Pemko Medan Harus Aktif Antisipasi Ancaman Sindrome Burnout Pada Siswa Sekolah

Pemko Medan Harus Aktif Antisipasi Ancaman Sindrome Burnout Kepada Anak Sekolah
Christina Hasibuan (baju pink) dalam satu kesempatan melakukan kegiatan bersama anak-anak. (Istimewa)

digtara.com – Pemko Medan diminta lebih aktif mengantisipasi ancaman Sindrome Burnout ketika anak mengikuti program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Burnout merupakan kondisi dimana anak mengalami stress dan kelelahan baik fisik maupun emosional karena beban belajar yang berlebihan.

“Salah satu tanda anak mengalami burnout terlihat dari penurunan tampilan akademik bahkan gejala psikosomatis. Mereka tidak selalu ikut belajar dengan baik sekalipun memiliki akses,” terang psikolog anak Christina Hasibuan, Minggu (20/9/2020).

Christina mengatakan tantangan pelaksanaan PJJ tidak sekadar soal sarana belajar online, seperti ketersediaan laptop, hp android dan kuota internet. Tetapi juga soal metode, materi, dan pendampingan belajar.

Muat Lebih

Hasil survei Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menemukan, tidak semua anak yang memiliki hp android dan kuota internet, aktif belajar setiap hari. Dari 125 siswa yang memiliki hp android dan kuota internet, hanya 29,60 persen yang setiap hari mengikuti pembelajaran.

Sedangkan sisanya, 70,40 persen pernah absen beberapa kali. Survei GNI melibatkan 227 respoden yang berada di Medan dan Deliserdang yang merupakan siswa dari tingkat SD, SMP dan SMA.

 

KURIKULUM

Lebih lanjut, ia mengatakan Pemko Medan perlu membangun sistem pendukung agar anak tidak absen dari PJJ. Dalam hal ini, Pemko harus memperhatikan empat faktor penting, yaitu kurikulum, peran orangtua, interaksi guru-siswa, dan konseling sebaya.

Kurikulum merupakan titik kritikal. Sekalipun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah tegas menyatakan, bahwa pembelajaran selama pandemi tidak menuntaskan kurikulum, akan tetapi masih banyak guru yang kesulitan menterjemahkan kebijakan ini.

Dijelaskannya, tidak semua guru mampu memilih kompetensi dasar esensial untuk diajarkan kepada siswanya sendiri. Ini yang membuat guru masih menggunakan buku teks kurikulum 2013 sebagai satu-satunya sumber belajar.

“Padahal selama PJJ, pembelajaran diharapkan bermakna, menyenangkan dan kontekstual agar siswa memiliki kecapakan hidup,” jelasnya.

Lebih lanjut Christina mengatakan, adanya kepastian kurikulum yang tidak membebani siswa, dapat mengurangi beban belajar. Saat ini Kemendikbud sudah meluncurkan kurikulum khusus yang fokus kepada kompetensi esensial, akan tetapi dalam pemanfaatannya tergantung kebijakan daerah.

“Sebaiknya penggunaan kurikulum diatur oleh Pemko Medan untuk mencegah kesenjangan mutu antar sekolah. Tidak semua sekolah punya sumber daya yang mumpuni untuk menterjemahkan kurikulum kedalam pembelajaran di masa pandemi,” terangnya.

 

Peran Orangtua…

Pos terkait

Tinggalkan Balasan