Minim Biaya, Penderita Hidrosefalus di Kupang Pasrah
digtara.com – Yuanita Banamtuan terbaring tak berdaya dalam sebuah kontrakan reot berukuran 3×3 meter, di jalan Suratim, RT 05 RW 13, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Balita malang berusia empat tahun itu menderita Hidrosefalus atau penumpukan cairan dalam rongga fertikel otak.
Baca Juga:
- Pastikan Standar Kualitas, Kesehatan, dan Cita Rasa Nusantara Bagi Jemaah, Menhaj Tinjau Langsung Kesiapan Dapur di Madinah
- Penuhi Asupan Pangan Berkualitas Jemaah Haji 2026, Menhaj Inisiasi Program Beras Haji Nusantara
- Agar Tak Punah, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah Mendorong Anak Muda untuk Ambil Peran Merawat Warisan Budaya Nusantara
Yuanita diasuh sendiri oleh sang nenek Yane Selan (65), setelah ditinggal merantau oleh ayah dan ibunya yang kini tak lagi berkabar sejak Yuanita berusia satu tahun.
Tiga bulan terakhir ibu kandung Yuanita sudah tidak memberi kabar, serta menafkahi dia dan neneknya.
Kehidupan nenek Yane Selan dan bocah Yuanita Banamtuan sungguh memperihatinkan.
Mereka berdua bergantung pada belas kasih kerabat, serta tetangga.
Dengan berurai air mata, nenek Yane menceritakan kisah pilu Balita Yuanita. “Waktu lahir Dia (Yuanita) normal tapi kepala lembek seperti tidak ada tulang,” kata Yane, Sabtu (9/10/2021).
Saat Yuanita berumur dua bulan, ukuran kepalanya mengalami perubahan.
“Dia menangis terus dan kepalanya mulai tambah besar,” ungkap nenek Yane.
Karena tidak memiliki biaya, sakit yang diderita bayi Yuanita tidak segera ditangani.
“Setiap saat kepalanya tambah besar. Dia tidak bisa duduk, hanya tidur saja dan digendong saja,” ujar Yane.
Berbekal surat keterangan tidak mampu, bayi Yuanita pernah dioperasi pada tahun 2020.
Namun setelah itu tidak dilakukan perawatan lanjutan, lagi-lagi ketiadaan biaya.
“Untuk makan saja kami susah pak, apalagi untuk berobat,” ujar nenek Yane sambil menitikan air mata.
Dalam ketidakberdayaan, nenek Yane dan Yuanita pasrah pada kebesaran Tuhannya.
“Semoga cucu saya suatu saat bisa sembuh. Dia mengerti apa yang kita omong tapi Dia tidak bisa balas,” tandasnya.
Camat Kelapa Lima, I Wayan Astawa saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya sudah mengunjungi nenek Yane dan Yuanita.
“Untuk bayi Yunita, kami mendapat informasi bahwa dia menderita gizi buruk dan hidrosefalus. Sesuai rencana kerja, kami melakukan monitoring terhadap seluruh penderita gizi buruk di wilayah kecamatan Kelapa Lima, termasuk bayi Yunita,” jelas Wayan.
Dia menyayangkan para penderita gizi buruk, termasuk keluarga bayi Yunita tidak terdata sebagai penduduk di Kota Kupang. Namun pihaknya akan berusaha untuk memberikan pelayan terbaik bagi bayi Yunita.
“Dengan kepengurusan yang sudah dibantu oleh teman – teman lurah, adik ini kita akan ajukan BPJS kemudian kita akan tindaklanjuti penanganan tahap kedua, dan kita usahakan untuk dibiayai oleh pemerintah,” ungkap Wayan.
Camat juga mengimbau seluruh masyarakat dari luar kota Kupang yang berdomisili di Kota Kupang, agar melapor kepada pemerintah setempat sehingga memudahkan dalam penanganan gizi buruk dan stunting.
Pastikan Standar Kualitas, Kesehatan, dan Cita Rasa Nusantara Bagi Jemaah, Menhaj Tinjau Langsung Kesiapan Dapur di Madinah
Penuhi Asupan Pangan Berkualitas Jemaah Haji 2026, Menhaj Inisiasi Program Beras Haji Nusantara
Agar Tak Punah, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah Mendorong Anak Muda untuk Ambil Peran Merawat Warisan Budaya Nusantara
Kapolda NTT Resmikan Sembilan Titik Sumur Bor dan Pos Kamling Nusantara di Kota Kupang
Sempat Diperiksa di Alor, Miras Ilegal Ditemukan Lagi di KM Sabuk Nusantara 38