Sabtu, 11 April 2026

Inflasi 3,48 Persen Maret 2026, Daya Beli Masyarakat Tertekan akibat Harga Pangan dan Energi

Arie - Sabtu, 11 April 2026 08:30 WIB
Inflasi 3,48 Persen Maret 2026, Daya Beli Masyarakat Tertekan akibat Harga Pangan dan Energi
net
Ilustrasi

digtara.com -Tekanan terhadap daya beli masyarakat Indonesia semakin terasa seiring kenaikan biaya hidup, terutama pada komoditas esensial seperti pangan dan energi.

Baca Juga:

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,76 persen, namun tetap menunjukkan tekanan signifikan terhadap ekonomi rumah tangga.

Inflasi Didominasi Faktor Suplai

Jika ditelusuri lebih dalam, inflasi yang terjadi bukan didorong oleh peningkatan daya beli masyarakat.

Baca Juga:
Komponen inflasi inti hanya berada di level 2,52 persen YoY, sementara harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencapai 6,08 persen dan harga bergejolak (volatile foods) sebesar 4,24 persen YoY.

Hal ini menunjukkan bahwa inflasi lebih banyak dipicu oleh gangguan dari sisi suplai, terutama kenaikan harga energi dan pangan.

Pendapatan Riil Masyarakat Tergerus

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan riil masyarakat. Pengeluaran untuk kebutuhan pokok menjadi semakin besar sehingga ruang konsumsi untuk kebutuhan lain semakin terbatas.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, M. Rizal Taufikurahman, menyebut masyarakat cenderung menyesuaikan dengan mengurangi konsumsi atau menurunkan kualitas konsumsi.

"Dalam kondisi ini, ruang penyesuaian sangat terbatas sehingga konsumsi akan ditekan," ujarnya.

Baca Juga:
Daya Beli Melemah, Konsumsi Terancam

Penurunan daya beli ini tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan porsi konsumsi masyarakat turun menjadi 71,6 persen pada Februari 2026.

Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2020, saat ekonomi terdampak pandemi Covid-19.

Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan porsi lebih dari 53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ancaman Inflasi dari Harga Pangan dan BBM

Tim ekonom PT Bank Central Asia Tbk juga mengingatkan potensi kenaikan inflasi ke depan, terutama dari sektor pangan dan energi.

Baca Juga:
Penurunan luas panen padi berpotensi menekan pasokan dan memicu kenaikan harga pangan domestik.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia meningkatkan risiko penyesuaian harga BBM. Kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 10 hingga 15 persen diperkirakan dapat menambah inflasi sebesar 1,8 hingga 2,2 persen.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada konsumsi, tetapi juga berpotensi menekan daya tarik aset berbasis rupiah.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Hindari Ancaman Inflasi Jelang Nataru, Sarif Kakung Minta Pemda Fokus Waspadai Harga Pangan

Hindari Ancaman Inflasi Jelang Nataru, Sarif Kakung Minta Pemda Fokus Waspadai Harga Pangan

IHSG Masih Menguat ke Level 7.100 pada Rabu, Tapi Waspada Potensi Koreksi

IHSG Masih Menguat ke Level 7.100 pada Rabu, Tapi Waspada Potensi Koreksi

Kemendagri Soroti 214 Pemda Tidak Berupaya Menangani Inflasi, Langkat tidak Termasuk

Kemendagri Soroti 214 Pemda Tidak Berupaya Menangani Inflasi, Langkat tidak Termasuk

Antisipasi Inflasi Jelang Ramadhan, Faisal Hasrimy Gelar Gerakan Pasar Murah di Kecamatan Sei Lepan

Antisipasi Inflasi Jelang Ramadhan, Faisal Hasrimy Gelar Gerakan Pasar Murah di Kecamatan Sei Lepan

Kendalikan Laju Inflasi, Pemko Binjai Gelar Pasar Murah

Kendalikan Laju Inflasi, Pemko Binjai Gelar Pasar Murah

Siasati Inflasi, Komisi III DPRD Medan Gelar RDP

Siasati Inflasi, Komisi III DPRD Medan Gelar RDP

Komentar
Berita Terbaru