Jumat, 30 Januari 2026

Yanti Nasution dan Kisah Brutal PKI di Teuku Umar 40

- Sabtu, 19 Juni 2021 03:35 WIB
Yanti Nasution dan Kisah Brutal PKI di Teuku Umar 40

digtara.com – Kabar duka dari keluarga pahlawan nasional Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution. Hardianti Saharah Nasution atau kerap disapa Yanti Nasution meninggal dunia pada Jumat (18/6/2021) petang.

Baca Juga:

Kakak dari Ade Irma Suryani itu kembali ke sang Khaliq pada pukul 17.20 WIB. Putri sulung Jenderal AH Nasution itu dikabarkan sempat menjalani perawatan di RS Pusat Pertamina Jakarta.

“Dalam situasi pandemi, berkenan utk tidak berkunjung/ takziyah ke rumah duka dan sangat diharapkan utk mendoakan atau melaksanakan shalat ghaib utk Almarhumah dari kediaman masing² kerabat, teman dan handai taulan,” tulis keluarga, Adil Kesuma melalui pesan tertulis.

Ia pun meminta doa dan memohon maaf atas alhmarhum. “Kiranya dapat dibukakan pintu maaf atas salah/khilaf Almarhumah semasa hidupnya dan insyaAllah keluarga yg ditinggalkan ikhlas dan sabar menjalani ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala ini,” imbuhnya.

Saksi Peristiwa 30 S PKI

Yanti Nasution adalah saksi penting kala terjadi peristiwa serangan 30 September 1965, di mana, ayahnya menjadi salah satu jenderal yang menjadi target penculikan.

Pagi itu, 1 Oktober 1965, sekira pukul 03.30 WIB, kata Yanti, segerombolan orang yang disebut-sebut merupakan pasukan Tjakrabirawa datang ke kediaman Kepala Staf ABRI, Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat.

Pagi itu terasa sangat gaduh bagi putri pertama Jenderal Nasution, Hendrianti Saharah Nasution.

Yanti hafal betul orang-orang tersebut masuk, kemudian secara tiba-tiba menyerang kediamannya. Padahal, rumah Jenderal Nasution selalu dijaga oleh pasukan TNI. Pada malam 30 September 1965 pun, masih tampak sekira 30 petugas berjaga di depan rumah Yanti.

yanti nasution
Keluarga Jenderal (Purn) AH Nasution. (foto ist)

“Tapi kan Kolonel Latief waktu itu komandan Garnisun kan. Jadi tentunya yang jaga itu melihat, yang datang mereka kenal kan. Langsung dikunci mereka di pos jaga yang depan, pos jaga yang besar. Jadi mereka dengan seenaknya mendobrak pintu masuk ke dalam rumah,” ujar Yanti kepada Okezone.

Mendengar suara gaduh di luar, istri Jenderal Nasution, Johanna Sunarti membuka pintu kamar tak terlalu lebar. Ia mengintip di sela-sela pintu yang tak terbuka lebar tersebut. Dilihatnya pasukan Tjakrabirawa sedang mencari Jenderal Nasution.

“Terus ibu saya bilang ke ayah saya, ‘itu yang mau bunuh kamu datang,’ ujar Yanti menirukan ucapan ibunya kala itu.

Jenderal Nasution merasa tertantang. Ia bersiap keluar. Namun, langkahnya dihalangi Sunarti. “Jangan Nas,” ucap Sunarti kepada Nasution ditirukan oleh Yanti.

Pasukan tersebut mulai menggedor-gedor pintu menggunakan senjatanya. Jenderal Nasution tak kuasa menahan hasrat untuk membuka pintu kamar. Sesaat setelah membuka pintu kamar, peluru dari salah seorang pasukan Tjakrabirawa melesat dan hampir melukai Sunarti.

Suara tembakan masih terus terdengar. Sunarti meminta suaminya untuk bersembunyi.

“Sudah Nas kamu selamatkan diri, kamu yang dicari,” ucap Sunarti ditirukan Yanti.

Suara tembakan para Tjakrabirawa tersebut juga membangunkan nenek serta tantenya Yanti. Nenek panik dan menangis histeris. Hal itu diketahui oleh para pasukan Tjakrabirawa.

Sunarti bergerak cepat menitipkan anaknya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani ke tante Mardiah – adik dari Jenderal Nasution. Sunarti berupaya membantu suaminya untuk bersembunyi menyelamatkan diri.

Namun karena panik, Mardiah membuka salah satu pintu. Ternyata, pintu yang dibuka tersebut sudah ditunggu oleh pasukan Tjakrabirawa. Beberapa kali letusan terdengar, ‘dor, dor, dor,’. Peluru panas yang berasal dari senjata api Tjakrabirawa mengenai Mardiah dan Ade Irma Suryani.

Suasana bertambah kacau. Sunarti kembali menutup dan mengunci pintu yang dibuka Mardiah. Darah sudah berlumuran di badan Ade Irma Suryani. Sunarti pun memohon kepada suaminya, Jenderal Nasution, untuk pergi bersembunyi.

“Nas, kamu selamatkan diri, karena kamu yang dicari, kalau kita-kita kan enggak dicari,’ jadi selamatkan diri,” kata Sunarti ditirukan Yanti.

Jenderal Nasution mengamini permintaan istrinya. Pak Nas akhirnya melompati pagar samping rumahnya. Ia bersembunyi di belakang drum besar yang ada di pekarangan Kedutaan Besar (Kedubes) Irak. (okezone).

 

Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube TVDigtara. Jangan lupa, like comment and Subscribe.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
:
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru