Nagih Hutang Jangan Begini, Bisa Berujung Laporan ke Polisi

  • Whatsapp
nagih hutang
Menagih hutang dengan papan bunga ini berujung laporan ke polisi. Uang tidak dapat penagih malah terjerat hukum (int/digtara)

digtara.com – Pengelola Arisan, Mia Widaningsih (19), melaporkan balik Irene Junita karena mengirimkan karangan bunga untuk nagih hutang Rp 1 miliar di acara pernikahan kakaknya. Perbuatan Irene dinilai masuk kategori pencemaran nama baik.

“Menurut saya, perbuatan itu masuk (pencemaran nama baik), (karena) tidak pada tempatnya dalam hubungan masalah nikah itu dimasukkan ucapan-ucapan yang seperti itu. Kalau menurut saya itu masuk,” kata ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Muzzakir, kepada wartawan, Minggu (24/1/2021).

Muzakkir menyebut awal tindakan menagih utang melalui ruang publik tidak diperbolehkan, sekalipun orang yang ditagih terbukti memiliki utang.

Muat Lebih

“Salah, salah. Jadi tidak boleh mempermalukan orang meskipun benar sekalipun tapi mempermalukan orang tetap penghinaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Muzakkir menyarankan agar pihak yang merasa diutangi menempuh jalur hukum. Dia menilai tidak etis jika penagihan utang dilakukan dalam sebuah acara pernikahan.

“Itu mau persoalan mau tanggapi itu atau nggak ruangnya itu harusnya di pengadilan, kalau memang dia keberatan tagih utangnya itu. Jadi kalau dia mau tagih utang, gugatlah di pengadilan gitu. Buktikan dia punya utang,” terang Muzakkir.

“Tidak boleh membuat statement-statement yang statement itu bisa menyerang nama baik orang. Walaupun orang itu benar sekalipun, tapi nggak boleh, apalagi terkait masalah pernikahan dan sebagainya itu nggak boleh,” imbuhnya.

Muzakkir mengaku pernah memberi kesaksiannya dalam kasus serupa. Di mana seseorang mempublikasikan laporan dugaan korupsi yang dilakukan oknum melalui media cetak. Saat itu, Muzakkir menyatakan hal ini masuk ke tindak pidana.

“Dulu saya pernah memberi keterangan ke kepolisian juga gitu, orang dilaporkan ke KPK. Laporan ke KPK itu dipotong terus dipublikasikan separuh halaman Kompas bahwa orang ini telah saya laporkan, ini laporannya di bawah itu. Saya bilang itu masuk sebagai tindak pidana. Karena apa? Kan laporan belum tentu benar. Seandainya benar tetap nggak boleh, karena tindakan pelaporan itu untuk dirahasiakan sampai kepada putusan pengadilan,” paparnya.

“Karena laporan itu siapa saja bisa melapor, tapi mempublikasikan ulang itu nggak boleh. Ya kalau dia habis laporan menyampaikan konpers (konferensi pers) nggak apa-apa, wajar saja. Itu pasang iklan, seperti yang pernikahan itu,” lanjutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan