Senin, 26 Februari 2024

Ini Alasan Kapolres Manggarai Barat Tindak Tegas Orator di Labuan Bajo

Redaksi - Selasa, 02 Agustus 2022 02:11 WIB
Ini Alasan Kapolres Manggarai Barat Tindak Tegas Orator di Labuan Bajo

digtara.com – Kapolres Manggarai Barat, AKBP Felli Hermanto, SIK MSi yang dikonfirmasi, Senin (1/8/2022) terkait aksi kekerasan aparat terhadap aksi massa mengakui adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat saat penangkapan.

Baca Juga:

Aksi kekerasan dan tindakan tegas aparat dilakukan karena orator dan beberapa orang yang hendak ditangkap sempat melakukan perlawanan.

“Itu reaksi (dari aparat), karena yang bersangkutan melawan, (saat diamankan),” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa yang diamankan tersebut adalah orang-orang yang berorasi dan ada beberapa orang lainnya yang diduga sebagai penyusup yang ikut dalam aksi tersebut.

Baca: Gubernur NTT Bakal Tindak Tegas Pihak yang Intimidasi Wisatawan di Labuan Bajo

Kapolres Felli kembali menegaskan bahwa penangkapan tersebut berlangsung di Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Ia beralasan aksi massa tersebut telah mengancam obyek vital nasional dan juga menghalangi kedatangan para tamu ke Labuan Bajo.

“Masalahnya sudah memasuki dan melawan menerobos pagar obyek vital nasional yang menghambat kedatangan tamu dan wisatawan manca negara,” kata Felli.

Baca: Gelar Aksi, Aktivis Formapp Labuan Bajo Ditangkap Polisi

Kapolres Felli juga mengklaim bahwa memiliki video saat penangkapan di bandara. Dan aksi tersebut tidak ada pemberitahuan sama sekali ke pihak kepolisian.

Ada aksi kekerasan

Sementara itu dari video yang beredar di grup whatsapp Travel Bussines Komodo yang terdiri dari elemen pelaku pariwisata dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo terdapat aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian bersenjata lengkap.

Aparat menendang dan memukuli massa yang melakukan aksi pungut sampah di Labuan Bajo sebagai buntut dari aksi mogok massal.

Aksi mogok massal selama satu bulan tersebut akibat dari pemberlakuan tarif masuk Pulau Komodo dan Pulau Padar sebesar Rp. 3.75 juta yang ditetapkan Pemerintah.

Massa menginginkan pemerintah kembali melakukan revisi terhadap penetapan tarif masuk Pulau Komodo dan Pulau Padar karena telah membunuh sektor pariwisata di Labuan Bajo.

Massa hanya meminta perhatian pemerintah untuk menunda dan menurunkan pemberlakukan tarif masuk ke Pulau Komodo dan Pulau Padar dengan alasan konservasi.

Baca: Hendak ke Labuan Bajo, Mobil Bawa 4 WNA Alami Kecelakaan Tunggal, Bodinya Ringsek

Aksi mogok massal yang dilakukan pelaku pariwisata dan operator pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat berujung penangkapan terhadap sejumlah orang dan ketua Formapp Manggarai Barat, Rafael Todowela pada Senin (1/8/2022).

Mereka ditangkap paksa di sekitar Puncak Wairingin Labuan Bajo oleh aparat kepolisian dari Polres Manggarai Barat dan Brimob Labuan Bajo bersenjata lengkap.

“Sekitar 10-an orang (yang ditangkap) tapi kalau untuk teman yang saya tahu itu yang setahu saya sendiri enam orang. Tapi informasi semua sepuluh orang,” kata seorang pelaku pariwisata Rio Prakoso saat dihubungi Senin (1/8/2022) siang.

Dia menyampaikan penangkapan terhadap massa pelaku pariwisata yang melakukan aksi mogok terjadi di Puncak Wairingin. Dan yang ditangkap dari informasi yang diperoleh Rio sekitar 10 orang.

Diakui Rio, ada beberapa dari sepuluh orang yang ditangkap polisi dikenali olehnya.

Mereka adalah Ahyar Abadi, Luis, Rafael Todowela (Ketua Formapp) dan Afand.

Dia membantah jika penangkapan terhadap massa yang melakukan aksi tersebut berlangsung di Bandara Komodo seperti disampaikan Kapolres Manggarai Barat, AKBP Felli Hermanto.

“Di Puncak Wairingin penangkapannya bukan di Bandara”, ujar Rio yang ikut dalam aksi mogok tersebut.

Rio menyebutkan penangkapan tersebut dilakukan polisi bersenjata lengkap saat massa tiba di Puncak Wairingin dan Luis salah satu pelaku wisata sedang melakukan orasi untuk mengakhiri kegiatan pungut sampah selama aksi mogok massal.

Dalam penangkapan tersebut juga, polisi bersenjata lengkap melakukan kekerasan seperti menendang dan memukul massa saat akan melakukan penangkapan.

Rio mengklaim memiliki bukti-bukti video kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian saat menangkap beberapa massa aksi di Puncak Wairingin.

“Kalau dari aparat jelas ada (kekerasan) dan bukti-bukti video ada,” ungkapnya.

Buntut dari penangkapan tersebut, saat ini para pelaku pariwisata dari berbagai asosiasi dan elemen masyarakat merasa resah dan ketakutan.

Rio menjelaskan tidak tahu menahu alasan penangkapan tersebut dan pembubaran paksa tersebut dilakukan aparat kepolisian.

Menurut Rio saat berada di Bandara Komodo dipastikan tidak ada aksi apapun selain melakukan pungut sampah di luar areal bandara.

“Tidak ada aksi di bandara, tidak ada, tidak ada. Saya jamin itu. Tidak aksi demo di bandara,” ujar Rio.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News

Ini Alasan Kapolres Manggarai Barat Tindak Tegas Orator di Labuan Bajo

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru