Perang Narkoba Duterte Tewaskan lebih dari 5000 orang sejak 2016

Jumat, 21 Desember 2018 05:47

Digtara.com | MANILA – Lebih dari 5000 orang dikabarkan tewas dalam perang narkoba yang digencarkan presiden Flipina Rodrigo Duterte sejak ia mempin 2016 lalu

Hal tersebut diungkapkan Derrick Carreon, seorang juru bicara untuk lembaga penindak narkoba Filipina (PDEA).

“untuk jumlah resmi antara Juli 2016 dan akhir November tahun ini, sebanyak 5.050 nyawa hilang, sebagian besar di tangan polisi,” ucapnya.

Seperti yang dilansir dari The Guardian, perang terhadap narkoba merupakan titik fokus Duarte dalam menjalankan sistem pemerintahannya

Derrick Carreon mengatakan, jumlah korban resmi tersebut sangat jauh dari perkiraan yang disampaikan oleh kelompok-kelompok pemerhati hak asasi manusia, yang bervariasi dari 12.000 hingga 20.000 jiwa.

Sebelumnya, ketua komisi Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) Fliphina Chito Gascon mengatakan jumlah korban meninggal bisa mencapai 27.000 jiwa. Namun, ia kesulitan untuk mendapatkan angka pastinya, karena pihak kepolisian tidak mau terbuka dalam catatan operasi anti-narkoba.

Ketua Komisi HAM Filipina, Chito Gascon, mengatakan jumlah korban tewas dalam perang narkoba Duterte bisa mencapai 27.000 jiwa. Sebab kata dia, pegiat HAM sulit untuk menyelidiki kematian itu karena polisi menahan catatan operasi anti-narkoba.

“Kami menjamin Anda bahwa polisi, PDEA dan semua lembaga penegak hukum memprioritaskan target bernilai tinggi,” katanya.

“Tetapi jangan dikatakan bahwa kegiatan narkoba ilegal di tingkat jalanan tidak boleh diabaikan. Mereka sama-sama sakit kepala dengan orang-orang di komunitas,” tegasnya.

Awalnya, banyak yang mendukung aksi Duturte tersebut, namun karena korban terus berjatuhan membuat masyarakat mulai mengkritik perang narkoba tersebut.

Bahkan, pengadilan pidana internasional sedang melakukan penyelidikan awal ke Duterte untuk menentukan apakah perang obat biusnya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Carreon membela peningkatan jumlah korban tewas, dan mengatakan bahwa kehidupan polisi yang melakukan penggerebekan narkoba sering terancam.

“Secara alami, kekuatan sepadan harus dilaksanakan untuk mengusir ancaman,” ucapnya.

Berita Terkait