Rupiah Bakal Relatif Stabil Pekan Depan
digtara.com | JAKARTA – Meskipun begitu, pasar SBN tahun depan diprediksi masih akan menarik bagi investor asing. Mulai berkurangnya investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) Tanah Air, disinyalir karena adanya apresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga:
Berdasarkan data hingga 20 Desember 2019 kepemilikan asing SBN tercatat Rp 1.064,30 triliun, atau turun Rp 3,5 triliun dari akhir November lalu. Merujuk pada data tersebut, Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengungkapkan ada beberapa penyebab yang membuat kepemilikan asing di SBN lesu.
Salah satunya, karena apresiasi rupiah terhadap dolar AS dalam waktu yang sama antara akhir November hingga 20 Desember sebanyak 0,9%. Sementara itu, penurunan kepemilikan asing dalam rupiah hanya 0,3%.
“Karenanya, secara denominasi dolar AS justru asing melakukan penambahan kepemilikan di Surat Utang Negara (SUN),” kata Fikri.
Menurut Fikri, kenaikan SUN tersebut masih cukup beralasan berkaca dari risiko dari sentimen perang dagang yang mulai mereda. Kondisi tersebut juga diikuti sentimen pasar yang lebih baik, sehingga investor global relatif lebih risk on.
Di samping itu, investor asing juga masih memandang yield SUN Tanah Air masih sangat menarik. Yield SUN untuk tenor 10 tahun juga bergerak stabil dengan kecenderungan naik di antara 7,10% hingga 7,34%.
“Ke depan saya pikir asing masih akan masuk ke pasar Indonesia karena yield SUN yang masih menarik, spread yield SUN-US Treasury juga masih tebal. Contohnya, untuk tenor 10 tahun masih berada di atas 500 basis points (bps),” ungkap Fikri.
Selain itu, Fikri juga memandang bahwa kondisi rupiah bakal relatif stabil di angka Rp 13.900 per dolar AS hingga Rp 14.100 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Meskipun begitu, dia menegaskan bahwa tetap ada berbagai hal yang perlu menjadi perhatian pasar ke depan, seperti komposisi kepemilikan asing berdasarkan tenor. Menurut dia, mungkin akan lebih baik bila komposisinya lebih merata sebagai bentuk risk sharing.
Sementara itu, potensi shortfall pajak dan defisit primer APBN ke depan juga perlu jadi perhatian dan dijaga. Ditambah lagi, defisit perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) Indonesia dalam jangka panjang seharusnya mampu memberikan harapan bagi penurunan yield dan stabilnya rupiah, serta terbentuknya national saving yang lebih baik.
Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini, Bergerak di Kisaran Rp17.940–Rp17.990 per Dolar AS
Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed