Dua Kelompok Pemuda di Alor Kembali Saling Serang, Kapolres Temui Pemerintah Untuk Tuntaskan
digtara.com -Kelompok pemuda pasar bawah, Kelurahan Wetabua dan pemuda BTN (Batutanata) Kelurahan Nusa Kenari, Kabupaten Alor, NTT kembali bentrok.
Baca Juga:
Bahkan bentrok kali ini melibatkan anak dibawah umur yang merupakan siswa sekolah dasar, SMP, SMA dan anak putus sekolah.
Para anak dibawah umur ini tidak segan-segan membawa panah yang disimpan di jok sepeda motor.
Baca Juga:Ketua DPRD Kabupaten Alor, Paulus Brikmar mengakui kalau pelaku konflik atau tawuran didominasi oleh anak sekolah (SD, SMP, SMA) yang membawa senjata tajam seperti panah Ambon di dalam jok sepeda motor.
Saat pertemuan antara Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari dengan pemerintah Kelurahan Nusa Kenari dan Kelurahan Wetabua terkait aksi saling serang antara pemuda Pasar Bawah, Kelurahan Wetabua, dan pemuda BTN (Batutanata), Kelurahan Nusa Kenari, ketua DPRD Kabupaten Alor minta agar Dinas Pendidikan Kabupaten Alor dan Kepala Sekolah lebih proaktif dan bertanggung jawab dalam mengawasi anak didik karena hal ini dianggap sebagai akar masalah kemunduran moral.
Dalam pertemuan yang digelar di aula Polres Alor, Selasa (17/2/2026), politisi PKB ini juga minta agar masyarakat memahami bahwa polisi tidak bisa sembarangan melakukan tindakan "tembak di tempat" karena adanya aturan KUHP terbaru yang membatasi prosedur demi menghindari praperadilan.
Kapolres Alor sendiri menginisiasi pertemuan ini untuk mencari solusi dan rencana perdamaian dari permasalahan tersebut.
Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari menegaskan bahwa penyelesaian masalah di wilayah tersebut bukan hanya tugas pemerintah daerah, melainkan tanggung jawab bersama, khususnya bagi anggota DPRD yang mendapatkan suara di Dapil Teluk Mutiara untuk turun langsung ke lapangan.
Baca Juga:Ia mengakui ada keresahan mendalam mengenai fenomena sosial yang enggan disebut sebagai sekadar kenakalan remaja yang sulit dijelaskan perannya oleh tokoh masyarakat maupun orang tua.
"Diperlukan diskusi serius agar kejadian tersebut tidak terus berulang," tandas Kapolres.
Pasi Ops Kodim 1622/Alor, Kapten Inf Panuel Tangledang merasa miris bahwa anak-anak SMP dan SMA malah menjadi ujung tombak pemicu keributan.
Masyarakat juga cepat percaya dengan informasi liar kalau ada yanh menyerang memakai busur, padahal itu semua bohong atau hoax.
Orang tua harus lebih jeli dan cerdas dan kljangan membiarkan anak-anak mengonsumsi informasi yang salah.
"Kita harus berani menegur dan mengurus anak-anak kita sendiri sebelum masalahnya jadi terlalu besar untuk diatasi. Jangan sampai kita hanya diam melihat daerah kita hancur karena anak-anak yang mudah diprovokasi," tegasnya.
Baca Juga:Harianto Manu, ketua RW 04 Kelurahan Wetabua menyampaikan kekecewaannya soal koordinasi dengan pihak kelurahan terasa lambat, padahal warga sudah menunggu sampai malam untuk mencari solusi damai.
Masalah bentrokan sudah sangat meresahkan masyarakat di Kabupaten Alor karena melumpuhkan aktivitas dan menghambat perekonomian kita semua.
Ia minta pemerintah turun langsung ke titik lokasi di Nusa Kenari dan Wetabua mendengar langsung masalah di bawah dan segera mendamaikan suasana agar tidak ada lagi yang saling serang antar wilayah.
Para orang tua sudah berusaha aktif turun ke jalan untuk mencari dan membendung anak-anak mereka agar tidak terlibat tawuran, bahkan sempat berhasil mencegah bentrokan di malam kedua.
Warga yang mewakili masyarakat Pasar Bawah meminta maaf atas lata kasar mereka kepada aparat saat kejadian karena ingin masalah selesai dan bisa berdamai.
Baca Juga:Perwakilan masyarakat Kelurahan Nusa Kenari mengakui tawuran digerakkan oleh anak-anak yang putus sekolah karena kendala biaya.
"Anak-anak yang masih sekolah ini sebenarnya cuma kena imbas dan ikut-ikutan karena dihasut oleh mereka yang sudah tidak sekolah lagi," ujarnya
Ia menyarankan agar pemerintah membuatkan kesibukan atau lapangan kerja buat anak-anak putus sekolah misalnya dipermudah menjadi Satpam di kantor-kantor wilayah.
"Orang-orang yang mulai memancing keributan di media sosial itu harus segera diamankan sebelum masalahnya meledak jadi tawuran besar di jalanan," tandasnya.
Hal ini didukung Lurah Wetabua, Jitran Blegur agar konflik segera diakhiri sehingga masyarakat bisa memasuki bulan suci Ramadhan dengan tenang tanpa ada permusuhan.
Diusulkan pula agar dalam perdamaian harus ada kesepakatan bahwa orang tua harus bertanggung jawab penuh mengawasi anak-anak mereka, terutama yang masih di bawah umur. Jika jam 10 malam anak belum ada di rumah, orang tua wajib mencari mereka agar tidak ikut-ikutan tawuran.
Baca Juga:Warga juga meminta jaminan keamanan dari pemerintah agar aktivitas ekonomi di pasar tidak terganggu lagi karena konflik yang terjadi pada siang hari sebelumnya telah melumpuhkan aktivitas dagang ibu-ibu di pasar, sehingga mereka butuh rasa aman untuk kembali berjualan.
Hal ini didukung Camat Teluk Mutiara Nikodemus Alofani dan Penjabat Sekretaris Daerah Alor, Obeth Bolang
Pemerintah bersama Forkopimda sepakat mengeluarkan himbauan resmi agar warga tidak mudah terprovokasi isu-isu liar.
Pemerintah berkomitmen memfasilitasi anak muda yang putus sekolah atau belum bekerja untuk mengisi lowongan pekerjaan di proyek pembangunan daerah (seperti proyek dapur LPG dan koperasi), dengan harapan kesibukan bekerja akan menjauhkan mereka dari tindakan negatif.
Baca Juga:
Siswa SD di Welai dan Fanating Dapat Bantuan Perlengkapan Sekolah dari Kapolres Alor
Kapolres Alor Satukan Pemuda Sawalama dan Lipa Jelang Ramadhan
Hadiri Perayaan Natal di GKII Welai, Kapolres Alor Sampaikan Sejumlah Pesan Kamtibmas
Polres Alor Fasilitasi Penyelesaian Pemasangan Daun Pada Pintu Gereja dan Kantor Desa
Begini Penjelasan Kapolres Alor Terkait Insiden Dugaan Kekerasan Warga dan Anggota Polisi