Kamis, 19 Maret 2026

Polisi di Tapal Batas NKRI-RDTL 'Memanusiakan' Mantan Narapidana Dengan Pemberdayaan Ekonomi

Imanuel Lodja - Selasa, 17 Maret 2026 15:54 WIB
Polisi di Tapal Batas NKRI-RDTL 'Memanusiakan' Mantan Narapidana Dengan Pemberdayaan Ekonomi

digtara.com -Tersangka dan narapidana biasanya mendapat tanggapan miring di kalangan masyarakat karena bersentuhan dengan kejahatan dan tindak pidana.

Baca Juga:

Ada banyak tersangka bahkan narapidana walaupun sudah bebas dari masa hukuman namun tetap mendapat penghakiman sosial bahkan dikucilkan dari pergaulan.

Namun sosok polisi di Polres Belu ini malah memberdayakan sejumlah bekas tahanan dan eks narapidana untuk kegiatan positif bahkan bisa menghidupi keluarga mereka.

Brigpol Paesal, SH, anggota Satuan Resnarkoba Polres Belu memilih 'memanusiakan' mantan tersangka dan eks narapidana ini melalui pemberdayaan skill mereka melalui bengkel las dan aneka kegiatan pemberdayaan ekonomi.

Baca Juga:
Di bengkel las 'Atambua Juragan 86', Brigpol Paesal mengajak empat orang pria yang selama ini merupakan preman untuk mengelola bengkel las tersebut.

Brigpol Paesal, Bintara Polri jebolan SPN Polda NTT tahun 2013 dan merupakan Seba angkatan 37 kebetulan memiliki latar belakang bidang pertukangan dan mekanik.

Kemampuan ini dimanfaatkan memberdayakan pemuda yang selama ini dikenal bersentuhan dengan hukum dan pemuda pengangguran.

Paesal memodali mereka dengan menyiapkan segala sarana mulai dari peralatan kerja hingga pakaian kerja serta memberi mereka upah yang layak.

Di bengkel yang terletak di Jalan Loro Lamaknen-Tini, Kelurahan Manuaman, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, NTT. Brigpol Paesal merintis bengkel las yang juga tempat cuci sepeda motor.

Bengkel ini berdampingan dengan kios sekaligus untuk isi ulang air galon dan rumah tinggalnya sehingga memudahkan ia mengawasi mereka bekerja.

Baca Juga:
Saat ini di bengkel 'Atambua Juragan 86', Brigpol Paesal mempekerjakan empat orang pria yang rata-rata merupakan warga sekitar rumahnya dan merupakan pengangguran bahkan pernah berurusan dengan hukum.

Jahir, misalnya pernah berurusan dengan hukum karena dilaporkan melakukan kasus penipuan dan penggelapan.

Kebetulan saat itu, Brigpol Paesal masih menjadi penyidik di Satuan Reskrim Polres Belu dan menangani kasus yang melibatkan Jahir.

Dalam curhatannya ke Brigpol Paesal, Jahir berterus terang kalau ia datang ke Atambua, kabupaten Belu untuk proyek pembangunan asrama dan kantor di salah satu instansi aparat keamanan.

Namun karena ketiadaan uang dan kebutuhan untuk mengobati anak yang sakit, ia nekat menjual sejumlah daun pintu sehingga dipolisikan.

Ia beralasan kalau upahnya tidak dibayar. Pemilik proyek beralasan kalau Jahir sudah banyak memiliki kas bon sehingga Jahir pun nekat melakukan aksinya demi kebutuhan keluarga.

Baca Juga:
Pasca kasus ini, Jahir tidak lagi pulang ke Kupang. Kebetulan ia memiliki keterampilan untuk las sehingga Brigpol Paesal pun mengajak Jahir bekerja di bengkelnya.

Bersyukur dari pekerjaan ini, Jahir bisa menghidupi keluarganya dan sudah tekun dengan pekerjaannya saat ini.

Rekan Jahir yang lain juga merupakan mantan preman yang selama ini bersentuhan dengan hukum karena tidak memiliki pekerjaan tetap.

Mereka pun diakomodir bekerja di bengkel tersebut dan saat ini sudah beberapa tahun menjadi pekerja di bengkel tersebut sehingga memiliki pendapatan tetap bahkan sudah bisa membeli sepeda motor dan kebutuhan lainnya.

Brigpol Paesal pun rajin memposting hasil kerja mereka di media sosial sehingga saat ini mulai banyak pelanggan. Selama beberapa tahun terakhir ini, pekerja di bengkel yang semula berurusan dengan hukum mulai bisa merubah hidup mereka dan bisa menghidupi keluarga.

Bengkel berukuran sekitar 5x15 meter persegi itu bukan sekadar tempat mencari penghasilan tambahan. Disanalah ia mulai mengajari anak-anak muda di kampungnya yang sebelumnya sering terlibat pergaulan bebas, mabuk-mabukan, hingga membuat keributan.

Baca Juga:
"Saya lihat mereka sebenarnya punya kemauan, hanya tidak ada yang mengarahkan," katanya.

Di bengkel sederhana itu mereka belajar membuat berbagai pesanan, mulai dari pagar rumah, teralis jendela, kursi, papan nama hingga pintu besi.

Para pekerja itu tidak digaji bulanan. Penghasilan mereka berasal dari pembagian hasil setiap pesanan yang dikerjakan bersama. Hasilnya cukup untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan keluarga.

"Kalau ada pekerjaan, hasilnya kita bagi sama-sama. Alhamdulillah, istri mereka mengaku ekonomi mereka mulai membaik dan perilaku juga terus berubah," ujar Paesal.

Kondisi keamanan di lingkungan sekitar juga berubah. Keributan yang dulu sering terjadi kini hampir tidak pernah terdengar lagi.

Ia kemudian mengembangkan usahanya dengan menambah tempat cuci motor agar bisa mengakomodir pemuda lainnya bekerja.

Baca Juga:
Aktif Dengan Kegiatan Sosial

Brigpol Paesal juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Waktu luang terutama akhir pekan dimanfaatkan untuk keliling ke desa-desa sambil berbagi berkat dengan warga.

Walau ia merupakan pemeluk agama Islam, namun ia rutin berkunjung ke susteran dan panti asuhan bahkan menemui langsung warga di desa dan kebun sekedar berdialog dan membagikan sembako.

seluruh Sembako yang diberikan dibeli dari uang sendiri. "Ada kepuasan tersendiri saat saya datang dan bertemu warga serta bisa membantu mereka," ujar Brigpol Paesal.

Terkadang bantuan yang diberikan dititipkan melalui rekan polisi untuk berbagi ke desa dan lingkungan tempat tinggalnya.

Paesal yang pernah menjadi ketua remaja masjid (Remas) Hidayatullah Atambua 2016 ini sering berkunjung ke susteran Alma memberikan dana dan sembako.

Baca Juga:
Saat menjadi Ketua Remas, Paesal malah menggagas program untuk mencari donatur dengan merangkul para pemuda lintas agama. Dana yang terkumpul dipakai untuk kegiatan kemanusiaan.

Pembagian pun tidak memandang suku, agama dan ras. "Pokoknya ada yang berkekurangan kami bantu tanpa memandang agama dan suku," tandasnya.

Bantuan biasanya dititipkan ke gereja GMIT Policarpus Atambua atau ke susteran Alma dititipkan melalui rekannya Brigpol Benny da Silva dan bagi warga di Tenukik dititipkan melalui Ipda Nando.

Bantuan sembako diberikan hanya karena rasa keterpanggilan dan peduli pada sesama.

Ia fokus membagikan bantuan ke desa. Usai berdinas, ia mengendarai sepeda motor untuk melihat warga yang membutuhkan. Begitu bertemu warga yang berkekurangan ia langsung memberikan bantuan uang atau sembako.

Ia juga rutin ke tempat sampah di Pasar baru Atambua dan menemui petugas sampah pada malam hari. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk bercerita dengan petugas sampah dan pemulung sambil memberikan bantuan.

Baca Juga:
Karena rutin ke lokasi tersebut, maka petugas sampah sampai mengenalinya dan hafal padahal saat ia datang, ia tidak memakai pakaian dinas.

Bantuan itu ia lakukan menggunakan uang pribadi, kadang dibantu oleh para donatur dan rekan-rekannya. Ia tidak pernah membedakan latar belakang penerima bantuan.

"Tidak hanya untuk warga muslim, tapi untuk semua yang membutuhkan," katanya.

Awalnya semua kegiatan itu ia lakukan tanpa diketahui publik. Namun belakangan ia mulai membagikan kegiatannya di media sosial atas arahan pimpinan agar lebih banyak pesan positif yang bisa disampaikan kepada masyarakat.

"Masih banyak masyarakat kita yang sangat membutuhkan. Sehingga sangat positif jika hal baik yang kita lakukan, kita bagikan di medsos agar menggerakkan lebih banyak orang untuk berbagi," sebutnya.

Paesal yang merupakan lulusan Bintara Polri angkatan 37 SPN Kupang itu masih memiliki banyak rencana. Ia ingin memperkuat gerakan pemuda lintas agama untuk bersama-sama membantu masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga:
Selain itu, ia juga ingin lebih sering masuk ke sekolah-sekolah untuk berbagi cerita dan memotivasi para pelajar agar menjauhi narkoba, kekerasan, dan pergaulan bebas.

Bagi Paesal, perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang cukup dari bengkel kecil di sudut kota. "Kalau banyak orang terlibat membantu, saya yakin banyak anak muda bisa keluar dari tantangan hidup mereka," katanya.

Karir Paesal di kepolisian dimulai dari orientasi selama satu tahun empat bulan di Sabhara Polda NTT. Setelah itu ia dimutasi ke Unit Turjawali Sabhara Polres Belu.

Perjalanannya terus berlanjut. Pada 2017 ia dipercaya menjadi ajudan Kapolres.Belu, AKBP Yandri Irsan.

Setahun kemudian, pada 2018, ia masuk ke Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) sebagai penyidik. Kini, sejak Maret 2025, ia mengemban tugas sebagai penyidik di Satuan Narkoba Polres Belu.

Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa mengapresiasi kinerja anggotanya yang bisa berbagi dan menjaga toleransi di tapal batas.

Baca Juga:
Ia berharap dengan kegiatan ini akan banyak warga yang terbantu dan menandakan bahwa Polri merupakan mitra masyarakat yang peduli dengan kehidupan masyarakat.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Lokasi Judi Dekat Sekolah Di Tapal Batas NKRI-RDTL Dibubarkan Polisi

Lokasi Judi Dekat Sekolah Di Tapal Batas NKRI-RDTL Dibubarkan Polisi

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Siswa di Perbatasan NKRI-RDTL Perkuat Literasi

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Siswa di Perbatasan NKRI-RDTL Perkuat Literasi

Polisi Perketat Pengawasan Orang Asing di Perbatasan RI–RDTL

Polisi Perketat Pengawasan Orang Asing di Perbatasan RI–RDTL

Ketua FKPT NTT Ajak Masyarakat Pertebal Rasa Cinta Pada NKRI

Ketua FKPT NTT Ajak Masyarakat Pertebal Rasa Cinta Pada NKRI

Satu Tahun Kedepan Wilayah Perbatasan RI-RDTL Dijaga Satgaspur

Satu Tahun Kedepan Wilayah Perbatasan RI-RDTL Dijaga Satgaspur

Warga TTU Usul Penyelesaian Batas RI-RDTL Melalui Mekanisme Adat, Bupati TTU Segera Temui Presidente Autoridade Oecuse

Warga TTU Usul Penyelesaian Batas RI-RDTL Melalui Mekanisme Adat, Bupati TTU Segera Temui Presidente Autoridade Oecuse

Komentar
Berita Terbaru