Jumat, 26 Juli 2024

Puluhan CTKI Ilegal Dipulangkan ke Daerah Asal

Imanuel Lodja - Selasa, 02 Mei 2023 04:35 WIB
Puluhan CTKI Ilegal Dipulangkan ke Daerah Asal

digtara.com – 41 orang calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) ilegal dipulangkan ke daerah asalnya, Senin (1/5/2023).

Baca Juga:

Mereka diamankan polisi karena hendak ke luar negeri tanpa dokumen resmi.

Penyerahan 41 orang CTKI ilegal dilakukan penyidik Ditreskrimum Polda NTT ke Dinas Nakertrans Provinsi NTT.

Baca: Puluhan CTKI Ilegal Diamankan Polisi

Ada 5 orang CTKI perempuan dan 36 orang CTKI laki-laki yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Di kantor dinas Nakertrans Provinsi NTT, puluhan CTKI ini diterima Kabid ketenaga kerjaan, Thomas Suban.

Para CTKI tersebut diberangkatkan ke kabupaten TTS menggunakan 2 unit bus yang diantar langsung oleh perwakilan Dinas Nakertrans provinsi NTT.

Para CTKI ilegal tersebut langsung diserahkan ke Dinas Nakertrans kabupaten TTS di kantor bupati TTS.

Terpisah Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Ariasandy, SIK mengakui kalau 41 orang pekerja migran Indonesia ilegal ini sudah diambil keterangannya oleh penyidik Ditreskrimum Polda NTT.

Dari hasil pemeriksaan ini ditemukan fakta vahwa perekrut Melki Missa telah melakukan perekrutan secara ilegal terhadap 41 orang CTKI asal Kabupaten TTS.

Dari 41 CTKI ini, dua diantaranya masih dibawah umur yakni MT berusia 14 tahun dan IN berusia 17 tahun.

Para CTKI juga diminta oleh perekrut Melki Missa untuk membayar masing- masing orang sebesar Rp 1.000.000.

“Jika mau berangkat bekerja di perusahaan perkebunan PT Usahawan Borneo Malaysia maka setiap calon tenaga kerja menyetor uang Rp 1 juta ke perekrut,” ujar Kabid Humas, Selasa (2/5/2023).

Perekrut juga rencananya akan membawa calon tenaga kerja ilegal dari Kupang menggunakan kapal laut dengan tujuan Nunukan Kalimantan Utara.

Kemudian para calon tenaga kerja ilegal ini berangkat lagi dari Nunukan dengan menggunakan speed boat dengan tujuan Tawau Sabah Malaysia tanpa melalui pintu pemeriksaan Imigrasi.

“Perkembangan penyidikan kasus ini sudah naik dari lidik menjadi sidik dan selanjutnya akan menetapkan tersangka,” tambah Kabid Humas.

Dari hasil hasil penyidikan, terlapor Melki Missa diduga telah melakukan tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), pasal 10 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Dari pengembangan kasus ini tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yang turut terlibat,” tandas Kabid Humas Polda NTT.

Aparat keamanan dari Subdit IV/Renakta Ditreskrimum Polda NTT mengamankan 41 orang calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) bersama satu orang perekrut.

Puluhan CTKI ilegal ini diamankan di Kabupaten Lembata dan Kota Kupang pada Sabtu (29/4/2023) dan Minggu (30/4/2023).

Awalnya polisi mengamankan 16 orang terdiri dari 15 orang CTKI dan satu orang perekrut di pelabuhan Tenau Kota Kupang.

Sementara 25 orang lagi diamankan di Lewoleba, Kabupaten Lembata pada Minggu (30/4/2023).

Namun 40 orang CTKI dan satu orang perekrut sudah diamankan di Polda NTT dan ditangani penyidik subdit IV Ditreskrimum Polda NTT.

15 orang CTKI yang diamankan polisi di Pelabuhan Tenau kota Kupang akhir pekan lalu berasal dari kabupaten Malaka, Timor Tengah Selatan (TTS), Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Ikut diamankan satu orang perekrut yakni Melki Misa (38), warga Desa Kualeu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten TTS.

Pada Sabtu (29/4/2023) sekitar pukul 19.15 wita, 15 CTKI dan satu perekrut diamankannya di Pelabuhan Tenau Kupang.

Mereka rencananya akan diberangkatkan ke Sabah – Malaysia melalui Nunukan menggunakan kapal laut KM Bukit Siguntang.

Pihak KP3 Laut Tenau melaporkan ke Ditreskrimum Polda NTT dan Satgas PPMI dari Dinas Nakertrans Propinsi NTT.

Polisi dan tim Satgas PPMI langsung mengamankan 15 orang dan 1 orang perekrut beserta KTP dan tiket keberangkatan kapal laut Bukit Siguntang.

Diperoleh informasi kalau 15 orang tersebut diberangkatkan tanpa adanya prosedur yang lengkap. Hanya bermodalkan KTP.
Dari 15 orang tersebut, ada 1 orang CTKI yang masih berumur 17 tahun 2 bulan.

Perekrut mengatasnamakan PT Usahawan Borneo yang berada di Sabah–Malaysia.

Saat itu, CTKI yang diberangkatkan sebenarnya ada 40 orang.
Namun yang berhasil diamankan saat itu hanya 15 orang dan 1 orang perekrut.

Sementara 25 orangnya sudah berhasil naik ke KM Bukit Siguntang dan sudah berangkat sebelum diketahui oleh petugas di Pelabuhan Tenau Kupang.

Mereka berangkat ke Lewoleba Kabupaten Lembata.

Selanjutnya pihak Polda NTT meminta bantuan Polres Lembata mengamankan 25 orang CTKI karena sudah terlanjur berlayar dengan KM Bukit Siguntang.

Minggu (30/4/2023), sekira pukul 03.10 wita diamankan 25 CTKI di Pelabuhan Lewoleba Kabupaten Lembata diatas KM Bukit Siguntang.

25 orang CTKI ini dibawa ke Polres Lembata untuk pemeriksaan.
Dari 25 orang CTKI ini, terdapat 1 orang anak dibawah umur yakni Marter Tamonob (15) yang berasal dari Oenlasi Kabupaten TTS.

Jemi Kobi, salah satu CTKI yanh berasal dari Bimeta, Kabupaten TTS mengaku kalau ada 41 orang yang hendak berangkat, namun perekrut dan 15 CTKI diamankan di pelabuhan Tenau Kupang sedangkan 25 CTKI lainnya sudah berhasil naik ke KM Bukit Siguntang menuju pelabuhan Lewoleba.

Minggu malam, puluhan CTKI ini dipulangkan dengan kapal laut.
Pemulangan tersebut menggunakan kapal laut KM Umsini jurusan Pelabuhan laut Makasar, Pelabuhan laut Maumere, pelabuhan laut Larantuka, Pelabuhan laut Lembata menuju Pelabuhan laut Tenau Kupang.

25 CTKI Ilegal asal Kabupaten TTS itu terdiri dari laki-laki dewasa 20 orang, laki-laki (anak dibawah umur 15 tahun 1 orang) dan perempuan dewasa 4 orang.

Puluhan CTKI ilegal ini sebelumnya ditahan tim Gabungan Polres Lembata ketika KM Bukit Siguntang tiba di Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata pada Sabtu subuh pukul 04.00 Wita.

Para pekerja ini hendak bekerja di perkebunan pohon pembuat kertas di Tawau Malaysia.

Melki Misa selaku perekrut mengaku kalau ia sudah pernah bekerja di perusahaan kertas di PT Usahawan Borneo di bidang kayu pembuatan kertas tersebut selama 3 tahun dari tahun 2019 sampai tahun 2022.

Rencananya, tiba di Nunukan mereka akan menggunakan speedboat menuju Tawau dengan lama perjalanan sekitar 4 jam dan biaya per orang untuk menyewa speedboat tersebut sebesar Rp 750.000.
Jika sudah tiba di Nunukan, pihak perusahaan PT Usahawan Borneo akan mentransfer uang biaya sewa speedboat tersebut.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Arie
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo

Komentar
Berita Terbaru