Mesin ATM Diprediksi Bakal Punah, Ini Penyebabnya!

Jumat, 04 Maret 2022 15:50

digtara.com – Wabah virus korona yang belum usai ditambah potensi perang antara Ukraina dan Rusia turut menggeser gaya hidup masyarakat di dunia. Salah satunya, semakin menurunnya transaksi yang dilakukan di anjungan tunai mandiri (ATM)

Disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, saat ini semakin sedikit transaksi ATM yang dilakukan masyarakat. Sebagian warga semakin memilih transaksi daring sehingga keuangan digital terus berkembang pesat.

“[Terutama] dalam berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital serta akselerasi digital banking,” kata Perry dalam konferensi pers resmi.

Hingga awal tahun ini, transaksi uang elektronik mencapai 66,65% dan secara tahunan mencapai Rp 34,6 triliun. Bersamaan dengan itu, nilai transaksi digital banking meningkat 62,82% secara tahunan menjadi 4.314,3 triliun.

Baca: Mau Ambil Uang di ATM, Motor Milik Pemuda di Medan Raib Dicuri

Merujuk pada data bank sentral, nilai transaksi pembayaran menggunakan ATM, kartu debet dan kartu kredit terus mengalami pertumbuhan, meski tidak sebesar transaksi digital.

Tidak hanya itu, transaksi melalui QRIS juga meningkat bersama dengan penerimaan masyarakat baik secara nominal maupun volume masing-masing 290% yoy dan 326% yoy.

“Bank Indonesia terus mendorong inovasi sistem pembayaran serta menjaga kelancaran dan keandalan sistem pembayaran,” kata Perry.

Baca: Parah, Tarik Uang di ATM Bank BUMN Malah Dapat Uang Palsu

Secara terpisah, Ketua Perhimpunan Bank Nasinal (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, transaksi digital semakin membuat keberadaan ATM terancam.

“Tantangan bank sekarang adalah bagaimana mempensiunkan model lama contohnya ATM. Bagaimana dengan masa depan ATM, apakah masih relevan?akankah dihapus ketika tidak ada lagi transaksi transaksi tunai area publik?” ujar Kartika dalam Kartika dalam ‘side event’ G20 Indonesia “Casual Talks on Digital Payment Innovation”.

Laman: 1 2

Berita Terkait