Saroha, Edy Rahmayadi, dan Kembalinya Tradisi Emas Tinju Sumut

Kamis, 14 Oktober 2021 11:20
ist
Gubsu Edy Rahmayadi saat mengapresiasi Sarohatua Lumbantobing sesaat ia merebut medali emas PON XX Papua, Rabu (13/10/2021)

digtara.com – Tinju kerap menjadi salah satu andalan bahkan tradisi Sumatera Utara untuk meraih medali emas di arena Pekan Olahraga Nasional (PON). Namun kenyataannya, Sumut kerap kesulitan merebut emas di ajang ‘adu jotos’ itu.

Sejak lama, tradisi emas itu berlanjut dari PON ke PON hingga tradisi itu putus pada PON XIX Jawa Barat 2016 silam. Tim Sumut kehilangan jejak emas setelah hanya meraih 2 perunggu di ajang tersebut.

Jelang PON XX Papua 2020 (2021), Sumut cukup realistis dengan misi emasnya. Tak ada lagi kekuatan tinju wanita yang jadi andalan pada dua kali PON yakni 2008 dan 2012.

Baca: Viral! Raih Emas PON Papua, Atlet Asal Jabar Pulang Naik Angkot

Ketika PON XVII Kaltim 2008, Sumut mendulang emas melalui dua petinju wanita Sadarmawaty Simbolon dan Siti Aisyah.

Petinju wanita pula yang menjaga tradisi emas Sumut pada PON XVIII Riau 2012 silam. Nurmala Deli meraih medali emas dan Maduma Simbolon merebut perak.

Sumut kehilangan ‘sayap’ kekuatan tinju wanita sejak PON Jabar 2016 dan berlanjut hingga PON XX Papua.

Jelang PON XX Papua, Ketua Pengprov Pertina Sumut Romein Manalu sempat mengungkapkan target 3 medali emas melalui Frans Rosevelt di kelas 46 kg putra, kemudian Sarohatua Tobing di kelas 69 kg putra, dan Daniel Pasaribu di kelas 81 kg putra.

Sementara Abu Sopyan kelas di 56 kg putra, Panji Ramadhan di kelas 60 kg putra, dan Suzen Ramsi Simangunsong di kelas 51 kg putri sudah diprediksi sulit bersaing sejak awal.

Apesnya, Daniel Pasaribu yang semestinya bisa bicara banyak di PON kali ini, malah keok di laga awal atas petinju Sulut Christian Toar Sompotan. Padahal, jika sekali menang, medali perunggu sudah di tangan.

Performa Apik Saroha dan Dorongan Gubsu

Laman: 1 2 3

Berita Terkait