Menag Nasaruddin: Pesantren Harus Berani Berfikir Inovatif untuk Melahirkan Pemikir Dunia yang Mampu Menjawab Tantangan Zaman
digtara.com - Menteri Agama (Menag) RI Prof. Nasarudin Umar, mendorong para kiai pengasuh pesantren agar berani mengambil langkah-langkah inovatif dan merefleksikan kejayaan Islam pada era Baitul Hikmah (700 – 1.200 M) di Baghdad sebelum dihancurkan Hulagu Khan (Mongolia)."Dulu pada era Baitul Hikmah, saat itu, integrasi ilmu berlangsung sangat luar biasa, banyak lahir ilmuwan-ilmuwan yang kompeten dan ilmunya terintegratif, " kata Prof Nasaruddin saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara silaturahmi Menteri Agama bersama para kiai dan santri pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, di masjid Annur, komplek Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Jumat (6/02/2026).
Baca Juga:
- Peringati Harlah NU ke-100 Tahun, Ali Abdul Rohman Minta Pengurus PBNU Konsen ke Basis-basis Ranting NU di Desa dan Pesantren
- Tiga Calon Ketua GP Ansor Kota Semarang Masa Khidmah 2026-2030 Ditetapkan Panitia Konfercab X
- Cetak Kader Penggerak Kerukunan dan Duta Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Muda, FKUB Muda Jateng Gelar Sekolah Kerukunan
Ilmuwan yang ilmunya terintegrasi itu, diantaranya adalah Ibnu Rus, seorang dokter spesialis bedah yang setiap pagi melakukan praktek memberikan layanan kesehatan dan seorang penulis einsklopedi kedokteran yang hingga sekarang bukunya masih jadi rujukan.
Siang harinya, Ibnu Rus dikenal sebagai filosuf yang mensyarahi pemikiran Plato dan Aristoteles, kemudian sore harinya mengkaji perbandingan madzhab dalam fikh, dan pada malam harinya mendalami dan menulis ilmu tasawuf.
Menurutnya, itu baru sebagian contoh era kejayaan keilmuan saat itu, agar pesantren mampu mewujudkan hal itu maka dibutuhkan keberanian untuk mengambil langkah-langkah atau setidaknya berfikir inovatif sebagaimana yang dilakukan orang Eropa yang berani melakukan transformasi ideologi dan gerakan pembaharuan sehingga bisa mengubah masyarakat yang semula konsumtif menjadi produktif.
Baca Juga:
"Pesantren tidak boleh takut untuk berfikir inovatif. Apalagi agama adalah faktor yang dominan di masyarakat, maka perlu diciptakan metode kajian yang mendalam agar pesantren dapat melahirkan pemikir dunia yang mampu menjawab tantangan zaman," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Menag Nasaruddin yang juga imam besar masjid Istiqlal Jakarta mengapresiasi langkah-langkah pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen yang dari generasi ke generasi terus berinovasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat dan melestarikan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ulama. (San).
Peringati Harlah NU ke-100 Tahun, Ali Abdul Rohman Minta Pengurus PBNU Konsen ke Basis-basis Ranting NU di Desa dan Pesantren
Tiga Calon Ketua GP Ansor Kota Semarang Masa Khidmah 2026-2030 Ditetapkan Panitia Konfercab X
Cetak Kader Penggerak Kerukunan dan Duta Moderasi Beragama di Kalangan Generasi Muda, FKUB Muda Jateng Gelar Sekolah Kerukunan
Wapres Gibran Bakar Semangat Kader Ansor Jateng dengan Pantun
Rakor SPPG Pesantren di Jateng. Gus Yusuf Ajak Para Kiai dan Ibu Nyai Pengasuh Ponpes Sukseskan Program MBG