Rasyid Assaf Dongoran Tawarkan Tiga Solusi Kesejahteraan di Tabagsel

Kamis, 10 Januari 2019 13:26

digtara.com | MEDAN – Praktisi Lingkungan Hidup, Rasyid Assaf Dongoran, mengidentifikasi tiga persoalan utama yang masih menjadi momok bagi perwujudan kesejahteraan di lima wilayah di Tapanuli Bagian Selatan, yang meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padanglawas Utara dan Kota Padang Sidempuan.

Pertama adalah persoalan lingkungan yang belum dikelola secara baik, hingga menyebabkan lima kabupaten itu kerap dilanda banjir dan tanah longsor dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Korban jiwa pun telah berjatuhan.

Kedua adalah persoalan tingginya angka angkatan kerja di tengah minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Tercatat saat ini, jumlah angkatan kerja di Tabagsel sekitar 400 ribu orang. Sementara yang terserap ke sektor formal, hanya sekitar 5 persen, dan sisanya kebanyakan menjadi petani.

Persoalan pertanian menjadi masalah selanjutnya. Hingga saat ini pengelolaan pertanian di Tabagsel belum dilakukan secara profesional dengan persektif bisnis yang mensejahterakan. Padahal petani menjadi profesi kebanyakan warga di Tabagsel.

“Persoalan ini telah berlarut-larut dan tak kunjung bisa diselesaikan, karena yang memperjuangkan rakyat Tabagsel selama ini di DPRD Sumut, tidak mengerti akan hal tersebut. Mereka justru terjebak dalam kegiatan-kegiatan seremonial dan prosedural yang justru semakin menjauhkan masyarakat dari solusi yang mereka harapkan,”sebut Rasyid kepada digtara, Kamis (10/1/2019).

Untuk ketiga persoalan utama itu, Rasyid yang menamatkan pendidikan Sarjana Ilmu Biologi Lingkungan dan S-2 dibidang Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dengan Beasiswa itu, telah menyiapkan solusi strategis yang dapat segera diaplikasikan untuk menyelesaikan ketiga persoalan utama itu.

Pertama adalah menyiapkan rencana mitigasi bencana melalui pengelolaan hutan lestari. Rencana mitigasi ini penting, agar pemanfaatan kawasan hutan di kawasan Tabagsel lebih berwawasan lingkungan dan tidak justru mendatangkan bencana bagi masyarakatnya. Sehingga sumber kemiskinan warga akibat harta benda yang rusak disebabkan bencana, bisa diminimalisir.

Kedua adalah menyiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi sebagai motor utama penggerak ekonomi di Tabagsel. Sudah saatnya masyarakat di Tabagsel berpikir tentang nilai tambah akan produk-produk pertanian yang selama ini mereka produksi. Sehingga perekonomian mereka semakin baik.

Terakhir adalah menetapkan kluster komoditi unggulan di lima wilayah di Tabagsel. Sehingga ke depannya masing-masing wilayah di Tabagsel memiliki produk unggulan sendiri, yang pengelolaannya bisa dilakukan secara terpadu dengan dukungan infrastruktur dari pemerintah.

“Saya putra Tapanuli Selatan yang sudah 20 tahun mengabdikan diri di Tabagsel melalui Program Pertanian dan Kehutanan. Keahlian saya memang di bidang Kehutanan, Pertanian Ramah Alam dan Pengembangan Usaha Mikro. Saya juga sudah mengenyam banyak pelatihan soal itu. Bahkan hingga ke luar negeri. Jadi saya sangat paham bagaimana mengaplikasikannya. Bidang ilmu saya memang disitu,”sebut pria kelahiran Desa Lobutayas itu.

“Sekarang saya persembahkan diri saya untuk masyarakat Tabagsel. Berikan saya kepercayaan untuk mewujudkan solusi itu,”tegas pria yang saat ini maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPRD Sumatera Utara nomor urut 5 dari Partai Golongan Karya (Golkar) untuk dapil Sumut-7 (Tabagsel).

Maju sebagai caleg DPRD Provinsi kata Rasyid, adalah pengabdian dan bukan untuk sekedar ikut-ikutan berbangga dilantik jika berhasil. Oleh karena itu pengabdian yang ia janjikan, sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

“Kita menawarkan diri sebagai wakil rakyat, bukan wakil partai. Itu yang mau kita tawarkan. Saya fokus di ketiga bidang itu dan tidak menawarkan bidang kesehatan, karena itu bukan bidang saya,”tandas Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut itu.

[AS]

Berita Terkait