Pemuda Milenial, Siap Jaga NKRI!

  • Whatsapp
(M Fajar Dalimunthe Presiden Mahasiswa UISU 2018-2019)

digtara.com | Di penghujung tahun 2018 ini, banyak pembahasan pemuda tentang pesta demokrasi,  yang identik dengan politik praktis. Politik Praktis sebenarnya tidak ada,  hanya saja banyak golongan dan tanggapan itu ada,  di karenakan demokrasi memiliki modal dan cost yang besar. Politik sebenarnya bukan identik dengan pesta demokrasi,  tetapi politik usaha bagaimana yang di lakukan oleh seorang warga negara untuk mencapai kebaikan bersama warga negara tersebut,  seperti yang di ungkapkan Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Saat ini, pembicaraan tentang Generasi Milenial, yang mana sering dihubungkan dengan para kaum muda, sehingga disebutkan dengan peristilahan Pemuda Milenial. Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Di mana dengan keakraban itu mempengaruhi dalam konstalasi perpolitikan atau pesta demokrasi dan di bidang kehidupan lainnya.

Pemuda Milenial tidak lagi keterbatasaan akan fasilitas, jarak teritorial dengan ribuan kilometer menjadi centimeter yang hanya bisa digenggam oleh satu telapak tangan. Informasi dan kondisi perpolitikan begitu cepat diakses oleh Pemuda Milenial. Untuk itu Pemuda Milenial harus cerdas dalam menyikapi suatu isu-isu dalam pesta demokrasi, sehingga tidak gampang tergiring kedalam isu-isu hoaks dan isu-isu politik identitas. Pemuda secara umumnya, dan mahasiswa secara khususnya, harus berperan sehingga tujuan bersama dalam suatu negara tercapai. Tidak lagi terjadi kerusuhan disebabkan karena pesta demokrasi. Pemuda Milenial harus dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Muat Lebih

Jika kita melihat ke belakang dalam sejarah pemuda kita, sembilan puluh tahun yang lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928, pemuda kita saat itu menunjukkan perannya dalam menyatukan sikap dan komitmen dengan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, juga tepatnya pada tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pemuda kita wakti itu menunjukkan perannya untuk mendesak kaum tua agar memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dengan menculik Bung Karno dan mendesak foundhing fathers bangsa Indonesia untuk segera melepaskan diri dari bangsa kolonial.

Belajar dari sejarah di atas, bahwa pemuda dan atau mahasiswa tidak perlu diragukan lagi dalam suatu gerakan sosial dan ide gagasan untuk memajukan bangsa ini. Maka dari itu, kita sebagai pemuda harus berbuat dan tidak diam dengan permasalahan-permasalahan bangsa hari ini. Pemuda dan mahasiswa harus berperan dalam mengingatkan masyarakat Indoensia tidak terpengaruh dengan isu-isu hoaks, politik identitas yang tidak memberikan kualitas. Pemuda dan mahasiswa yang sudah melek tekhnologi informasi dan mempunyai pemahaman tentang politik harus meluruskan bahwa politk dalam pesta demokrasi sat ini adalah ajang pertarungan gagasan dan pemikiiran untuk memajukan bangsa.

Politik identias adalah suatu gerakan politk yang dilakukan orang-orang yang tidak memiliki gagasan. Sebangsa dari politik identitas ini, dapat juga kita lihat seperti politk parakial, yaitu suatu politik yang selalu berpikir mundur untuk memajukan bangsa. Sebangsa yang lainnya adalah politik tradisonal, maksudnya adalah politik yang dijadikan sebagai alat untuk mementingkan kelompok ,  keluarga, dan kerabat. Pemikiran-pemikiran seperti ini harus di tinggalkan masyarakat Indoenesia, khususnya kaum muda yang pasti akan menggantikan kaum tua. Kaum muda harus berperan sebagai agent of change dan agent of social control untuk memberikan pemikiran baru,  tidak menjadi korban politik identitas, tidak terpengaruh oleh isu-isu bohong dan tidak mencari keuntungan yang sifatnya menghancurkan dalam politik.

Sebagaimana kita rasakan bersama, politik identitas hari ini sudah meresahkan masyarakat,  dikarenakan akan adanya gejolak komplik antar masyarakat,  ini adalah permasalahan yang harus disikapi kaum muda milenial atau mahasiswa, karena kita kaum muda masih menginginkan bangsa yang aman dan damai. Demokrasi maju menuntut kepada gerakan ”perubahan dan gagasan”  yang ideal untuk memajukan bangsa dan negara sebesar bangsa dan negara kita ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Penulis tekankan lagi, Indonesia adalah suatu negara besar dan negara yang memiliki banyak macam suku,  agama dan budaya,  ini adalah suatu kebanggaan bagi kita karena samapai hari ini masih bisa di persatukan dalam Bhinneka Tunggal Ika, di persatukan dengan Pancasila. Ini suatu kultur yang harus dijaga dan dirawat sehingga tidak adanya keterpecah belahan.

Kaum muda milenial jangan terfokus dalam menjalankan kewirausahan saja, pemuda milenial jangan terpengaruh terhadap game-game online yang diciptakan untuk menghancurkan generasi bangsa,  pemuda jangan sampai tergerus dan terbawa kedalam politik praktis untuk memperkaya diri sendiri dan satu golongan. Kaum muda milenial harus memiliki sikap untuk memberikan gagasan memajukan bangsa, ikut menjaga kultur bangsa ini,  dan harus bersatu memikirkan indonesia kedepannya. Kaum muda secara keseluruhan, lintas daerah, lintas suku, lintas agama, lintas bahasa, lintas adat dan istiadat, harus berstau dalam menghadapai masalah-masalah politik yang menghasilkan perpecahan bangsa. Kita, sebagai kaum muda harus membuat perlawanan kepada kelompok yang menghancurkan negara dan bangsa ini,  dan menyiapkan diri dalam menghadapi Bonus Demografis yang akan datang. Sehingga di 2045, Indonesia tidak bubar sebagaimana pernah disebutkan oleh salah satu tokoh politik dalam pesta demokrasi kita nanti, tetapi Indonesia menjadi negara super power,  negara maju yang di perhitungkan oleh bangsa dan negara lain. Kaum muda siap mewujudkan itu

Penulis: M. Fajar Dalimunthe

Presiden Mahasiswa UISU Periode 2018-2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan