Begini Syariat Islam Tentang Memberikan Nama Pada Janin Yang Meninggal

digtara.com – Tak semua jabang bayi berhasil hidup setelah dilahirkan. Namun untuk tetap mengenang jabang bayi itu, tak sedikit yang memberikannya nama.
Baca Juga:
Lalu seperti syariat Islam melihat pemberan nama pada jabang bayi yang meninggal dunia.
Menurut Maharati Marfuah Lc, ustadzah dari Rumah Fikih Indonesia menjelaskan, sebenarnya para ulama telah membahasnya. Meski tetap ada beberapa perbedaan pendapat di antara mereka.
Jika janin telah keluar, telah ada pula tanda kehidupannya seperti bernafas, berteriak atau menangis maka ulama sepakat jika janin itu telah menjadi bayi atau manusia pada umumnya. Maka semua ulama sepakat bahwa bayi yang telah keluar dalam keadaan hidup, lantas meninggal itu diberi nama. Karena bayi itu telah memiliki ruh dan menjadi manusia.
Sedangkan janin yang meninggal dahulu sebelum keluar dari rahim ibunya disebut dengan as-siqthu (السقط). Para ulama berbeda pendapat terkait diberi nama atau tidak. Berikut uraian perbedaan pemberian nama tersebut menurut empat mazhab.
Mazhab Hanafiyyah…
Mazhab Hanafiyyah
Dalam mazhab Hanafiyyah, tak usah diberi nama jika keluar dari rahim dalam keadaan meninggal. Bayi diberi nama hanya ketika ada tanda kehidupan setelah keluar dari rahim.
Disebutkan dalam kitab Badai’ as-Shanai’:
رÙÙˆÙÙŠÙŽ عَنْ أَبÙÙŠ ØÙŽÙ†ÙÙŠÙَةَ أَنَّه٠قَالَ: إذَا اسْتَهَلَّ الْمَوْلÙود٠سÙمّÙÙŠÙŽ ÙˆÙŽØºÙØ³Ù‘ÙÙ„ÙŽ وَصÙلّÙÙŠÙŽ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ÙˆÙŽÙˆÙŽØ±ÙØ«ÙŽ ÙˆÙŽÙˆÙØ±Ùثَ Ø¹ÙŽÙ†Ù’Ù‡ÙØŒ ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ لَمْ يَسْتَهÙلَّ لَمْ ÙŠÙØ³ÙŽÙ…Ù‘ÙŽ وَلَمْ ÙŠÙØºÙŽØ³Ù‘َلْ وَلَمْ ÙŠÙŽØ±ÙØ«Ù’. وَعَنْ Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙŠÙ’Ø¶Ù‹Ø§ أَنَّه٠لَا ÙŠÙØºÙŽØ³Ù‘َل٠وَلَا ÙŠÙØ³ÙŽÙ…Ù‘ÙŽÙ‰ وَلَا ÙŠÙØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙØŒ وَهَكَذَا ذَكَرَ الْكَرْخÙيّ٠وَرÙÙˆÙÙŠÙŽ عَنْ أَبÙÙŠ ÙŠÙوسÙÙÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡Ù ÙŠÙØºÙŽØ³Ù‘ÙŽÙ„Ù ÙˆÙŽÙŠÙØ³ÙŽÙ…Ù‘ÙŽÙ‰ وَلَا ÙŠÙØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡ÙØŒ وَكَذَا ذَكَرَ الطَّØÙŽØ§ÙˆÙيّÙ. (بدائع الصنائع ÙÙŠ ترتيب الشرائع (1/ 302)
BACA JUGA: 32 Ribu Nyawa Janin Melayang, Klinik Aborsi Ilegal Digrebek Polisi
Diriwayatkan dari Abu Hanifah beliau berkata: Ketika bayi berteriak setelah dilahirkan maka diberi nama, dimandikan, dishalatkan, mewarisi dan diwarisi. Jika belum berteriak maka tak diberi nama… (al-Kasani, Badai’ as-Shanai’, 1/ 302).
Alauddin as-Samarqandi (wafat 540 H); salah seorang ulama mazhab Hanafiyyah menyebutkan bahwa tanda bayi dianggap masih hidup ketika keluar dari rahim ibunya adalah ketika berteriak atau menangis. Maka jika keluar sudah meninggal itu belum dianggap bayi.
وَلَا يصلى على من ولد مَيتا لما رÙÙˆÙÙŠÙŽ عَن النَّبÙÙŠ عَلَيْه٠السَّلَام أَنه قَالَ Ø¥ÙØ°Ø§ اسْتهلّ الْمَوْلÙود صلي عَلَيْه٠وَمن لم يستهل لم يصل Ø¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù Ù„ÙØ£ÙŽÙ† الاستهلال دلَالَة الْØÙŽÙŠÙŽØ§Ø© ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙŽÙŠÙ‘ÙØª ÙÙÙŠ عر٠النَّاس من زَالَت ØÙŽÙŠÙŽØ§ØªÙ‡ لَا يعلم أَنه خلقت الْØÙŽÙŠÙŽØ§Ø© ÙÙيه٠أم لَا Ùَلم يعلم بÙمَوْتÙÙ‡Ù ÙˆÙŽÙ„Ùهَذَا Ù‚Ùلْنَا Ø¥Ùنَّه لَا يَرث وَلَا ÙŠÙورث وَلَا يغسل وَلَا ÙŠÙØ³Ù…Ù‰ Ù„ÙØ£ÙŽÙ† هَذÙÙ‡ Ø£ÙŽØÙ’كَام الْأَØÙ’يَاء وَلم تثبت ØÙŽÙŠÙŽØ§ØªÙ‡. (تØÙØ© الÙقهاء، Ù…ØÙ…د بن Ø£ØÙ…د بن أبي Ø£ØÙ…د، أبو بكر علاء الدين السمرقندي (المتوÙÙ‰: Ù†ØÙˆ 540هـ)ØŒ 1/ 248)
… Seorang disebut mati jika diketahui sudah pernah hidup. Maka bayi yang lahir dalam keadaan tak bernyawa itu tidak mewarisi, diwarisi, dimandikan, diberi nama. Karena hukum itu berlaku untuk manusia yang diketahui hidupnya. (as-Samarqandi, Tuhfat al-Fuqaha’: 1/ 248)
Malikiyyah…
Mazhab Malikiyyah
Mazhab Malikiyyah juga berpendapat sama dengan mazhab Hanafiyyah yang tak memberi nama kepada janin ketika lahir tidak dalam keadaan masih hidup. Sebagaimana pernyataan dari Imam Malik bin Anas:
وَقَالَ مَالÙÙƒÙŒ: لَا ÙŠÙØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ عَلَى الصَّبÙيّ٠وَلَا ÙŠÙŽØ±ÙØ«Ù وَلَا ÙŠÙÙˆØ±ÙŽØ«ÙØŒ وَلَا ÙŠÙØ³ÙŽÙ…Ù‘ÙŽÙ‰ وَلَا ÙŠÙØºÙŽØ³Ù‘َل٠وَلَا ÙŠÙØÙŽÙ†Ù‘ÙŽØ·Ù ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ يَسْتَهÙلَّ ØµÙŽØ§Ø±ÙØ®Ù‹Ø§ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ بÙمَنْزÙلَة٠مَنْ خَرَجَ Ù…ÙŽÙŠÙ‘ÙØªÙ‹Ø§ (المدونة، 1/ 255)
Malik berkata: Bayi itu tidak dishalatkan, tidak mewarisi dan diwarisi, tidak diberi nama, tidak dimandikan selama tidak berteriak atau menangis. Karena bayi itu dianggap mati sebelum keluar dari rahim (Malik bin Anas, al-Mudawwanah: 1/ 255).
BACA JUGA: Tak Ada Bayi Perempuan Lahir di India Utara Dalam Tiga Bulan Terakhir
3. Mazhab Syafi’iyyah
Sedangkan mazhab Syafi’iyyah menyebutkan bahwa as-siqthu atau janin yang keluar sudah dalam keadaan meninggal tetap sunnah diberi nama. Imam an-Nawawi menyebutkan:
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَ أَصْØÙŽØ§Ø¨Ùنَا Ø§Ø³Ù’ØªÙØÙ’Ø¨ÙŽØ§Ø¨Ù ØªÙŽØ³Ù’Ù…Ùيَة٠السَّقْط٠وَبÙه٠قَالَ ابْن٠سÙيرÙينَ وَقَتَادَة٠وَالْأَوْزَاعÙيّÙ. وَقَالَ مَالÙÙƒÙŒ لَا ÙŠÙØ³ÙŽÙ…Ù‘ÙŽÙ‰ مَا لَمْ يَسْتَهÙلَّ ØµÙŽØ§Ø±ÙØ®Ù‹Ø§ وَاَللَّه٠أَعْلَم٠(المجموع Ø´Ø±Ø Ø§Ù„Ù…Ù‡Ø°Ø¨ (8/ 448)
Mazhab kita hukumnya sunnah memberi nama janin yang keluar meski sudah meninggal. Ini adalah pendapat dari Ibnu Sirin, Qatadah, al-Auza’i… (an-Nawawi, al-Majmu’: 8/ 448).
Lantas bagaimana jika janin itu tak diketahui jenis kelaminnya? Diberi nama laki-laki atau perempuan? Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyebutkan tetap diberi nama yang bisa untuk laki-laki dan perempuan. Seperti Hamzah, Thalhah, Hindun, dll.
ØªÙØ³ÙŽÙ†Ù‘٠تَسْمÙيَة٠سَقْط٠نÙÙÙØ®ÙŽØªÙ’ ÙÙيه٠الرّÙÙˆØÙ ÙÙŽØ¥Ùنْ لَمْ ÙŠÙØ¹Ù’لَمْ أَذَكَرٌ أَوْ Ø£Ùنْثَى سÙمّÙÙŠÙŽ بÙمَا ÙŠÙŽØµÙ’Ù„ÙØÙ Ù„ÙŽÙ‡Ùمَا ÙƒÙŽÙ‡Ùنْد٠وَطَلْØÙŽØ©ÙŽ. (تØÙØ© Ø§Ù„Ù…ØØªØ§Ø¬ ÙÙŠ Ø´Ø±Ø Ø§Ù„Ù…Ù†Ù‡Ø§Ø¬ØŒ 9/ 373)
Disunnahkan memberi nama as-siqthu yang telah ditiupkan ruh meski keluar dari perut ibunya dalam keadaan meninggal. Meski tak diketahui laki-laki atau perempuan. Diberi nama yang sesuai untuk laki-laki dan perempuan seperti Hamzah, Thalhah, Hindun. (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj, 9/ 373).
Meski dalam mazhab Syafi’iyyah, jika masih berupa segumpal darah atau daging maka belum disebut as-siqthu. Maksudnya jika masih berupa segumpal darah atau segumpal daging itu tak disunnahkan diberi nama, meski juga tak dilarang. Sebagaimana pernyataan dari Imam an-Nawawi al-Jawiy (w. 1316 H):
وَخرج Ø¨ÙØ§Ù„سقط٠الْعلقَة والمضغة Ù„ÙØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡Ùمَا لَا يسميان ولدا. (نهاية الزين، Ù…ØÙ…د بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا (المتوÙÙ‰: 1316هـ) ص: 156)
Tidak disebut as-siqthu jika masih berupa segumpal darah atau daging. Karena belum disebut sebagai anak manusia. (an-Nawawi al-Jawiy, Nihayat az-Zain: 156).
Hanabilah…
Mazhab Hanabilah
Mazhab Hanbali berpendapat sama dengan mazhab Syafiyyah, sebagaimana perkataan dari Ibnu Qudamah:
(ÙØµÙ„) ÙˆÙŠØ³ØªØØ¨ أن يسمى السقط لأنه يروي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “سموا أسقاطكم ÙØ¥Ù†Ù‡Ù… أسلاÙكم” رواه ابن السماك باسناده (Ø§Ù„Ø´Ø±Ø Ø§Ù„ÙƒØ¨ÙŠØ± على متن المقنع (2/ 337)
Pasal: Disunnahkan memberi nama as-siqthu atau bayi yang lahir dalam keadaan meninggal. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: Berilah nama as-siqthu kalian, karena mereka adalah orang yang telah mendahului kalian. (Ibnu Qudamah, as-Syarh al-Kabir: 2/ 337).
Meski hadis yang dijadikan sandaran oleh Ibnu Qudamah ini dianggap lemah. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya. Sebagaimana pernyataan dari Alauddin dalam kitabnya Kanzul Ummal: 16/ 423.
Wallahu A’lam
[AS]
https://www.youtube.com/watch?v=o1X66r3ek3s
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur
