Rabu, 21 Februari 2024

Wabah Pendemi Virus Korona Masih Membayangi IHSG

- Selasa, 12 Mei 2020 23:22 WIB
Wabah Pendemi Virus Korona Masih Membayangi IHSG

digtara.com – Wabah pendemi virus korona masih terus membayangi IHSG di pasar spot hari ini di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyusut 50,37 poin atau 1,09% ke level 4.588,73 pada Selasa (12/5).

Baca Juga:

Dari 10 indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI), tujuh di antaranya merosot pada hari ini.

Indeks keuangan mengalami penurunan terdalam 2,33%, kemudian sektor pertanian menyusut 2,10, infrastruktur 1,80%.

Aneka industri 1,80%, tambang 1,32%, konstruksi 0,60%, dan perdagangan terkoreksi 0,54%. Investor asing mencatat net sell atau penjualan bersih Rp 1,04 triliun di seluruh pasar.

Di mana saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 457,27 miliar.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 175,73 miliar, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 139,39 miliar.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, penurunan IHSG pada hari ini lantaran ada kekhawatiran pasar atas pelonggaran pembatasan sosial

Di beberapa negara dapat mengakibatkan gelombang kedua virus corona. “Ini menjadi sentimen negatif untuk pasar saham,” ujarnya.

Sementara untuk sektor keuangan yang mengalami penurunan terdalam. Hans menilai, salah satu sebabnya datang dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)

Yang memaparkan bahwa status stabilitas sistem keuangan pada kuartal pertama tahun ini menjadi waspada.

Selanjutnya, publikasi soal ikhtisar hasil pemeriksaan semester oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Yang memberikan catatan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan kepada tujuh bank secara individual tidak sepenuhnya sesuai ketentuan juga jadi sentimen negatif.

“Ini membuat investor jadi takut dengan sistem keuangan kita, dalam periode saat ini seharusnya lebih berhati-hati,” tambahnya.

Dari dalam negeri, sambung Hans, adanya peraturan mengenai bank jangkar seharusnya bisa jadi katalis positif untuk sektor keuangan.

Bank jangkar dengan aset yang cukup besar nantinya akan menyangga likuiditas bank pelaksana yang membutuhkan dana guna restrukturisasi kredit.

Lebih lanjut, ia menilai apabila pasar saham masih minim sentimen positif.

“Pelaku pasar masih menunggu realisasi pelonggaran lockdown,” ungkap Hans.[kontan]

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru