Bisnis BBM Non Subsidi Pertamina Terganggu Penigkatan Penjualan Premium

digtara.com | MEDAN – Penjualan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi Pertamina di Sumatera Utara, mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi ini disinyalir terjadi karena banyaknya masyarakat yang kembali menggunakan Premium (RON 88).
Baca Juga:
Pertamina mencatat, konsumsi BBM jenis Premium di triwulan I-2019 mencapai 108.100 kiloliter. Meningkat dibandingkan triwulan I-2018 lalu yang hanya 97.200 kiloliter.
Sebaliknya, konsumsi BBM non premium, seperti pertalite, pertamax, pertamax turbo dan lainnya pada triwulan I tahun 2019, justru menunjukkan penurunan yaitu 329.500 kl. Sedangkan konsumsi triwulan I tahun 2018 lebih besar yaitu 333.400 kl.
Di bagian lain, konsumsi solar subsidi pada triwulan I tahun 2019 naik menjadi 251.000 kl dibandingkan triwulan yang sama tahun 2018 yang hanya 226.100 kl. Kemudian solar non subsidi seperti dexlite dan pertamina dex pada triwulan I tahun 2019 justru menurun menjadi 6.500 kl dibandingkan triwulan yang sama 2018 sebesar 11.900 kl.
Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, M Roby Hervindo mengatakan, masyarakat yang masih menggunakan BBM jenis Premium untuk keperluan kenderaan mereka, sejatinya merugi. Karena BBM jenis itu lebih boros dibandingkan Pertalite maupun Pertamax.
Seperti untuk menempuh jarak 20 km, pengguna Premium harus mengeluarkan biaya Rp. 11.727. Sedangkan dengan menggunakan Pertalite, Rp.11.769. Kalau dengan Pertamax, Rp.14.071.
“Memang menggunakan Pertalite lebih mahal Rp.42 dibanding menggunakan Premium untuk jarak tempuh 20 km. Namun dengan kualitas Pertalite, sebenarnya telah menunjukkan lebih hematnya menggunakan pertalite daripada premium untuk jarak 20 km itu,” jelasnya.
Kemudian dengan menggunakan premium, harus menanggung beban yang lebih cepat mengakibatkan kerusakan pada kendaraan bermotor.
“Rata-rata harga perawatan untuk pembersihan ruang mesin karena kerak Rp.213.000. Kemudian untuk penggantian piston antara Rp5 juta hingga Rp10 juta. Jadi sebenarnya lebih rugi pakai Premium,”tukasnya.
Pengamat Ekonomi, Fajri Siregar menyebutkan, penurunan penjualan Pertalite dan Pertamax akan terus terjadi seiring dengan kondisi perekonomian masyarakat yang juga turun naik. Apalagi ada disparitas (selisih) harga yang cukup jauh antara Premium dengan Pertalite dan Pertamax.
“Selagi masih ada margin antara subsidi dan non-subsidi, masyarakat turun naik penjualan itu akan terus terjadi. Masyarakat akan menyesuaikan belanja dengan pendapatannya. Ini biasa, tapi buruk bagi Pertamina jika terjadi dalam waktu yang lama. Perlu dilakukan sosialisasi lebih luas agar pola konsumsi BBM berkualitas, terbentuk di masyarakat,”sebutnya.
[AS]

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur
