BBM Naik Harga Karet di Langkat Anjlok, Warga Batang Serangan: Ini Sungguh Tidak Adil

Senin, 05 September 2022 16:15
ist
BBM Naik Harga Karet di Langkat Anjlok, Warga Batang Serangan: Ini Sungguh Tidak Adil

digtara.com – Pasca naiknya harga BBM, kini petani karet (getah rambung) di Indonesia, khususnya di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat merasa cemas dengan keadaan tersebut. Bagaimana tidak, di saat harga BBM saat ini melambung tinggi, di saat itu pula harga karet mengalami penurunan. Harga Karet Langkat Anjlok

Sudariono (48) warga Dusun XI Utara, Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan mengatakan, naiknya harga BBM di tengah kenaikan harga bahan pangan juga membuat dirinya selaku petani karet semakin merasa sengsara karena harga karet mengalami penurunan yang cukup drastis.

“Di tempat saya harga karet mengalami penurunan kurang lebih sejak awal bulan Agustus lalu. Harga karet yang semula bisa mencapai Rp. 9500 perkilogramnya untuk karet kering dan Rp. 8000 perkilogramnya untuk karet basah, saat ini harga karet kering hanya Rp. 7000 dan karet basah Rp. 5000,” ujarnya, Senin (5/9/2022).

Baca: BBM Naik, Pedagang Bensin Eceran di Medan Juga Naikkan Harga Jadi Rp12 Ribu

Bapak empat anak itu mengeluh bukan tanpa ada landasan atau alasan, dirinya mengeluh bingung mau makan apa karena memang harga-harga bahan pokok dan BBM yang semuanya naik tidak sebanding dengan penghasilan harian dan mingguannya sebagai petani karet.

“Kami sangat membutuhkan BBM untuk kendaraan yang kami bawa untuk pulang pergi ke ladang guna menderes dan menyadap karet. Kenaikan harga BBM ini tentu benar-benar membawa dampak bagi petani karet. Kami terpaksa harus lebih pandai-pandai mengatur pengeluaran dan mencukup-cukupkan pendapatan agar tetap bisa makan dan mencukupi kebutuhan anak-anak kami sehari-hari,” pungkasnya.

Dirinya pun berharap agar harga karet tetap stabil. Hal ini demi keberlangsungan petani karet untuk menghidupi keluarganya. Jika harga karet masih terus dibawah standar, dikhawatirkan, seluruh petani karet akan gulung tikar akibat besarnya biaya operasional.

Laman: 1 2

Berita Terkait