Selama 3 Hari, Rupiah Semakin ‘Loyo’
Digtara.com | JAKARTA – Pada awal perdagangan Selasa (3/9/2019) pukul 8,39 WIB menguat dalam tiga hari perdagangan berturut-turut hingga kemarin, nilai tukar rupiah kembali melemah pada pagi ini.
Baca Juga:
Di mana Rupiah spot berada di Rp 14.219 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,18% jika dibandingkan dengan harga penutupan kemarin pada Rp 14.194 per dolar AS.
Sementara, pelemahan rupiah ini terjadi di tengah kenaikan nilai tukar dolar AS. Indeks dolar hari ini mencapai level tertinggi sejak Mei 2017. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ini berada di 99,14.
Tak sendirian, rupiah melemah bersama dengan hampir seluruh mata uang Asia. Pelemahan terbesar dicatatkan oleh mata uang Korea Selatan, won yang turun 0,27%. Di posisi ketiga setelah rupiah, dolar Singapura pun melemah 0,16%. Hanya kurs yuan offshore yang pagi ini menguat tipis terhadap the greenback.
Kabar buruk global masih membayangi pasar keuangan. Selain kenaikan tarif AS dan China, pasar global menghadapi sentimen negatif dari krisis Argentina dan no-deal Brexit yang disokong oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.
Ketiga sentimen negatif tersebut mengiringi kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Sejumlah PMI manufaktur yang dirilis menunjukkan bahwa aktivitas pabrik masih tertekan pada bulan Agustus lalu.
Hari ini, Institute for Supply Management (ISM) akan merilis survei manufaktur AS. Hingga saat ini, ISM masih berada di atas 50 meski aktivitas manufaktur menurun. Jika ISM yang dirilis hari ini bagus, maka tekanan turun pasar keuangan menjadi lebih terbatas.[kontan]
Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini, Bergerak di Kisaran Rp17.940–Rp17.990 per Dolar AS
Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik
Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Menanti Hasil RDG BI dan Arah Kebijakan The Fed