Ciutan Faisal Basri: Luhut Pandjaitan Lebih Berbahaya dari Virus Korona

Sabtu, 04 April 2020 08:30
Ilustrasi: Faisal Basri vs Luhut Pandjaitan.[net]
Ciutan Faisal Basri: Luhut Pandjaitan Lebih Berbahaya dari Virus Corona

digtara.com – Seorang Ekonom Indonesia, Faisal Basri mencuit keras di media sosialnya Twitter, Jumat (3/4/202) kemarin. Ada apa ya?

Cuitan ini ditujukan langsung ke Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Investasi yang juga Plt Menteri Perhubungan Luhut Binsar Pandjaitan.

Isinya: “Luhut Panjaitan lebih berbahaya dari coronavirus COVID-19,” kicau Faisal lewat Twitter, Jumat (3/4).

Twitt ini tersiar pukul 6.34 PM. Sontak cuitan ini di dicuitkan atau disiarkan sebanyak 11.400 retweet dan disukai 21.700 pada pukul 12.00 PM.

Cuitan ini juga lagi langsung memantik balasan panjang dari para follower Faisal Basri, mulai dari mengingatkan Faisal bisa di Said Didukan, sampai pujian bahwa cuitan ekonom senior Faisal Basri ini cadas.

Hanya menyisir cuitan Faisal, fakta perlu disampaikan ke publik. Hanya Faisal tak menyebut alasan Luhut lebih berbahaya dari corona.

Namun dari sisiran akun Twitte Faisal, cuitan ini terkait ucapan Luhut bahwa virus corona tak kuat dengan cuaca di Indonesia.

Dari hasil modelling, cuaca Indonesia, ekuator ini panas, dan itu untuk COVID-19 enggak kuat,” kata Luhut usai rapat dengan Jokowi.

Keuntungan cuaca di Indonesia memang acap Luhut sebut dalam beberapa komentar Menko Maritit ini. Misal, Selasa (31/3) lalu, kata Luhut.

“Indonesia diuntungkan dengan temperatur tinggi pada April. Humidity (kelembaban) tinggi (mem)buat COVID-19 relatif lemah daripada di tempat lain,” ujarnya.

Bahkan, Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet terbatas secara online, Kamis (2/4) juga sempat menyebut kalau musim panan saat ini akan sangat mempengaruhi berkembangnya COVID-19 ini.

Padahal, tim peneliti Harvard Medical School berpendapat, virus corona tidak terlalu sensitif terhadap iklim wilayah.

Penularan SARS-CoV-2—virus penyebab COVID-19—di wilayah beriklim tropis seperti Guangxi dan Singapura menunjukkan bahwa suhu dan kelembaban udara yang tinggi tidak menyebabkan penularan corona menurun.

Studi lain dari dua pakar ilmu komputer Massachusetts Institute of Technology menunjukkan, virus corona mungkin memang tidak dapat menyebar secara efisien di wilayah dengan suhu dan kelembaban udara tinggi.[kontan]

Berita Terkait