Gaharu Asal Bahorok Tembus Pasar Eropa dan Timur Tengah

Sabtu, 17 September 2022 16:04

digtara.com – Petani pohon Gaharu asal Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara kini mulai bernafas lega. Setelah sepuluh tahun lebih menanam, akhirnya, pohon tersebut memasuki masa panen.

H Mahmudin Sani, salah seorang petani Gaharu asal Bahorok mengatakan, budidaya pohon gaharu, petani di Kecamatan Bahorok terkendala dengan biaya yang minim.

“Ini kan membutuhkan biaya yang sangat besar. Apalagi jangka waktu panen itu juga lama, sampai 10 tahunan. Nah, kita ini sebagai petani Gaharu terkendala dengan biaya saja, sebab jangka waktu panennya cukup lama,” jelasnya, Sabtu (17/9/22).

Pohon Gaharu hasil budidaya sangat berbeda dengan Gaharu hutan. Dalam waktu 10 tahun, Gaharu budidaya sudah dapat di panen, sementara Gaharu hutan bisa mencapai 15 hingga 20 tahunan baru dapat dipanen.

“Kalau Gaharu hutan memang lama baru bisa di panen, sangat berbeda dengan Gaharu budidaya punya. Kalau untuk harum dan wanginya sama,” pungkasnya.

Saat ini, lanjutnya, harga Gaharu tergolong mahal. Perkilogramnya, berkisar Rp 200 ribu, hingga mencapai Rp. 10 juta, tergantung dari kualitasnya.

“Budidaya pohon Gaharu terbilang cukup mudah untuk di tanam. Namun sayangnya, pohon Gaharu budidaya ini membutuhkan biaya besar untuk menjadikan batang pohonnya memiliki gumbal yang bernilai ekonomis,” terangnya.

Saat ini, lanjutnya, batang Gaharu ini dijual ke Eropa dan Timur Tengah untuk dipergunakan sebagai bahan utama membuat minyak wangi dan pewangian lainnya.

“Ini barang ekspor. Jika kualitas bagus, makan akan bagus pula harganya. Semakin hitam batangnya, maka akan semakin bagus kualitas batangnya dan harga tentu akan lebih tinggi,” cetusnya.

Berita Terkait