Kasus Guru Hukum Siswa Benturkan Kepala ke Tembok Segera Disidangkan

Rabu, 27 Juli 2022 13:28
ist
Kasus Guru Hukum Siswa Benturkan Kepala ke Tembok Segera Disidangkan

digtara.com – Tindak pidana penganiayaan anak oleh guru yang menyuruh murid membenturkan kepala pada dinding tembok sekolah di Kabupaten Kupang dinyatakan lengkap atau P21. Guru hukum siswa benturkan kepala.

Kasus dengan korban Imanuel Frama (15) pun segera disidangkan.

Kasus ini terjadi pada tanggal 10 Februari 2022 lalu di ruang kelas 9 SMPN 5 Satu Atap Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang yang dilaporkan ke unit SPKT Polres Kupang ini sesuai dengan laporan polisi nomor LP/B/39/II/ Polres Kupang /2022, tanggal 13 Februari 2022.

Baca: Keluarga Menolak Damai, Kasus Guru Hukum Siswa SMP Benturkan Kepala ke Tembok Berlanjut

Penyidik melakukan olah TKP dan melakukan sejumlah penyelidikan / penyidikan sesuai Surat Perintah penyidikan nomor SP Sidik/ 35 / IV /2022/Sat Reskrim, tanggal 28 Maret 2022.

“Ditemukan adanya dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka Cornalius Oktavianus Lenati,” ujar Kapolres Kupang, AKBP FX Irwan Arianto, SIK MH, Rabu (27/7/2022).

Kepala Unit PPA Satreskrim Polres Kupang Ipda Joesteve Christian Fortuna S.Tr.K didampingi Aipda Mesak Manimoi S.Ap di Polres Kupang menerangkan bahwa kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap sesuai dengan Surat Kepala Kejaksaan Kabupaten Kupang Nomor: B – 641/ N.3.25 / Eoh . 1 / 05 / 2022.

Penyidik PPA Polres Kupang yang diwakilkan kepada Aipda Stefanus Eko Wahyudi, menyerahkan tersangka ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang diterima jaksa peneliti Bangkit Y. P Simamora, SH.

Tersangka dijerat pasal 76 C jo pasal 80 ayat ( 1 ) Undang-undang RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.01 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 3 tahun 6 bulan atau denda paling banyak Rp 72.000.000.

Conalius Lenati alias Cornel, guru SMP 5 Satu Atap Nunkurus kabupaten Kupang, NTT sudah berupaya melakukan pendekatan terhadap keluarga siswa yang mendapat hukuman membenturkan kepala di tembok.

Pendekatan disertai permohonan maaf ini dilakukan Cornel bersama kepala sekolah, Thobias Fanggi dan seluruh guru.

Namun upaya itu mendapat penolakan dari pihak keluarga korban.

Cornel sendiri selain sebagai guru kelas untuk mata pelajaran olahraga juga berperan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan pembinan OSIS.

Cornel membenarkan kalau ada dua siswa yang mendapatkan hukuman yakni Imanuel Frama (15) dan Yufardi Sayuna (14), siswa kelas IX.

Belakangan kasus kekerasan dalam ruang kelas ini dilaporkan Imanuel Frama ke polisi di Polres Kupang.

Cornel beralasan kalau hukuman yang diberikan sebagai bentuk penertiban dan sanksi.

Ia mengaku kalau sekolah dan orang tua siswa sudah membuat kesepakatan bahwa siswa diberikan kesempatan untuk meminjam buku untuk dipakai saat pembelajaran secara online di sekolah.

“Jika buku rusak berat dan hilang maka siswa dan orang tua wajib menggantinya,” tandas Cornel.

Laman: 1 2

Berita Terkait