Keperkasaan Dolar AS Seret Mata Uang Garuda
digtara.com | JAKARTA – Data Bloomberg, pada penutupan kemarin, rupiah di pasar spot turun tipis 0,05% menjadi Rp 14.095 per dolar AS di mana Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyeret mata uang Garuda.
Baca Juga:
Setali tiga uang, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia juga melemah 0,11% ke Rp 14.096 per dolar AS.
Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, belum adanya kejelasan negosiasi dagang antara AS dan China membuat dollar AS kembali unggul atas mata uang lainnya, termasuk rupiah.
“Terlebih dalam assessment Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell kemarin positif. Ini memberi sinyal bahwa The Fed kemungkinan tidak akan pangkas suku bunga acuan lagi di sisa tahun ini dan membuat the greenback kembali menguat,” jelas dia.
Direktur Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan, untuk hari ini, rupiah bakal menanti hasil data estimasi kedua dari pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam kuartal III-2019.
Pada estimasi pertama, ekonomi AS hanya tumbuh 1,9%. Angka ini melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang capai 2%. Asal tahu saja, proyeksi para analis memperkirakan Gross Domestic Product (GDP) AS di triwulan III ada di level 1,9%.
Karena itu, hari ini rupiah berpeluang kembali melemah dalam rentang Rp 14.080-Rp 14.115 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Josua memperkirakan, pergerakan mata uang Garuda masih stabil dengan kecenderungan turun di kisaran Rp 14.060-Rp 14.125 per dolar AS.
IHSG Ditutup Menguat ke 7.057 pada 5 Mei 2026, Saham TPIA, UNVR, dan BBRI Jadi Penggerak
IHSG Ditutup Menguat ke 6.971 pada 4 Mei 2026, Saham BBNI, BREN, dan TLKM Jadi Penopang
IHSG Hari Ini Ditutup Menguat ke 7.101, Saham BREN dan AMMN Jadi Penopang Utama
IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini 29 April 2026, Uji Level 7.270, Simak Rekomendasi Saham Pilihan Analis
IHSG Hari Ini 28 April 2026 Berpotensi Lanjut Koreksi ke 7.022, Ini Rekomendasi Saham ARCI hingga TINS