Wujud Tingginya Toleransi di NTT, Umat Berbeda Agama Saling Bantu Bangun Rumah Ibadah

Selasa, 08 November 2022 17:29

digtara.com – Toleransi antar umat beragama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih indeks tertinggi di Indonesia dengan salah satu contohnya yaitu budaya pembangunan suatu rumah ibadah yang juga melibatkan umat dari agama lainnya.

Hal ini membuat kagum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Deli Serdang Sumatera Utara (Sumut) yang melakukan studi banding di NTT, Senin (7/11/2022).

Kunjungan rombongan FKUB Deli Serdang ini diterima oleh Kepala FKUB NTT, Dr Yuliana Salosso di tempat kerjanya dan dilakukan diskusi bersama.

Sisilia Sona, salah satu pengurus FKUB NTT menyebut akan ada pertemuan antara para pemuka agama dari agama lainnya maupun masyarakat umat lain untuk membangun suatu rumah ibadah bersama-sama.

“Karena kita ini semua saudara. Kita berbeda keyakinan tetapi satu dalam Pancasila,” ungkap dia.

Pemerintah NTT, FKUB, maupun para pemuka agama selalu menerapkan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi riak konflik agama di tengah masyarakat.

“Apalagi soal pendirian rumah ibadah. Tidak ada persoalan soal itu,” ungkap dia.

Ia menyebut di masyarakat sendiri telah memiliki kultur saling menghargai hingga dengan saling membantu bila ada umat dari agama lainnya yang ingin mendirikan rumah ibadah.

Untuk itu menurutnya tidak heran kondisi seperti ini terjadi di NTT, misalnya pembangunan masjid dilakukan bersama kaum nasrani pun sebaliknya kaum muslim terlibat membangun gereja.

“Di daerah lain mungkin ini menjadi suatu persoalan besar akhir-akhir ini tetapi di NTT tidak terjadi seperti itu,” tambah dia.

Muhammad Marhaban yang juga mantan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Alor turut menyampaikan ini.

Berdasarkan pengalamannya saat bertugas di Alor selama 8 tahun seringkali ditemui semangat gotong royong antara umat beragama.

Kekeluargaan ini ditunjukkan juga saat pembangunan rumah ibadah yang juga dibantu oleh umat dari agama lainnya secara gotong royong.

“Saat ada yang mau membangun masjid pun dari nasrani bawakan kayu, seng atau apapun yang mereka mampu. Juga begitu nanti bila ada pembangunan gereja. Saudara-saudara muslim juga terlibat,” ungkap dia.

Ia juga mencontohkan Masjid Al Muttaqin dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Kota Kupang yang berdampingan dan selalu rukun selama ini.

Ia sendiri merupakan Ketua Yayasan Masjid Al-Muttaqin Kupang dan menjadi saksi bagaimana toleransi tersebut sangat berjalan baik di Kota Kupang.

“Jarak antara rumah ibadah kami hanya tiga meter dan kita seringkali berbagi parkiran bersama untuk hari-hari raya besar,” ungkap dia.

Pada saat-saat hari besar keagamaan seperti saat Shalat Ied maka kaum nasrani akan bertugas mengawal ibadah tersebut.

Bila saat Natal maka kaum muda muslim yang akan menjaga ibadah bagi kaum nasrani ini.

Ketua FKUB Deli Serdang Sumut, H. Waluyo beberapa kali menyampaikan kekagumannya atas toleransi dan kerukunan yang begitu baik di NTT.

Menurutnya kunjungan untuk studi banding ke Provinsi NTT ini diarahkan langsung oleh Bupati Deli Serdang dan telah membuat mereka banyak belajar dari NTT soal toleransi.

“Tidak salah memang kita ke NTT yang tertinggi indeks kerukunan umat beragamanya di Indonesia. Kita akan pelajari banyak hal dan nantinya kita akan lihat langsung adanya gereja dan masjid di Kota Kupang yang berdampingan itu,” ungkap Waluyo.

Berita Terkait