Enam Desa di China Ubah Popularitas Viral Jadi Peluang Ekonomi Bersama
digtara.com -Popularitas di media sosial tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa. Hal tersebut terlihat dari kolaborasi enam desa di China yang mengembangkan kawasan wisata secara bersama.
Baca Juga:
Kisah tersebut diangkat dalam episode terbaru serial video Decoding Rural China's Governance dari People's Daily berjudul One Green Haven, Six Linked Villages.
Serial tersebut mengulas tata kelola di tingkat akar rumput dan perkembangan wilayah pedesaan di berbagai daerah China. Episode terbaru ini menyoroti bagaimana enam desa mengubah perhatian publik di dunia maya menjadi peluang pembangunan yang dapat dinikmati bersama.
Desa Xixinan Viral Sejak 2023
Salah satu desa yang menjadi perhatian adalah Xixinan. Desa tersebut viral pada 2023 setelah foto-foto yang menampilkan suasana hijau dan pemandangan bak negeri dongeng tersebar di berbagai platform digital di China.
Lonjakan popularitas kemudian meningkatkan kunjungan wisatawan. Namun, kondisi tersebut juga memunculkan sejumlah pertanyaan bagi pengelola desa.
Salah satunya adalah bagaimana menghasilkan pendapatan dari kunjungan wisatawan tanpa mengenakan tiket masuk. Pertanyaan lainnya adalah bagaimana manfaat ekonomi dari meningkatnya wisatawan dapat dibagikan kepada desa-desa di sekitarnya.
Baca Juga:
Xixinan kemudian tidak berjalan sendiri. Bersama lima desa lain di sekitarnya, desa tersebut membentuk jaringan pariwisata yang menghubungkan berbagai atraksi dalam satu kawasan.
Enam Desa Bangun Destinasi Wisata Terintegrasi
Enam desa tersebut mengembangkan berbagai pengalaman wisata yang saling melengkapi.
Beberapa di antaranya adalah wisata rakit bambu, kereta wisata, homestay, hingga tur malam menggunakan lentera berbentuk ikan.
Berbagai atraksi tersebut kemudian dihubungkan menjadi satu rute perjalanan. Model ini diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama dan menghabiskan lebih banyak waktu di kawasan tersebut.
Dengan meningkatnya lama kunjungan, manfaat ekonomi juga dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha lokal.
Alih-alih bersaing untuk mendapatkan wisatawan, keenam desa memilih pendekatan pengembangan klaster. Setiap desa mengembangkan usaha yang berbeda, tetapi tetap menghubungkan sumber daya wisata dan peluang ekonomi dalam satu jaringan.
Sistem Bagi Hasil Libatkan Enam Desa
Salah satu aspek utama dari kerja sama tersebut adalah mekanisme pembagian pendapatan.
Sebanyak 70 persen pendapatan diberikan kepada desa tempat sebuah usaha beroperasi. Kemudian, 20 persen dibagikan berdasarkan rasio kepemilikan awal.
Dalam pembagian 20 persen tersebut, Desa Xixinan memperoleh 5 persen, sedangkan lima desa lainnya masing-masing mendapatkan 3 persen.
Sementara itu, 10 persen sisanya disimpan oleh perusahaan operasional tingkat kota sebagai modal kerja.
Baca Juga:
Mekanisme tersebut memungkinkan setiap desa memperoleh manfaat dari sumber daya pariwisata yang dikembangkan secara bersama. Pada saat yang sama, masing-masing desa tetap memiliki ruang untuk mengembangkan produk dan usaha khasnya.
Lebih dari 70 Persen Warga Bekerja di Sektor Pariwisata
Perkembangan sektor pariwisata juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian masyarakat setempat.
Lebih dari 70 persen penduduk di wilayah tersebut bekerja di sektor pariwisata.
Pada 2025, masing-masing desa mencatat pendapatan lebih dari 1 juta yuan atau sekitar 140.000 dolar AS. Pendapatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa manfaat dari aktivitas wisata mulai tersebar ke berbagai desa dalam satu kawasan.
Kisah enam desa tersebut menunjukkan bagaimana popularitas yang awalnya muncul dari media sosial dapat dikembangkan menjadi sistem pariwisata yang lebih terintegrasi.
Dengan menghubungkan enam desa melalui rute wisata, pembagian pendapatan, dan pengembangan usaha yang saling melengkapi, kawasan tersebut mencoba mengubah arus kunjungan wisatawan menjadi peluang pembangunan ekonomi pedesaan secara lebih luas.
Baca Juga:
Kapolda NTT Ajak Wartawan dan Masyarakat Promosikan Destinasi Wisata Lokal di NTT