LPA NTT Minta Calon Pendeta Pelaku Cabul di Alor Dihukum Berat

Kamis, 22 September 2022 06:41
int
Ilustrasi

digtara.com – Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronika Ata mengecam aksi kekerasan seksual yang dilakukan seorang calon pendeta (Vikaris), terhadap 14 orang anak di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. LPA juga meminta oknum calon pendeta pelaku cabul tersebut dihukum berat.

Menurut Veronika Ata, kekerasan seksual yang menimpa 14 orang patut dikecam.

Pasalnya, ditengah perjuangan pemerintah, masyarakat dan berbagai aktivis untuk menghentikan kekerasan seksual, justru terjadi banyak anak menjadi korban.

Baca: Jadi Tersangka Pencabulan Belasan Anak di Alor, GMIT Batalkan Pentahbisan SAS sebagai Pendeta

Sehingga untuk perlindungan terhadap para korban, maka perlu mendapatkan layanan psikologis dan didampingi agar mereka memperoleh kekuatan dan pemulihan. Anak-anak yang menjadi korban tersebut harus dilindungi identitasnya dan tidak persalahkan mereka.

“Kami mengecam kejahatan seksual yang terjadi pada 14 orang anak dan remaja ini, apalagi oleh seorang vikaris,” katanya, Rabu (21/9/2022).

Baca: Polisi Janjikan Ini kepada Korban Pencabulan Calon Pendeta di Alor Yang Belum Melapor

Ia menegaskan, pelaku wajib diproses secara hukum dan dikenai pasal berlapis, agar mendapat hukuman maksimal atau seberat-beratnya untuk memberikan rasa keadilan bagi para korban maupun efek jera bagi pelaku.

Penerapan pasal pidana terhadap pelaku, antara lain UU Perlindungan Anak, KUHP dan secara khusus UU Tindak Pidana Kekerasan seksual.

“Selain hukuman kebiri yang diatur oleh UU Perlindungan anak, pelaku dapat dikenakan pasal 12 UU no. 12/ tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS),” pinta Veronika Ata.

Laman: 1 2

Berita Terkait