Rabu, 21 Februari 2024

Juni 2019, Inflasi Sumut Semakin tak Terkendali

- Selasa, 02 Juli 2019 00:36 WIB
Juni 2019, Inflasi Sumut Semakin tak Terkendali

Digtara.com | MEDAN – Lagi-lagi, laju tekanan inflasi di sumut pada bulan juni sangat mengecewakan sekali. Laju realisasi inflasi sebesar 1.63 persen di bulan juni menambah beban berat bagi sumatera utara dalam pencapaian target inflasi di akhir tahun. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyami kepada wartawan hari ini.

Baca Juga:

“Realisasinya memang jauh lebih buruk sekitar 3 kali lipat dibandingkan dengan realisasi laju tekanan inflasi nasional yang sebesar 0.55 persen. Laju tekanan inflasi sebesar itu telah mengerek realisasi inflasi selama tahun berjalan di angka 4.25 persen,” katanya.

Dia menjelaskan sudah melewati batas ambang 3.5 persen. Dan hanya sedikit lagi mencapai 4.5 persen. Jika inflasi menyentuh 4.5 persen, maka laju tekanan inflasi di sumut sudah lampu merah. Realisasi laju tekanan inflasi sebesar itu tentunya tidak baik bagi perekonomian sumut

“Namun, kita juga harus adil memberikan penilain terkait buruknya realisasi laju tekanan inflasi di wilayah sumut,” jelasnya.

Dia menegaskan salah satu penyebab utana adalah kenaikan harga cabai. Selama tahun berjalan 2019, harga cabai yang meroket dari kisaran 15 ribu per kg menjadi 80 ribuan saat ini telah mengerek laju inflasi lebih dari 3 persen

“Sejarah berulang kembali, dimana laju tekanan inflasi karena cabai membuat sumut paling buruk kinerjanya dalam mengendalikan harga dan memperburuk data beli masyarakat. Tetapi memang cabai ini komoditas yang sulit sekali dikendalikan harganya,” paparnya.

Dan masalah kenaikan harga selalu dikarenakan gangguan persediaan dimana faktor utama penyebabnya adalah di tingkat petani. Gangguan hama, cuaca, erupsi sinabung menjadi masalah besar dalam pengendalian harga cabai

Dan faktor- faktor tersebut sangat sifatnya tidak bisa di prediksikan atau unpredictable. Jadi memang sebaiknya pemerintah daerah turun langsung kelapangan untuk melihat langsung kelapangan.

“Yang kita butuhkan itu keseimbangan stok dilapangan yang bisa tersedia jika kita mengecek langsunh kondisinya dan dikumpulkan datanya,” terangnya.

Dia menerangkan sebagai contoh, sebelum terjadi kenaikan harga, saya menemukan ada gangguan tanam petani yang sangat serius dimana batang cabai itu berwarna hitam yang mengakibatkan pohon cabai mati. Ditambah lagi erupsi, ya sudah membuat cabai menjadi tidak bisa dikendalikan harganya

“Nah saat ini, ancaman selanjutnya yang bakal terjadi adalah kemungkinan ke depan harga cabai terpuruk hingga ke Rp20-ribuan. Kita selalu ingat sejarah, dimana aat cabai harganya meroket setelah itu akan terpuruk,” terangnya.

Dia menambahkan dan ini akan merugikan petani nantinya. Nah hal hal yang seperti ini seharusnya dimiliki pemerintah kita dalam memformulasikan kebijakan untuk mengantisipasinya.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru