pembelian jagung, bahkan sebagian dipasarkan ke Pulau Jawa.
Ferdy menambahkan, potensi lahan di NTT sangat besar, dengan ketersediaan lahan kering mencapai jutaan hektar dan kondisi agroklimat yang mendukung.
"Tahun ini kami targetkan mengelola 2.000 hingga 3.000 hektar, dan kedepan bisa mencapai 10.000 hektar. Kami juga dorong petani bisa tanam dua kali dalam setahun," katanya.
Program ini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan literasi petani agar mampu beradaptasi dengan sistem pertanian modern.Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan lama petani. Namun dengan hasil yang mulai terlihat, ia optimistis semakin banyak petani akan mengikuti pola baru tersebut.
"Kami yakin, dengan hasil yang baik ini, petani lain akan termotivasi untuk berubah," tandasnya.
Pihaknya juga berupaya agar pengelolaan lahan pertanian bisa dilakukan dua kali dalam setahun. "Kita coba rubah musim tanam (MT) dari satu kali menjadi dua kali," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan air maka pihaknya memanfaatkan musim hujan untuk proses tanam.
Musim tanam pertama akan dimulai di akhir Oktober. Saat jagung siap dipanen maka sudah dipersiapkan MT 2 pada Februari sehingga terjadi peningkatan produksi jagung.
Untuk pemasaran, jagung hasil panen pun bisa dibeli oleh Bulog. "Bulog siap menampung dan membeli jagung hasil panen petani," tandasnya.